Amir Bin Abdillah At-Tamimi _ Ghonimah Perang Tak Sebanding Dengan Kuku Hitamnya

Ghonimah Perang Tak Sebanding Dengan Kuku Hitamnya

Amir Bin Abdillah At-Tamimi (Bagian 2)

Amir bin Abdillah bukan sekedar ahli ibadah di waktu malam saja, namun juga mujahid di siang harinya. Tiada penyeru jihad fii sabilillah memanggil melainkan beliau segera medatanginya.

Sudah menjadi kebiasaan beliau, manakala hendak bergabung bersama para mujahidin yang hendak berperang, beliau melihat-lihat kelompok pasukan untuk memlilihnya. Jika beliau telah mendapatkan yang sesuai, beliau berkata pada mereka, “Wahai saudara, sesungguhnya aku ingin bergabung bersama kelompok kalian ini jika kalian mau mengabulkan tiga permintaanku.” Mereka bertanya, “Apa tiga permintaan tersebut?” Beliau menjawab, “Pertama, hendaknya kalian perkenankan aku untuk menjadi pelayan bagi keperluan kalian, maka tidak boleh seorang pun di antara kalian merebut tugas tersebut. Kedua, hendaklah akulah yang dijadikan mu’adzin, maka tidak boleh seorangpun di antara kalian merebut tugas adzan untuk shalat. Ketiga, hendaknya kalian izinkan aku untuk menginfakkan hartaku kepada kalian sesuai kemampuanku.” Jika mereka menjawab  “ya’, maka beliau segera bergabung, namun jika dijawab tidak, maka beliau mencari kelompok pasukan lain yang mau menerima permintaan tersebut.

*****

Sungguh, di kalangan para mujahidin tersebut Amir bin Abdillah mengambil bagian yang banyak dalam hal resiko dan kesusahan, namun beliau mengambil bagian yang terkecil dalam hal yang menyenangkan (pembagian ghanimah). Beliau terjun di kancah peperangan dengan gigih yang tiada orang lain segigih beliau dalam berperang. Akan tetapi di saat pembagian ghanimah, tiada yang lebih enggan menerima daripada beliau.

*****

Inilah Sa’ad bin Abi Waqash tatkala seusai perang Qadisiyah di istana Kisra, beliau perintahkan Amru bin Muqarrin untuk mengumpulkan ghanimah dan menghitungnya agar selanjutnya seperlima dari ghanimah tersebut dapat di kirim ke baitul maal bagi kaum muslimin. Adapun sisanya dibagikan kepada para mujahidin. Maka dikumpulkanlah harta benda berharga yang luar biasa banyaknya. Di sana ada keranjang besar yang tertutup oleh tumpukan bebatuan berisi penuh bejana-bejana dari emas dan perak yang biasa di pakai oleh raja-raja Persi untuk makan dan minum.

Ada pula sebuah kotak dari kayu mewah yang tatkala di buka berisi baju-baju, pakaian dan selendang kaisar yang berenda permata dan mutiara. Ada lagi kotak perhiasan yang berisi barang-barang berharga seperti kalung dan perhiasan yang beraneka ragam. Ada juga kotak yang berisi senjata-senjata milik raja-raja Persi terdahulu, dan pedang-pedang para raja maupun pemimpin yang tunduk kepada Persi sepanjang perjalanan sejarah.

*****

Di saat orang-orang bekerja menghitung ghanimah di bawah pengawasan kaum muslimin.. tiba-tiba munculah seorang laki-laki yang kusut dan berdebu sedang membawa kotak perhiasan yang berukuran besar dan berat bebannya, dia mengangkat sekaligus kedua tangan nya.

Mereka memperhatikan dengan seksama, mata mereka belum pernah melihat kotak perhiasan sebasar itu, belum ada pula di antara kotak perhiasan yang telah berkumpul yang setara atau mendekati besarnya dengan kotak tersebut. Mereka melihat apa yang ada di dalamnya, ternyata penuh berisi perhiasan permata dan intan, lalu mereka bertanya kepada laki-laki tersebut, “Di manakah anda dapatkan simpanan yang berharga itu?” orang tersebut menjawab, “Aku dapatkan dalam peperangan anu..ditempat anu..” Mereka bertanya, “Sudahkah anda mengambil sebagian nya?” Orang itu menjawab, “Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian! Demi Allah, sesungguhnya kotak perhiasan ini dan seluruh dari apa yang dimiliki raja-raja Persi bagiku tidaklah sebanding  dengan kuku hitamku. Kalau lah bukan karena ini merupakan hak bagi kaum muslimin niscaya aku tidak sudi mengangkatnya dari dalam tanah dan membawa nya ke sini.” Mereka bertanya, “Siapakah Anda? Semoga Allah memuliakan Anda!” Orang itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan memberitahukannya karena kalian nanti akan memujiku, tidak pula aku ceritakan kepada selain kalian karena mereka akan menyanjungku. Akan tetapi aku memuji Allah Ta’ala dan mengharap pahala-Nya.” Kemudian ia meninggalkan mereka dan pergi. Mereka menyuruh seseorang untuk mengikuti orang tersebut guna memberitahukan kepada mereka siapakah sebenarnya laki-laki misterius tersebut. Utusan tersebut terus membuntuti di belakang nya tanpa sepengetahuan beliau hingga sampai kepada para shahabatnya. Utusan tersebut bertanya kepada mereka perihal laki-laki itu, lalu mereka menjawab, “Apakah Anda belum tahu siapa laki-laki itu? Dialah ahli zuhudnya orang Bashrah. . .Amir bin Abdillah at-Tamimi.”

Sumber: Buku Mereka adalah Para Tabi’in, Kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan XVIII, 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: