Hadits Tentang Bulan Shafar

 BEBERAPA HADITS YANG BERBICARA TENTANG BULAN SHAFAR

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ : يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ الْإِبِلِ تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ ، فَيَجِيءُ الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ فِيهَا فَيُجْرِبُهَا كُلَّهَا ؟ قَالَ : فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ ؟ رواه البخاري

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Tidak ada penyakit yang menular, tidak ada larangan atau pantangan pada bulan Shafar, dan tidak ada kecelakaan yang ditandai oleh suara burung malam’. Kemudian, seorang badui bertanya, Ya Rasulullah! Bagaimana dengan ontaku yang berada di padang, yang bergerak bebas bersih laksana kijang, kemudian didatangi oleh onta berkudis dan setelah bergaul, maka onta tersebut berkudis?’ Beliau bersabda, ‘Siapakah yang menjangkitkan kudis kepada onta yang pertama?” (Diriwayatkan Bukhari)

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ. رواه البخاري

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Tidak ada penyakit menular tidak ada tanda atau firasat kesialan, tidak ada kecelakaan yang ditandai oleh suara burung malam, dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar.” (Diriwayatkan Bukhari)

Dalam riwayat Muslim disebutkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Tidak ada penyakit menular, tidak ada mala petaka karena hantu, dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar” (Diriwayatkan Muslim)

عَنْ ابن مَسْعُودٍ قَالَ: قَامَ فِينَا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فقال: لا يُعْدي شيءٌ شيئًا، لا يُعْدي شيءٌ شيئًا، لا يُعْدي شيءٌ شيئًا، فقام أعْرابيٌّ، فقال: يا رسولَ اللهِ، النُّقْبةُ مِن الجَرَبِ تكونُ بمِشفَرِ البَعيرِ أو بذَنَبِه في الإبلِ العَظيمةِ فتَجرَبُ كلُّها؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: فما أجرَبَ الأوَّلَ؟ لا عَدْوى، ولا هامَةَ، ولا صَفَرَ، خَلَقَ اللهُ كلَّ نفْسٍ، فكَتَبَ حَياتَها، ومُصيباتِها، ورِزقَها. رواه البخاري

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri di hadapan kami seraya bersabda, Sesuatu tidak akan menulari sesuatu yang lain’. Lalu seorang badui berkata, Ya Rasulullah, bagaimana dengan onta yang kudisan pada ujung zakarnya, lalu menularkannya kepada onta-onta lainnya hingga semua menjadi kudisan?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Lalu siapa yang menjangkitkan kudis kepada onta yang pertama? Tidak ada penyakit menular dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar. Allah menciptakan setiap jiwa, lalu menetapkan kehidupan, rezeki, dan musibahnya sendiri-sendiri’,”

 عنِ ابنِ عباسٍ قال كانوا يرون أنَّ العمرةَ في أشهرِ الحجِّ من أفجرِ الفُجورِ قال وكانوا يُسمُّونَ المُحرَّمَ صفَرَ ويقولون إذا برأَ الدَّبَرُ وعفا الأثَرُ وانسلخَ صفَرُ حلَّتِ العمرةُ لمن اعتمرَ فقدِم رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وأصحابُه صبيحةَ رابعةٍ وهم مُلبُّونَ بالحجِّ فأمرهم أن يجعلوها عُمرةً قالوا يا رسولَ اللهِ أيُّ حِلٍّ نُحِلُّ قال الحِلُّ كلُّه

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, “Mereka (orang-orang jahiliah) berpendapat bahwa melakukan umrah pada bulan haji merupakan dosa yang paling besar di muka bumi. Mereka menjadikan bulan Muharram sebagai bulan Shafar. Mereka berkata, ‘Apabila kepenatan telah hilang, kesan tapak kaki sudah hilang, dan bulan Shafar telah berlalu, orang-orang yang berumrah boleh bertahallul”. Pada pagi hari tanggal 4 bulan Dzulhijjah Nabi Shallallahu Alalhi wa Sallam dan para shahabatnya datang dalam keadaan berihram haji, lalu beliau memerintahkan mereka supaya segera melakukan ihram untuk umrah. Namun, mereka keberatan dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apa yang telah diha- lalkan?’ Beliau menjawab, ‘Semua perkara telah dihalalkan’.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim) [Diriwayatkan Bukhari dalam sahihnya yang dicetak bersama Fath Al-Baari, X, 215, kitab Al- Haj, hadits no 1564, dan Muslim dalam sahihnya, I1, 909-910, kitab Al-Haj, hadits no. 1240.]

Abu Daud’ berkata, “Dibacakan kepada Harits bin Miskin’ dan saya menyaksikan, Asyhab berkata, Malik’ ditanya tentang sabda Rasulullah,

‘Tidak ada pantangan pada bulan Shafar. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya penduduk jahilliah dulu menghalalkan bulan Shafar, mereka menghalalkan setahun dan mengharamkan setahun sehingga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا صَفَرَ. رواه البخاري

‘Tidak ada pantangan dalam bulan Shafar.’ [Sunan Abu Daud, IV, 233, kitab Ath-Thib, hadits no. 3914]

 Imam Bukhari berkata di dalam sahihnya, Bab ‘Laa Shafara’, yaitu penyakit yang menyerang perut.”

 

 

Sumber: Kitab Ritual Bid’ah Dalam Setahun Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiry Edisi Indonesia, Cetakan I, Dzulhijjah 1428 H/Desember 2007 M, Darul Falah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: