Tanggap Banjir, Play Group dan TKIT Assunnah Gelar Simulasi Banjir


CIREBON – Intensitas dan curah hujan yang tinggi seringkali mengakibatkan air yang melimpah dan banjir. Kondisi seperti itu memerlukan sikap tanggap dari semua pihak agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

 

Karena itulah Play Group dan TKIT Assunnah Cirebon melakukan kegiatan simulasi banjir yang dimulai pukul 08.30 wib. Kegiatan ini dilaksanakan di halaman sekolah TKIT Assunnah Cirebon, Rabu (21/2/2018).

 

Tujuan diadakannya kegiatan simulasi banjir adalah sebagai pengetahuan dan pembelajaran untuk siswa dalam menghadapi bencana banjir, menumbuhkan rasa empati kepada sesama untuk saling membantu dan tolong menolong.

 

“Tujuannya agar para siswa dapat pelajaran dan menumbuhkan rasa empati dalam membantu sesama. Juga agar bisa diaplikasikan di dunia nyata ketika terjadi bencana banjir,” kata Nurlaila, Kepala TKIT Assunnah Cirebon.

Kegiatan simulasi banjir teori nya sudah dijelaskan sebulan yang lalu, sekarang adalah kegiatan puncaknya yaitu praktek langsung simulasi banjir.

 

” Simulasi banjir ini merupakan kegiatan puncak nya, sebelumnya selama satu bulan para siswa mendapatkan pelajaran di kelas, diharapkan tumbuh rasa empati dan saling membantu pada diri siswa ,” terang Nina Sri Wahyuni selaku guru TKIT.

 

Kegiatan simulasi banjir ini dimulai dengan suara sirine yang keras sebagai penanda adanya bahaya. Siswa-siswi yang ada di kelas berlarian keluar untuk menyelamatkan diri dengan dipandu para guru. Tak lama berselang, muncul Tim SAR yang di perankan oleh siswa juga untuk membantu mengevakuasi.

 

Ada beberapa peran yang diemban oleh para siswa. Ada yang berperan sebagai korban yang terluka dan ditandu untuk mendapat pengobatan, ada pula yang berperan sebagai perawat, dokter, polisi, TNI dan juga sebagai korban banjir yang berada di posko pengungsian.

Pantauan tim redaksi hadir pula Kepala Bidang Pendidikan Ustadz Said Riyana S.Pd yang ikut menyaksikan Simulasi banjir di halaman TKIT Assunnah Cirebon.

 

“Selain pembelajaran teori, pembelajaran praktek juga sangat penting, sehingga bisa mengetahui secara langsung, kemudian akan diaplikasikan kedepannya oleh anak-anak,” ujar Ustadz Said.

 

Sekitar 180 siswa dan 26 guru ikut terlibat dalam kegiatan simulasi ini. Keceriaan tetap terlihat karena dilakukan oleh anak-anak.

 

“Minimalnya mereka mengetahui dan mendapatkan pelajaran ketika ada banjir, ini sangat baik sekali untuk pendidikan anak usia dini,” tutup Ustadz Said.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *