ARTIKELTafsir Al-Qur'an

Tafsir Surat Al-Ma’aarij {Bagian 2}

Al-Ma’aarij, Ayat 19-35

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا، اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا، وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا، اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ، الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَ، وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ، لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ، وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ، وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ، اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ، وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ، اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ، فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ، اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ ۗ

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh (19) Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah (20) dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir (21) kecuali orang-orang yang melaksanakan salat (22) mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya (23) dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu (24) bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta (25) dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan (26) dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya (27) sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya) (28) dan orang-orang yang memelihara kemaluannya (29) kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela (30) Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina, homoseks dan lesbian), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (31) Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya (32) dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya (33) dan orang-orang yang memelihara salatnya (34) Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (35)

Manusia Yang Selalu Berkeluh Kesah [Dan Kikir]

Allah Subhanallahu wa ta’ala mengabarkan tentang manusia dan kerendahan akhlak yang menjadi tabi’atnya, { اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا} “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. “Kemudian Dia menjelaskannya dengan firman-Nya, { اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا } “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,”yakni jika dia ditimpa kesulitan maka dia akan terkejut, sangat takut, seakan-akan jantungnya copot karena ketakutannya yang besar dan pesimis tidak mendapatkan kebaikan setelahnya.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا } “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,” maksudnya bila dia mendapatkan nikmat dari Rabb-nya maka dia kikir kepada sesamanya dan tidak menunaikan hak Allah padanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda:

شَرُّ مَا فِيْ رَجُلٍ: شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

“Seburuk-buruk perkara pada seseorang adalah kekikiran yang disertai kegelisahan dan ketakutan yang berlebihan.”
HR. Abu Dawud dari ‘Abdullah bin al-Jarrah dari Abu ‘Abdirrahman al-Muqri. ‘Abdul ‘Aziz tidak mempunyai hadits di Abu Dawud selainnya.”

Pengecualian Orang-Orang Yang Sha- Lat Dari Keluh Kesah Dan Sifat Kikir, Serta Keterangan Tentang Amal-Amal Dan Shalat Mereka

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ } “Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. “Maksudnya: Dilihat dari sisi dia sebagai manusia, maka ia memiliki sifat-sifat buruk (berupa keluh kesah dan kikir), kecuali yang dijaga oleh Allah, dibimbing dan diberi taufik oleh-Nya kepada kebaikan. Mereka pun dimudahkan untuk mengamalkan sebab-sebab untuk mendapatkan hidayah dan taufik-Nya itu.

Mereka adalah orang-orang yang mendirikan shalat. { الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَ } “Yang mereka itu tetap mengerjakan shalat- nya.” Ada yang mengatakan bahwa artinya: mereka menjaga waktu pelaksanaannya dan memelihara kewajiban-kewajibannya. Demi- kianlah pendapat Ibnu Mas’ud, Masruq dan Ibrahim an-Nakha’i.”

Ada pula yang mengatakan bahwa maksud دَاۤىِٕمُوْنَ ‘tetap menger- jakan’ di ayat ini adalah tenang dan khusyu’, sebagaimana firman-Nya, { قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ } “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu” dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’-minuun: 1-2) Demikianlah pendapat “Uqbah bin ‘Amir.

Kata daa-im yang mengandung arti tenang terdapat dalam perkataan Arab ‘al-maa-ud daa-im’ yang berarti air yang tenang orang dan diam (tidak mengalir). Ini pun menunjukkan kewajiban thuma’- ninah (tenang, tidak terburu-buru) dalam shalat. Oleh karena itu, orang yang tidak thuma’-ninah ketika ruku’ atau sujud, berarti dia tidak khusyu’ di dalam shalatnya, karena dia tidak tenang, akan tetapi dia hanya mematuk-matuk seperti burung gagak. Yang seperti ini tidak beruntung dalam shalatnya.

Ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang jika mereka mengamalkan sesuatu, maka mereka menetapinya dan terus-menerus melakukannya, sebagaimana yang tercatat dalam hadits shahih dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Perbuatan yang paling disukai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit.”

Firman-Nya, { وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ} “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) orang yang yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). “Yakni mereka menunaikan hak-hak hartanya bagi orang-orang yang membutuhkan.

Firman-Nya, { وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ} “Dan orang-orang yang memercayai hari Pembalasan,” yakni yang memercayai hari Kebangkitan, hari Perhitungan dan hari Pembalasan, sehingga mereka beramal dengan amal orang yang mengharapkan pahala dan takut terhadap hukuman.

Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ } “Dan orang-orang yang takut terhadap adzab Rabb-nya,” yakni gemetar ketakutan. { اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ } “Karena sesunggubnya adzab Rabb mereka tidak dapat orang merása aman (dari kedatangannya)” Mereka memahami perintah Allah , sehingga tidak merasa aman dari siksa Allah Subhanallahu wa ta’ala, kecuali dengan jaminan keamanan dari-Nya.

Firman-Nya, { وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ} “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,” yakni mereka menjaganya dari yang haram dan tidak berbuat sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ } “Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesunggubnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”Tafsir ayat ini telah dijelaskan pada permulaan tafsir surat al-Mu’-minuun secara memadai, sehingga tidak perlu diulang di sini.

Firman-Nya, { وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ} “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, yakni jika diberi amanat maka mereka tidak khianat Jika berjanji mereka tidak ingkar. Dan ini adalah sifat orang-orang mukmin, lawan dari sifat orang-orang munafik.

Disebutkan dalam hadits shahih:

آيَةُ المُنافِقِ ثَلاثٌ: إذا حَدَّثَ كَذَبَ، وإذا وعَدَ أخْلَفَ، وإذا اؤْتُمِنَ خانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: bila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia ingkar dan bila dipercaya dia khianat.”

Di riwayat yang lain:

وإذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وإذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Bila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia ingkar dan bila berdebat dia curang. “

Firman-Nya, { وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَ} “Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya,”yakni menjaganya, tidak menambahi, tidak mengurangi dan tidak menyembunyikannya. {وَمَنْ يَّكْتُمْهَا فَاِنَّهٗٓ اٰثِمٌ قَلْبُه} “Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (QS. Al- Baqarah: 283)

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ} “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya,” yakni menjaga waktunya, rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya dan sunnah-sunnahnya. Allah Subhanallahu wa ta’ala membuka pembicaraan dengan menyebut shalat dan mengakhirinya dengan shalat pula, ini menunjukkan adanya perhatian khusus dan penegasan terhadap kemuliaannya, sebagaimana yang telah disebutkan pada permulaan surat al-Mu’-minuun.

Oleh karena itu di surat itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوَارِثُوْنَ الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ } “Mereka itulah orang- orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya,” (QS. Al-Mu’-minuun: 10 dan 11) dan di surat ini Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ } “Mereka itu (kekal) di Surga lagi dimuliakan,” yakni dijamu dengan berbagai macam kenikmatan dan kesenangan.

Al-Ma’aarij, Ayat 36-44

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَ، عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ، اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍ، كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ، فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَ، عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ، فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَ، يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَ، خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ

“Maka mengapa orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muhammad) (36) dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok? (37) Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan? (38) Tidak mungkin! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (39) Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu (40) untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan (41) Maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main (dalam kesesatan) sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka (42) (yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia) (43) pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka.” (44)

Pengingkaran Dan Ancaman Kepada Orang-Orang Kafir

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman mengingkari orang-orang kafir di zaman Nabi sementara mereka menyaksikan beliau dan menyaksikan petunjuk dan mukjizat yang Allah karuniakan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Walaupun demikian mereka menjauh dari beliau, bercerai-berai menjadi beberapa golongan dan kelompok. Ini sebagaimana firman-Nya, { فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَ كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ} “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan- akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari daripada singa. (QS. Al-Muddatstsir: 49-51)

Dan seperti itu pulalah pengertian firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَ } “Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu,”yakni mengapa orang-orang kafir yang bersama- mu wahai Muhammad? مُهْطِعِيْنَ “Bersegera (menjauh darimu).” Ini sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri, bahwa مُهْطِعِيْنَ yakni beranjak.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ} “Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. “Lafazh عِزِيْنَ adalah jamak dari عِزَّةٌ yang berarti terpecah belah.” Lafazh عِزِيْنَ adalah hal (ke- terangan keadaan) dari yakni dalam perbedaan itu, keadaan mereka berpecah belah.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas , “Firman-Nya, Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu,’yakni memandang ke arahmu, dan Dari kanan dan dari kiri dengan berkelom- pok-kelompok?’ Dia berkata, “Lafazh عِزِيْنَ adalah sekelompok orang berada di kanan dan kiri yang berpaling mengejeknya.

Dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam keluar menemui mereka yang sedang berkelompok, maka beliau bersabda:

مَا لِيْ أَرَاكُمْ عِزِيْنَ

“Mengapa kalian berkelompok-kelompok?”
HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-i dan Ibnu Jarir.”

Firman-Nya, { اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍ } “Adakah setiap arang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam Surga yang penuh kenikmatan?” Apakah mereka tetap ingin masuk Surga yang penuh dengan kenikmatan? Padahal di saat yang sama mereka menjauh dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menghindar dari kebenaran? Sekali-kali tidak, justru mereka akan masuk Neraka Jahannam.

Kemudian Allah berfirman menegaskan terjadinya hari Kebangkitan dan keberadaan adzab yang mereka ingkari. Allah Subhanallahu wa ta’ala memberikan dalil atas mereka dengan awal penciptaan, di mana mengembalikan ciptaan itu bagi Allah adalah lebih mudah daripada penciptaan yang pertama kalinya. Dia berfirman, { اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ} “Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani),” yakni dari air mani yang lemah, sebagaimana firman-Nya, { اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍ} “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (QS. Al-Mursalat: 20) dan firman-Nya,

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍ يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِ اِنَّهٗ عَلٰى رَجْعِهٖ لَقَادِرٌ يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤىِٕرُ فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia dicipta- kan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampak- kan segala rahasia, maka sekali kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. “
(QS. Ath-Thaariq: 5-10)

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغٰرِبِ } “Maka Aku bersumpah dengan Rabb Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, “yakni Yang telah menciptakan langit dan bumi, menjadikan timur dan barat, memerintahkan planet- planet muncul dari timur bumi dan tenggelam di baratnya.

Kesimpulan dari pembicaraan ini menegaskan bahwa perkara itu bukanlah sebagaimana yang kalian (wahai orang kafir) perkirakan, yaitu tidak ada kebangkitan, tidak ada perhitungan atau pengumpulan. Akan tetapi semua itu pasti akan terjadi. Semuanya akan terwujud, tidak bisa tidak.

Oleh karena itu Allah menggunakan huruf laa pada permulaan qasam (sumpah) untuk menunjukkan bahwa al-muqsam ‘alaih (obyek sumpah) itu nafyu (negatif/tidak ada). Inti dari pembicaraan di sini adalah bahwa Allah membantah klaim yang meniadakan keberadaan hari Kiamat, padahal mereka telah menyaksikan keagungan Allah yang lebih besar dari hari Kiamat, yaitu penciptaan langit dan bumi serta penaklukan segala sesuatu orang-orang kafir yang ada di antara keduanya, meliputi seluruh makhluk, hewan- hewan, benda-benda mati dan segala yang ada.

Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { لَخَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ } “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ghaafir: 57)

Allah  Subhanallahu wa ta’ala berfirman,

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ۗبَلٰٓى اِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Ahqaaf: 33)

Dalam ayat yang lain Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman,

اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Dan tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya- lab berkata kepadanya: Jadilah! maka terjadilah ia.”
(QS. Yaasiin: 81-82)

Dan di surat ini Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْ } “Maka Aku bersumpah dengan Rabb Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang, sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa. Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka,” yakni pada hari Kiamat. Kami pasti akan mengembalikan tubuh mereka menjadi lebih baik dari sekarang, karena kekuasaan Allah Subhanallahu wa ta’ala mampu melakukannya.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ} “Dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan,”yakni tidaklah lemah, sebagaimana firman-Nya, { اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ } “Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang mengira, belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyaamah: 3-4) Juga firman-Nya, { نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ اَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِيْ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ } “Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali- kali tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikan kamu dengan orang- orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Waaqi’ah: 60-61)

Menurut Ibnu Jarir, (firman-Nya) { عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْ } Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, ‘yakni umat yang mematuhi Kami dan tidak menentang Kami. Dia menaf- sirkan ayat itu seperti firman-Nya, { وَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ } “Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). ” (QS. Muhammad: 38) Makna yang pertama adalah lebih jelas, berdasarkan ayat-ayat al-Qur-an lain yang telah diutarakan. Wallaahu a’lam.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَذَرْهُمْ} “Maka biarkanlah mereka,” yakni wahai Muhammad. { يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا } “Tenggelam (dalam kebathilan) dan bermain-main,” yakni biarkanlah mereka lam kekafiran, penentangan dan pendustaan. { حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ } “Sampai mereka menjumpai hari diancamkan kepada mereka.” Mereka akan mengetahui dampak negatif dari kekufurannya dan mereka pun akan merasakan akibat buruknya. { يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَ } “(Yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (serwaktu di dunia).” Ketika Allah Subhanallahu wa ta’ala memanggil mereka dari dalam kubur maka mereka akan segera bangkit seolah-olah mereka bersegera pergi kepada berhala- berhala mereka sewaktu di dunia.”

Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid dan adh-Dhahhak berkata, “(Yakni) mereka bergegas menuju ke sebuah panji.” Abul Aliyah dan Yahya bin Abi Katsir berkata, “Yakni menuju suatu tujuan.” Mayoritas ulama membaca نَصْبٍ (dengan mem-fat-hah-kan nun dan men-sukunkan shad, sebagai mashdar. Kalimat نَصْبٍ ini mengandung makna اّلْمَنْصُوْبِ(yang ditegakkan).

Al-Hasan al-Bashri membacanya dengan نُصٌبٍ dengan nun dan shad yang dibaca dhammah, yang berarti berhala. Artinya, mereka bersegera berkumpul di padang Mahsyar sebagaimana mereka ber- segera menuju berhala ketika mereka melihatnya sewaktu di dunia.

Yang dimaksud “Mereka bersegera.” yakni berlomba-lomba ke- padanya, siapa yang lebih dulu menyentuhnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Yahya bin Abi Katsir, Muslim al-Bathin, Qatadah, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, Abu Shalih, ‘Ashim bin Bahdalah, Ibnu Zaid dan yang lainnya.

Firman-Nya, { خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ} “Dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya,” yakni menundukkan pandangan. { تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ} “(Serta) diliputi kehinaan.” Kehinaan ini merupakan balasan atas kesombongan mereka untuk untuk melakukan ketaatan di dunia. { ذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ} “Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.

Akhir tafsir surat al-Ma’aarij, walhamdu lillaah.

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini:

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker