Pasal Ketiga : Beriman Kepada Uluhiyah Allah Subhanallahu wa ta’ala Terhadap Seluruh Makhluk

Pasal Ketiga:

Beriman Kepada Uluhiyah Allah Subhanallahu wa ta’ala Terhadap Seluruh Makhluk

 

Seorang Muslim beriman kepada uluhiyah [Uluhiyah artinya keberhakan Allah untuk disembah dan diibadahi. Uluhiyah Allah, artinya hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, diagungkan, dimuliakan dan disucikan.] Allah terhadap seluruh makhluk, dan bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sembahan yang hak selain Allah. Yang demikian itu berlandaskan dalil agli dan ‘agli di bawah ini, dan karena hidayah Allah kepadanya. Sebab, siapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka dialah orang yang mendapat hidayah; dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tiada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

> Dalil-dalil Naqli

  1. Kesaksian Allah sendiri, kesaksian para malaikat dan orang- orang yang berilmu (ulama) atas keuluhiyahan Allah sebagaimana ditegaskan di dalam Surat Ali Imran,

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”
(Ali Imran: 18).

  1. Informasi dari Allah Subhanallahu wa ta’ala tentang hal itu yang dimuat pada beberapa ayat al-Qur’an, seperti di dalam FirmanNya,

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ

“Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Hidun kekal, lagi terus menerus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidal tidur.”
(Al-Baqarah: 255).

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
(Al-Baqarah: 163).

Allah berfirman kepada Nabi Musa,

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ

“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(Thaha: 14).

FirmanNya kepada Nabi Muhammad ,

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah.” (Muhammad: 19).

Dia juga berfirman seraya memberitakan tentang DiriNya,

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ، هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ

“Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melain- kan Dia. Dzat Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata; Dia-lah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah, Yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci.”
(Al-Hasyr: 22-23).

  1. Berita dari para rasul tentang keuluhiyahan Allah Subhanallahu wa ta’ala dan seruan mereka kepada seluruh kaumnya agar beriman kepada uluhiyahNya serta beribadah dan menyembah hanya kepada Allah semata, dengan tidak mempersekutukanNya dengan apa pun. Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam berkata,

يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia.” (Al-A’raf: 59).

Demikian pula ucapan Nabi Hud, Nabi Shalih dan Nabi Syu’aib. Semua mengatakan kepada kaumnya, { يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ} “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia.” (Al-A’raf: 65, 73, 85).

Nabi Musa berkata kepada Bani Israil,

اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْكُمْ اِلٰهًا وَّهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

“Patutkah aku mencari tuhan untukmu selain Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)?”
(Al-A’raf: 140).

Nabi Musa mengatakan itu kepada Bani Isra il tatkala mereka meminta kepadanya agar membuatkan sembahan berupa patung untuk mereka yang akan mereka sembah.

Nabi Yunus di dalam bertasbih mengucapkan,

 اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang-orang yang zhalim.”
(Al-Anbiya’: 87).

Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam di dalam tasyahhud mengucapkan,

أَشْهَدُ أَنْلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ.

“Aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya.”?

>Dalil-dalil ‘Aqli

  1. Sesungguhnya rububiyah Allah yang tidak diperdebatkan itu mempunyai konsekuensi yang mengharuskan keuluhiyahanNya. Sebab, Rabb yang dapat menghidupkan dan mematikan, memberi dan mena- han pemberian, mendatangkan manfaat dan menurunkan marabahaya, Dia-lah yang berhak disembah dan diibadahi oleh seluruh makhluk, Dia-lah yang wajib disembah oleh mereka, ditaati dan dicintai, dia- gungkan dan disucikan, diharapkan dan ditakuti.”
  2. Kalau semua makhluk ini berada di bawah rububiyah Allah Subhanallahu wa ta’ala yang bermakna, bahwa setiap makhluk merupakan bagian dari ciptaanNya, Dia yang memberinya rizki, Dia yang telah mengatur seluruh perihalnya dan Dia pula yang menjalankan semua keadaan dan urue an mereka, maka bagaimana bisa masuk akal kalau mereka mempertuhankan dan menyembah sesuatu di antara makhluk ciptaanNya yang bergantung kepadaNya? Karena itu, apabila sudah dipastikan bahwasanya tidak ada makhluk yang dapat dijadikan tuhan atau sembahan. maka secara pasti dapat ditegaskan bahwa sang Pencipta yang telah menciptakan semua makhluk inilah Tuhan Yang Hak dan sembahan yang benar.
  3. Sifat-sifat kesempurnaan yang absolut yang dimiliki Allah, seperti Mahakuat lagi Mahakuasa, Mahatinggi lagi Mahabesar, Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, Mahahalus lagi Maha Mengetahui, semua itu mengharuskan penghambaan dan kepatuhan hati manusia kepadaNya dengan penuh rasa cinta dan pengagungan, dan mengharuskan penghambaan seluruh anggota tubuh kepadaNya dengan penuh rasa taat dan tunduk.

 

 

Disalin ulang dari: Kitab Minhajul Muslim Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jajairi Edisi Indonesia, Cetakan XV Jumadil ula 1437H/2016M, Darul Haq Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: