Tafsir Surat Asy-Syams

Tafsir Surat AsySyams

( Matahari )

Surat Makkiyyah

Surat Ke-91 : 15 Ayat

 

Membaca Surat Asy-Syams Dalam Shalat ‘Isya

Sebelumnya telah disebutkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz:

هَلَّا صَلَيْتَ بِــ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَى وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَا وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰى؟

“Mengapa engkau tidak shalat dengan membaca surat al-A’laa, surat asy-Syams, dan surat al-Lail?

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

ASYSYAMS, AYAT 1-10

وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَا، وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَا، وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَا، وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَا، وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَا، وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَا، وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَا، فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا، قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا

“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari (1) demi bulan apabila mengiringinya (2) demi siang apabila menampakkannya (3) demi malam apabila menutupinya (gelap gulita) (4) demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan) (5) demi bumi serta penghamparannya (6) demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya (7) maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (8) sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) (9) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (10)

 

Sumpah Allah Dengan Makhluk-Makhluknya Atas Keberuntungan Orang Yang Menyucikan Jiwanya Dan Kerugian Orang Yang Menodainya.

Mujahid menafsirkan ayat, {وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَا} “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari,” yakni, sinar dan cahayanya.” Qatadah menafsirkan ayat, “dan sinarnya di pagi hari,” yakni siang hari seluruhnya.” Ibnu Jarir berkata, “Tafsir yang benar ialah Allah bersumpah dengan matahari dan waktu siang hari, karena sinar matahari muncul pada siang hari.

Menegenai firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَا} “Demi bulan apabila mengiringinya.” Mujahid menafsirkannya, “Yakni mengikuti matahari.” Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma tentang ayat, “Demi bulan apabila mengiringinya,” “Yakni yang datang setelah siang hari peegi. Qatadah berkata, “Yakni apabila malam datang dengan bulan sabit mengiringi matahari. Maksudnya, di saat matahari turun terbenam, maka bulan sabit mulai nampak terlihat.”

Selanjutnya firman Allah Subhanallahu wa ta’ala {وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَا} “Demi siang apabila menampakkannya.” Mujahid menafsirkannya, “Yakni bersinar.”

Karena itu Mujahid menafsirkan ayat, “Demi siang apabila menampakkannya,” bahwa ayat ini seperti firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰى} “Demi siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)

Mereka menafsirkan ayat, {وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَا} “Demi malam apabila menutupinya (gelap gulita).” Yakni apabila malam menutupi matahari ketika ia terbenam, sehingga langit menjadi gelap.

Selanjutnya firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَا} “Demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan).” Boleh jadi huruf مَا di sini berfungsi sebagai mashdar, sehingga maknanya ialah demi langit dan ‘pembinaan’-nya. Ini pendapat Qatadah.

Dan boleh jadi huruf مَا di sini bermakna مَنْ sehingga maknanya menjadi, demi langit dan ‘Pembinaan’-nya. Ini pendapat Mujahid.

Kedua pendapat tersebut saling berhubungan. Dan arti ‘pembinaan’ di sini ialah langit itu diangkat (tinggi). Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ} “Dan Kami bangun dengan kekuasaan (Kami),” yakni dengan kekuatan, {وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ وَالْاَرْضَ فَرَشْنٰهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُوْنَ} “Dan Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 47-48)

Demikian pula firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَا} “Demi bumi serta penghamparannya.” Mujahid menafsirkan kata طَحَا هَا yakni membentangkannya.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma tentang ayat, {وَمَا طَحٰىهَا} “Serta penghamparannya,” yakni makhluk yang diciptakan di bumi.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma tentang kata طَحَا هَا yakni, memisah-misahkannya. Mujahid, Qatadah, adh-Dhahhak, as-Suddi, ats-Tsauri, Abu Shalih, dan Ibnu Zaid, menafsirkan kata طَحَا هَا yakni menghamparkannya.

Selanjutnya firman Allah Subhanallahu wa ta’ala {وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَا} “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya.” Yakni, Allah Subhanallahu wa ta’ala menciptakan jiwa itu dengan sempurna dan lurus di atas fitrah yang benar. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ} “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Ruum: 30)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهوِّدانِه ويُنصِّرانِه ويُمجِّسانِه كما تَنتِجونَ إبلَكم هذه هل تُحسُّونَ فيها مِن جَدعاءَ

“Setiap anak dilahirkan di atas fithrah, maka ibu bapaknya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. Seperti halnya seekor hewan ternak yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu melihatnya cacat?”.
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah.

Dan dalam Shahiih Muslim dari riwayat ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يَقُولُ اللهُ عزّوجل إِنِي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَاجْتَالَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَن دِينِهِمْ

“Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, ‘Sungguh, Aku telah menciptakan para hamba-Ku dalam keadan suci bersih, hingga syaitan mendatangi mereka, lalu ia menyelewengkan mereka dari agama mereka.”

Selanjutnya firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ} “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” Yakni memberi menjelaskan kepada jiwa itu, mana jalan menuju kejahatan dan mana jalan menuju ketakwaan. Maksudnya, Allah menampakkan hal itu kepada jiwa tersebut dan memudahkannya kepada apa yang telah Dia tetapkan untuknya.

Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat, “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,” yakni Allah menjelaskan kepada jiwa itu tentang kebaikan dan kejahatan. Juga Mujahid, Qatadah, adh-Dhahhak dan ats-Tsauri, menafsirkannya demikian.

Sa’id bin Jubair berkata, “Maksudnya Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, kebaikan dan kejahatan.” Ibnu Zaid berkata, “Allah menanamkan kejahatan dan ketakwaan di dalam jiwa.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abul Aswad ad-Daili, ia berkata: “’Imran bin Hushain bertanya kepadaku, ‘Menurutmu apa (makna) perbuatan yang dilakukan oleh manusia? Sementara mereka berusaha keras melakukannya. Apakah perbuatan itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka? Yakni merupakan takdir yang mendahuluinya dan telah berlaku atas mereka? Ataukah hal itu merupakan akibat (di masa datang) disebabkan sikap mereka terhadap apa yang diberikan oleh Nabi mereka kepada mereka, sementara hujjah telah ditegakkan kepada mereka?’

Aku menjawab, ‘Hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan (oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala) atas mereka.’

Ia bertanya, ‘(jika demikian),  bukankah hal itu merupakan suatu kezhaliman (yang Allah Subhanallahu wa ta’ala lakukan)?’

Abul Aswad berkata, “Aku sangat terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.”

Abul Aswad berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Tidak ada sesuatu pun  melainkan Allah telah menciptakannya dan menguasai perkaranya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tapi merekalah yang akan ditanyai (tentang apa yang mereka perbuat).’

‘Imran berkata, ‘Semoga Allah menunjukan jalan yang benar kepadamu. Aku bertanya demikian kepadamu hanya untuk menguji pemahamanmu. Seorang laki-laki dari Muzainah atau Juhainah datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, menurut Anda, apakah segala yang dilakukan oleh manusia dan mereka berusaha keras padanya merupakan sesuatu yang telah diciptakan atas mereka dan takdir yang telah mendahului dan berlaku atas mereka? Ataukah hal itu merupakan akibat (di masa datang) disebabkan sikap mereka terhadap apa yang diberikan oleh Nabi mereka kepada mereka, sementara hujjah telah ditegakkan kepada mereka?’

Beliau menjawab:

بَلْ شَيْءٌ قَدْ قُضِيَ عَلَيْهِمْ.

“Hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan (oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala) atas mereka.”

Laki-laki itu bertanya, “Lalu apa gunanya kita beramal?” Beliau menjawab:

مَنْ كَانَ اللهُ خَلَقَهُ لِلإِحْدَى المَنْزِلَتَيْنِ يُهَيِّئُهُ لَهَا ، وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللهِ عزَّ وجلَّ:
{وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا}

“Siapa yang diciptakan Allah untuk salah satu dari dua tempat (Surga atau Neraka), maka Dia mempersiapkanya untuk salah satu dari dua tempat tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan (jalan) ketakwaan.”
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim.

Selanjutnya Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا} “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Ada kemungkinan maknanya ialah: Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dengan ketaatan kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala. Ini seperti yang dikatakan oleh Qatadah, “Dan ia membersihkan jiwanya dari akhlak yang hina dan rendah.” Pendapat seperti itu juga diriwayatkan dari Mujahid, ‘Ikrimah, dan Sa’id bin Jubair, tentang ayat, {وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا} “Dan sunguh rugi orang yang mengotorinya.” Yakni mengotori jiwa mereka. Maksudnya mereka menelantarkan dan menjerumuskan jiwanya dengan menjauhkannya dari petunjuk, sehingga ia berbuat kemaksiatan dan tidak menaati Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Bisa juga maknanya ialah: Sungguh beruntung orang yang disucikan jiwanya oleh Allah, dan sungguh merugi orang yang jiwanya dibiarkan kotor oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala. Ini sebagaimana pendapat al-‘Aufi dan ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membaca ayat ini, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan.” Beliau berhenti, kemudian berdo’a:

اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا،  أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا وَخَيْرُ مَن زَكَّاهَا

“Ya Allah, limpahkan ketakwaan kepada jiwaku ini. Engkau lah Pemiliknya dan Pelindungnya, dan Engkau-lah sebaik-baiknya Dzat yang menyucikan.”

Hadits yang lain. Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Arqam Radiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berdo’a:

اَللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِنَ العَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَعَذَابِ، القَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَن زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari kepikunnan dan sifat penakut, dari sifat kikir dan adzab kubur. Ya Allah, limpahkanlah ketakwaan kepadaku jiwaku ini. Dan sucikanlah ia. Engkau-lah sebaik-baiknya Dzat yang menucikannya, Engkau-lah Pemiliknya dan Pelindungnya. Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak kenyang, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat, serta do’a yang tidak dikabulkan.”

Zaid berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan do’a tersebut kepada kami, dan kami pun mengajarkannya kepada kalian.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim.

 

ASY-SYAMS, AYAT 11-15

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ، اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَا، فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَا، فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَا، وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا

“(Kaum) samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas (zalim) (11) ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka (12) lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina dari Allah ini dengan minumannya.” (13) Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah) (14) dan Dia tidak takut terhadap akibatnya.” (15)

Pendustaan Kaum Tsamud Dan Pembinasaan Mereka

Allah Subhanallahu wa ta’ala memberitahukan tentang kaum Tsamud, bahwa mereka telah mendustakan Rasul mereka dengan melakukan pelanggaran dan melampaui batas. Mujahid, Qatadah, dan yang lainnya mengatakan demikian.

Tindakan mereka itu menimbulkan pendustaan di dalam hati mereka terhadap petunjuk Rasul Allah (Nabi Shalih ‘Alaihi Sallam) Mereka tidak mengikuti keyakinan yang dibawa oleh Rasul mereka itu.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَا} “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,” yakni orang yang paling celaka dari kaum itu. Dia adalah Qudar bin Salif, penyembelih unta betina Nabi Shalih. Dia adalah manusia yang paling jelek dari Tsamud. Dialah yang difirmankan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala, {فَنَادَوْاصَاحِبَهُمْ فَتَعَاطٰى فَعَقَرَ} “Maka mereka memanggil kawannya, lalu dia menangkap (unta itu)dan memotongnya.” (QS. Al-Qamar 29) Orang ini merupakan orang yang dimuliakan dan dihormati di kalangan kaumnya. Ia seorang bangsawan, dan pemimpin yang ditaati.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Zam’ah, ia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah, beliau menyebutkan unta betina, dan menyebutkan orang yang menyembelihnya. Beliau bersabda:

{اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَا{ اِنْبَعَثَ لَهَا رَجُلٌ عَارِمٌ عَزِيْزٌ مَنِيْعٌ فِي رَهْطِهِ مِثْلُ أَبٍي زَمْعَةَ

“(Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala), ‘Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.’ Yakni, keluarlah seorang laki-laki yang bengis, dimuliakan oleh kaumnya dan dihormati di kalangan kabilah-nya, seperti Abu Zam’ah.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitabut Tafsirm Muslim dalam kitab Sifatin Naar, juga at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dalam kitabut Tafsir dalam Sunan mereka berdua.

Kisah Unta Betina Nabi Shalih

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ} “Lalu Rasul Allah berkata kepada mereka,” yakni Nabi Shalih ‘Alaihi Sallam, {نَاقَةَ اللّٰهِ} “(Biarkanlah) unta betina dari Allah ini.” Yakni, aku peringatkan kalian, janganlah kalian melakukan perbuatan jahat terhadap unta betina dari Allah. {وَسُقْيٰهَا} “Dengan minumnya,” yakni janganlah berlaku curang dalam minumannya, karena ia mempunyai giliran untuk minum di hari tertentu, dan kalian pun mempunyai giliran minum di hari lain yang telah disepakati.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَا} “Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya.” Yakni, mereka mendustakan ajaran yang dibawa oleh Nabi Shalih kepada mereka. Maka hal itu membuat mereka nekad menyembelih unta yang dikeluarkan oleh Allah dari sebongkah batu. Unta itu menjadi tanda kekuasaan-Nya kepada mereka, dan sebagai hujjah atas mereka (bahwa ajaran yang sudah dibwa Nabi Shalih itu benar-benar dari Allah Subhanallahu wa ta’ala).

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ} “Karena itu Rabb mereka membinasakan mereka karena dosanya,” yakni Allah murka kepada mereka sehingga Dia membinasakan mereka. {فَسَوّٰىهَا} “Lalu (mereka) diratakan-Nya.” Yakni, Allah menurunkan siksaan kepada mereka secara merata.

Qatadah berkata, “Diceritakan kepada kami bahwa orang yang paling jelek di kalangan kaum Tsamud tersebut tidak menyembelih unta betina itu, hingga ia didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, baik kaum muda maupun kaum tua, baik laki-laki maupun perempuan. Ketika kaum Tsamud sepakat dan bersekutu untuk menyembelih unta tersebut, maka Allah membinasakan mereka, disebabkan dosa mereka, hingga mereka diratakan dengan tanah.”

Selanjutnya firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَلَا يَخَافُ} “Dan Dia tidak takut,” boleh juga dibaca dengan, فلا يخاف “Maka Dia tidak takut.” {عُقْبٰهَا} “Terhadap akibatnya.” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma menafsirkannya, “Allah tidak pernah takut terhadap akibat dari siapa pun.” Mujahid, al-Hasan, Bakar bin ‘Abdillah al-Muzani, dan yang lainnya juga menafsirkan demikian.

Demikianlah akhir tafsir surat asy-Syams. Hanya milik Allah Subhanallahu wa ta’ala lah segala puji dan anugerah.

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: