Hukum berpuasa hari ‘Asyuro saja

Hukum berpuasa hari ‘Asyuro saja

Syaikhul Islam rahimahullah berkata:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَلا يُكْرَهُ إفْرَادُهُ بِالصَّوْمِ

“Berpuasa pada hari ‘Asyuro’ sebagai penghapus dosa selama 1 tahun dan tidak dimakruhkan untuk mengkhususkannya dengan berpuasa…”. Lihat  kitab al Fatawa al Kubra, juz 5).

Dan di dalam kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al Haitamy rahimahullah disebutkan:

وعاشوراء لا بأس بإفراده

“Dan hari ‘Asyuro’, tidak mengapa berpuasa pada hari itu saja…”. (Lihat juz:3, bab puasa sunnah). 

Boleh berpuasa pada hari ‘Asyuro’ walaupun hari itu hari Sabtu atau Jum’at

Telah ada riwayat tentang larangan berpuasa pada hari Jum’at secara tersendiri dan larangan tentang berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa wajib, tetapi hilang kemakruhannya jika ia berpuasa pada dua hari ini dengan menggambungkan satu hari ke setiap dari keduanya atau bertepatan dengan kebiasaan yang disyari’atkan seperti berpuasa 1 hari dan berbuka 1 hari atau berpuasa sebagai nadzar atau puasa qadha-‘ atau puasa yang dianjurkan oleh agama seperti puasa hari Arafah dan hari ‘Asyuro’… (lihat kitab Tuhfatul Muhtaj, juz 3 bab puasa sunnah dan  kitab Musykilul Aatsar, juz 2, bab puasa hari Sabtu).

Al Bahuti rahimahullah berkata:

وَيُكْرَهُ تَعَمُّدُ إفْرَادِ يَوْمِ السَّبْتِ بِصَوْمٍ لِحَدِيثِ عَبْدِاللَّهِ بْنِ بِشْرٍ عَنْ أُخْتِهِ

“Dan dimakruhkan bersengaja berpuasa pada hari Sabtu disebabkan oleh hadits Abdullah Bin Busyr dari saudara perempuannya:

«لا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إلّا فِيمَا اُفْتُرِضَ عَلَيْكُمْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ: عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ

“Dan janganlah kalian berpuasa hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian”. (hadits riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang baik dan Imam hakim, beliau berkata: hadits ini berdasarkan syarat shahih Bukhari.

وَلأَنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ فَفِي إفْرَادِهِ تَشَبُّهٌ بِهِمْ

(إلا أَنْ يُوَافِقَ) يَوْمُ الْجُمُعَةِ أَوْ السَّبْتِ (عَادَةً) كَأَنْ وَافَقَ يَوْمَ عَرَفَةَ أَوْ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَكَانَ عَادَتَهُ صَوْمُهُمَا فَلا كَرَاهَةَ; لأَنَّ الْعَادَةَ لَهَا تَأْثِيرٌ فِي ذَلِكَ

Dan dikarenakan ia adalah hari yang dimuliakan oleh orang-orang Yahudi, karena pengkhususan berpuasa pada hari itu saja ada persamaan dengan mereka…

( kecuali apabila bertepatan ) hari Jum’at atau hari Sabtu ( biasanya) seperti bertepatan dengan hari Arafah atau hari ‘Asyuro’ dan merupakan kebiasaannya berpuasa pada kedua hari itu maka tidak dimakruhkan, karena suatu adat mempunyai pengaruh di dalam hal tersebut.” Lihat kitab Kasysyaful Qina’ juz: 2, bab Puasa sunnah. 

 

Ringkasan dari Artikel dakwahsunnah.com

Yang disusun oleh: Syekh Muhammad Shalih Munajjid -hafizhahullah-

Dengan Alih bahasa: Ustadz Ahmad Zainuddin

Link artikel asli : http://www.dakwahsunnah.com/component/content/article?id=234:keutamaan-hari-asyura-dan-bulan-allah-muharram

 

Silahkan baca juga artikel terkait :

Artikel Seputar Bulan Muharam

Ada Apa dengan Bulan Muharam???

Berlipatnya Pahala dan Dosa di Bulan Muharam

Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah pada Bulan Muharram

Hari ‘Asyuro’ dan Sejarahnya

Istilah hari ‘Asyuro’

Bulan Muharam dianjurkan puasa Tasu’a dan ‘Asyuro’

Hikmat dari penganjuran berpuasa pada hari Tasu’a

Bid’ah-bid’ah pada hari ‘Asyuro’

 

Pertanyaan Seputar Bulan Muharam

Hukum berpuasa hari ‘Asyuro saja?

Apakah yang harus dikerjakan apabila hilal (awal bulan Muharam) belum jelas?

Dengan Puasa Hari ‘Asyuro’, apa yang dihapuskan?

Terpesona dengan pahala puasa ‘Asyuro’?

Berpuasa hari ‘Asyuro’ dalam keadaan masih punya tanggungan dari puasa Ramadhan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: