Bid’ah Pesimis Dalam Bulan Shafar

BID’AH PESIMIS DALAM BULAN SHAFAR

Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Sallam bersabda,

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada tanda atau firasat kesialan, tidak ada kecelakaan yang ditandai oleh suara burung malam, dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar.” “(Diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Para ulama berselisih pendapat mengenai firman Allah, “Laa ‘adwa” (tidak ada penyakit menular), apakah kata laa itu berarti larangan (jangan) ataukah penolakan?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Kata laa memang bisa berarti penolakan dan bisa pula berarti larangan. Misalnya, kalimat laa tathayyaruu “janganlah kalian meramal dengan suara burung’. Akan tetapi, sabda Rasulullah dalam hadits, Tidak ada penyakit menular, tidak ada tanda atau firasat kesialan, tidak ada kecelakaan yang ditandai oleh suara burung malam, dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar’. Menunjukkan makna penolakan dan membatalkan perkara yang dipercayai pada masa jahillah. Penolakan dalam hal ini lebih keras daripada larangan karena penolakan berarti membatalkannya dan tidak mengutamakannya, sedangkan larangan hanya menunjukkan pada larangan saja.”

Ibnu Rajab berkata, “Mereka berselisih pendapat tentang makna frman Allah, Tidak ada penyakit yang menular’. Pengertian yang paling banyak dikenal adalah penolakan terhadap keyakinan orang-orang jahiliah bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya tanpa meyakini adanya takdir Allah di dalamnya. Hal ini ditunjukkan sabda Rasulullah, ‘Lalu slapa yang menularkan penyakit kepada onta yang pertama? Maksudnya. Rasulullah ingin menunjukkan bahwa onta pertama itu terkena kudis karena ketetapan dan takdir Allah, begitu juga onta yang kedua dan seterusnya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadiid: 22)

Adapun mengenai sabda Rasulullah, “laa shafara” (tidak ada kesialan pada bulan Shafar), diperselisihkan penafsirannya.

Pertama, kebanyakan orang lama berpendapat bahwa makna shafar adalah ‘penyakit di dalam perut. Dikatakan bahwa shafar adalah ulat’ yang besar, sebesar ulat yang lebih ganas dari kudis menurut orang Arab. Lalu Nabi Shallallahu Aaihi wa Sallam menolak keyakinan itu. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Uyainah,” Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Ath-Thabari.”

Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata shafar adalah ular, tetapi bila kaitannya dengan penolakan adalah penolakan terhadap keyakinan mereka bahwa siapa yang berternu dengannya, dia pasti mati. Oleh karena itu, keyakinan itu ditolak oleh Allah. Kematian tidak akan terjadi, kecuali bila sudah datang ajalnya.

Penafsiran semacam ini datang dari Jabir, salah seorang perawi hadits laa shafara”(tidak ada pantangan dalam bulan Shafar).”

Kedua, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “shafar” adalah bulan Shafar. Kemudian, mereka berselisih pendapat dalam penafsirannya dan terbagi menjadi dua pendapat

1. Pendapat pertama mengatakan bahwa sabda Rasulullah tentang “laa shafara” itu adalah untuk menolak tradisi jahiliah yang menunda pembayaran. Mereka menghalalkan untuk tidak membayar hutang di bulan Muharram dan mengharamkannya di bulan Shafar. Ini adalah pendapat Imam Malik.

2. Pendapat kedua mengatakan bahwa orang-orang jahiliah pesimis pada bulan Shafar dan mereka mengatakan bahwa bulan itu adalah bulan sial. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mernbatalkan tradisi itu. Ibnu Rajab Al-Hambali menguatkan pendapat yang kedua ini.

Bisa juga dikatakan bahwa yang dimaksudkan dengan perkataan itu adalah binatang yang ada di dalam perut, yang menurut mereka lebih berbahaya dari kudis. Bisa juga berarti mengakhirkan pembayaran hutang pada bulan Muharram hingga Shafar. Kedua hal itu sama-sama batalnya, tidak ada dasarnya, dan tidak ada landasannya. Bisa juga shafar berarti menolak paham kesialan pada bulan Shafar karena pesimisme di bulan Shafar merupakan rarmalan tahayul yang dilarang berdasarkan sabda Rasulullah, Laa thaira” (tidak ada ramalan akan datangnya hal buruk). Begitu juga sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Ramalan akan datang hal buruk adalah syirik, dan ramalan akan datang hal buruk adalah syirik.”

Dengan demikian sabda Rasulullah, “Tidak ada kesialan pada bulan Shafar”, termasuk pernyataan khusus dari yang umum dan dikhususkan penyebutannya karena kemasyhurannya.

Akan tetapi -demi Allah- penolakan itu mencakup seluruh makna yang ditafsirkan oleh para ulama dari kata laa shafara dan juga yang saya sebutkan. Semua itu adalah batil, tidak ada dasarnya, dan tidak ada sandarannya. Kebanyakan orang jahiliah merasa pesimis di bulan Shafar sehingga banyak di antara mereka yang enggan bepergian. Sebagian dari mereka berkata, “Orang-orang pintar mengatakan bahwa setiap tahun turun 320.000 penyakit. Semuanya terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar sehingga hari itu merupakan hari ternaas selama setahun. Barangsiapa yang pada hari itu shalat empat rakaat, di setiap rakaatnya membaca Al-Fatihah sekali, surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 15 kali, muawidzatain (AI-Falaq dan An-Nas) sekali, dan setelah salam membaca doa tertentu, maka Allah dengan kemuliaan-Nya akan menjaganya dari semua penyakit yang turun pada hari itu dan mereka tidak akan terkena penyakit dalam setahun penuh. Adapun doa itu adalah,

‘(Setelah membaca basmalah) Ya Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha mulia, wahai Dzat yang karena kemuliaan-Mu semua makhluk-Mu menjadi hina. Jauhkan aku dari kejahatan makhluk-Mu. Wahai Dzat Yang Mahabaik, Indah, dan Mulia, wahai Pemberi Nikmat dan Kemuliaan, Wahai Dzat yang tiada Tuhan, kecuali Engkau, kasihanilah aku dengan rahmat-Mu wahal Dzat Yang Maha Pengasih. Ya Allah, dengan rahasia Hasan, saudaranya, ayah, ibu, dan keturunannya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan apa yang turun pada hari ini, wahai Dzat Yang memenuhi segala kebutuhan dan penolak segala bencana. Semoga Allah menjauhkannya karena Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga, dan seluruh shahabatnya’.”

Begitu juga perkumpulan yang dilakukan oleh sebagian manusia pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, antara shalat maghrib dan isya’ di beberapa masjid. Setelah itu mereka berkumpul di hadapan seorang juru tulis, yang menuliskan kepada mereka di atas kertas-kertas yang disediakan, tujuh ayat salam kepada para nabi, seperti firman Allah,

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. “(Ash-Shaffat: 79)

Kemudian, mereka meletakkannya dalam gelas yang diberi air dan meminum airnya. Mereka berkeyakinan bahwa rahasia penulisan itu akan muncul pada hari itu, kemudian sisanya mereka sebarkan ke sekitar rumah. Bentuk kepesimisan manusia lainnya adalah seperti yang terjadi di beberapa negara Islam, yang mana mereka menganggap bahwa menjenguk orang sakit pada hari Rabu bisa membawa kesialan.

Tidak diragukan lagi bahwa merasa pesimis pada bulan Shafar atau hari-hari tertentu lainnya, merupakan jenis ramalan yang dilarang agama. [Diriwayatkan Bukhari dalam shahinya yang dicetak bersama Fath Al-Baari, X, 215, kitab Ath-Thibbi, hadits no. 5757]

Menganggap adanya kesialan pada waktu tertentu, seperti bulan Shafar dan sebagainya adalah tidak benar karena semua waktu adalah ciptaan Allah yang di dalamnya juga terjadi aktivitas manusia. Setiap waktu yang digunakan oleh orang Islam untuk beraktivitas adalah waktu yang baik dan penuh berkah, sedangkan setiap waktu yang digunakan oleh seseorang untuk berbuat maksiat adalah kesialan. Sebenarnya kesialan adalah berbuat maksiat kepada Allah dan melakukan perbuatan dosa. Ramalan kesialan itu menjadikan Allah murka; jika Allah murka kepada seseorang, maka dia akan merugi dunia dan akhrat, tetapi sebaliknya, jika Allah ridha kepada seseorang, Dia akan bahagia di dunia dan akhirat.

Orang yang berbuat maksiat berarti telah berbuat sial untuk dirinya sendiri dan orang lain. Misalnya dia tidak percaya bahwa azab akan turun kepadanya, tetapi jika semua manusia telah berbuat maksiat, maka azab itu akan turun pula kepadanya, apalagi jika dia tidak mengingkari kemaksiatan itu karena mendiamkannya berarti setuju.

Adapun mengenai sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada tanda atau firasat kesialan, dan tidak ada kesialan dalam tiga hal; wanita, rumah, dan hewan tunggangan (kendaraan).

Para ulama berselisih pendapat dalam memahami makna hadits di atas:

  1. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasanya dia ingkar jika hadits ini berasal dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aisyah berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang-orang jahiliah mengatakan, Kesialan ada pada wanita, rumah, dan kendaraan. “Kemudian, Aisyah membaca firman Allah,

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendirt, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahlah) sebelum Kami menciptakannya Sesungguhrya sang demikian itu adalah mudah bagi Allah. “(Al-Hadid. 22)”

Mu’ammar berkata, “Saya mendengar ada orang yang menafsirkan hadits ini seraya berkata, Kesialan wanita adalah jika dia tidak beranak banyak kesialan kendaraan adalah jika tidak berperang di jalan Allah, dan kesialan rumah adalah jika memiliki tetangga jahat.

2. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa hadits yang benar adalah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya belau bersabda, “Tidak ada kesialan, justru kenyamanan ada di rumah, wanita dan kendaraan.”

Yang benar bahwa memang ada kesialan dalam ketiga hal di atas (wanita, tempat tinggal, dan kendaraan). Akan tetapi, kita dilarang untuk mengasingkan orang sakit dari orang sehat,” dilarang melarikan diri dari orang yang terkena penyakit lepra,” dan dilarang lari dari negeri yang terkena musibah penyakit” Ketiga hal itu merupakan faktor-faktor yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai sebab kesialan sekaligus sebab kenyamanan dan mengaitkan antara keduanya.

Kesialan terhadap tiga hal itu bisa terjadi karena seseorang sudah merasa pesimis dulu sebelumnya, tanpa bertawakal kepada Allah. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah dan tidak merasa pesimis, maka dia tidak akan sial, seperti yang disebutkan di dalam hadits Anas Radhiyallahu Anhu,

الطِّيْرَةُ عَلَى مَنْ تَطَيَّرَ.روه ابن حبان

“Ramalan akan datang kesialan itu tergantung kepada orang yang menjalaninya.”

Pesimisme termasuk keyakinan jahiliah yang menyebar di kalangan banyak kaum Muslimin karena akibat dari kebodohan mereka terhadap agama dan lemahnya akidah tauhid mereka. Adapun yang menyebabkan adanya kebodohan, kurang bertauhid, dan kurang beriman itu adalah tidak adanya kesadaran yang benar dalam diri mereka, bergaul dengan orang-orang yang membuat bid’ah, dan sedikitnya orang yang memberikan pengarahan kepada mereka kepada jalan yang lurus. Mereka tidak mengetahui apa yang seharusnya diyakini, apa yang tidak boleh diyakini, apa yang termasuk syirik besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama Islam, dan apa itu syirik kecil. Mereka tidak memiliki pengetahuan bahwa sesuatu yang mengarah kepada syirik dapat mengurangi kesempurnaan tauhid dan akhirnya menghantarkan pelakunya kepada syirik besar yang tidak diampuni oleh Allah, Jika dia mati dalam keadaan tidak bertaubat, maka akan abadi di neraka dan sia-sia segala amalnya. Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang sang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya lalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al-Maidah: 72)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syinik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh la telah berbuat dosa yang besar. “(An-Nisa’: 48)

Namun, masih banyak orang yang pesimis dalam bulan Shafar, tidak mau bepergian, tidak melakukan upacara, dan tidak berani bergembira pada bulan itu. Jika sampai di penghujung bulan, mereka mengadakan perkumpulan yang besar pada hari Rabu terakhir bulan itu, meng- adakan pesta, membuat makanan khusus, manisan, keluar-masuk kota, dan berjalan di atas rumput untuk menyembuhkan sakit.” Tidak diragukan lagi bahwa semua ini merupakan kebodohan terhadap syirik dan bid’ah yang berkaitan dengan syirik sehingga perlu diselamatkan akidahnya. Semua itu tidak terjadi, kecuali kepada orang yang akidahnya bercampur dengan syirik, yang sebagian dapat mendorong sebagian lainnya, seperti, tawasul, meminta berkah kepada makhluk, dan meminta pertolongan kepada mereka.

Adapun orang yang diselamatkan akidahnya oleh Allah, dia akan selalu bertawakal kepada Allah, bersandar kepada-Nya, yakin bahwa segala yang menimpanya bukan untuk menyalahkannya, dan apa yang menyalahinya belum pasti akan menimpanya. Dia yakin bahwa pesimisme, meramal kesialan, meyakini selain Allah dapat membawa manfaat atau bahaya termasuk syirik dan kezaliman yang berat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang besar. ” (Luqman:13)

Pesimisme dapat melunturkan aplikasi tauhid, sedangkan aplikasi tauhid ada yang wajib dan ada pula yang sunah.

Aplikasi tauhid yang wajib adalah memurnikan dan menyucikannya dari segala bentuk syirik, bid’ah, dan kemaksiatan. Syirik dapat menghilangkan tauhid secara keseluruhan, bid’ah dapat menghilangkan kesempurnaan tauhid yang diwajibkan, dan kemaksiatan dapat mengotori dan mengurangi pahalanya.

Seseorang tidak dapat menerapkan tauhid secara benar, kecuali jika dia bebas dari syirik dengan berbagai macam dan jenisnya, bebas dari bid’ah dan kemaksiatan.”

Adapun aplikasi tauhid yang sunah adalah berusaha menjadi orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah,” yaitu hanya mengarahkan seluruh jiwa dan ruh kepada Allah karena cinta, takut, bertaubat, bertawakal, do’a, ikhlas, pengagungan, dan ibadah. Tidak ada di dalam hatinya apa pun selain Allah; tidak ada keinginan melakukan apa yang diharamkan Allah; dan tidak sedikit pun benci kepada perintah Allah. Itulah hakikat laa ilaaha illallah.” Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam Kitab At-Tauhid, Bab “Man Hagqaqa At-Tauhid Dakhala Al-Jannah Bighairi Hisab” (Siapa yang benar tauhidnya akan masuk surga tanpa dihisab),” di dalamnya da menyebutkan sebuah hadits,

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Aku telah dipertihathan oleh Alah beberapa galongan umat manusia Maka aku telah melihat seorang nabi bersamanya satu kumpulan manusia, yaitu tidak lebih dari sepulah orang. Seorang nabi bersamanya seorang lelaki dan dua orang lelaki dan seorang nabi  tanpa seorang pun bersamanya. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang yang banyak Aku menyangka mereka adalah dari umatku. Tetapi dikatakan kepadaku mereka adalah Nabi Musa Alaihissalam dan kaumnya. Lihatlah he ufuk, lahu aku pun melihatrya, ternyata terdapat satu kumpulan yang ramai. Dikatakan lagi kepadaku, Lihatlah ke ufuk yang lain. Temyata di sana juga terdapat satu kurmpulan yang ramai. Dikatakan kepadaku, Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada hujuh puluh nbu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan diazab’, Kemudian, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang telah berbincang mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan diazab. Kemudian, sebagian dari mereka berkata, Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’ Ada pula yang mengatakan, Mungkin mereka adalah orang- orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pemnah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah’. Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya dengan bersabda, Apa yang telah kamu perbincangkan?’ Mereka pun menerangkan keadaan tersebut. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terus bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jampi mantra, tidak meminta supaya dibuat jampi mantra, tidak meramalkan perkara-perkara buruk dan hanya kepada Allah mereka bertawakal”. Ukkasyah bin Mihsan berdiri lalu berkata, Berdoalah kepada Allah semoga aku temasuk dari kalangan mereka’. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Kamu termasuk dari kalangan mereka’. Kemudian, berdiri seorang lelaki yang lain, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah semoga aku termasuk dari kalangan mereka’. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Ukkasyah telah mendahului kamu supaya digolongkan dari kalangan mereka yang memasuki surga tanpa dihisab’.”

Dalam hadits di atas Allah menyebutkan sifat-sifat orang yang masuk surga tanpa dihisab dan diazab. Mereka adalah orang-orang yang tidak meramalkan perkara-perkara buruk dan hanya bertawakal kepada Allah. Tawakal merupakan dasar yang menyatukan seluruh rangkaian perbuatan-perbuatan lainnya.

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa bersikap pesimis pada bulan Shafar, takut ditimpa krisis, dan sebagainya termasuk bid’ah dan syirik yang harus ditinggalkan dan dijauhi karena seperti yang telah diriwayatkan dalam beberapa hadits, di dalamnya terdapat janji dan ancaman.

 

Sumber: Kitab Ritual Bid’ah Dalam Setahun Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiry Edisi Indonesia, Cetakan I, Dzulhijjah 1428 H/Desember 2007 M, Darul Falah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: