Pembinaan Karyawan YAC Tahun 2026

16 Rajab 1447 H / 05 Januari 2026
Pemateri: Ustadz Fariq Gazim Anus
Tema: Kisah Saʿad bin Abī Waqqāṣ radhiyallāhu ‘anhu
Pendahuluan
Syaikh Mahmud al-Miṣrī dalam kitab Tārīkh aṣ-Ṣaḥābah menekankan:
– Ambillah pelajaran dari orang-orang terdahulu.
– Umat ini dianugerahi Allah dengan hadirnya orang-orang bertakwa sebelum kita:
Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat, dan sahabiyah.
Mereka adalah teladan iman, akhlak, dan keteguhan dalam menghadapi ujian.
1. Biografi Singkat Saʿad bin Abī Waqqāṣ
Nama & Kunyah: Saʿad bin Abī Waqqāṣ – Abu Isḥāq
Kelahiran: ±30 tahun sebelum hijrah
Masuk Islam: Usia ±17 tahun (tahun ke-1 kenabian)
Termasuk: as-Sābiqūn al-Awwalūn
Nasab: Bani Zuhrah (Quraisy), satu kabilah dengan Abdurrahman bin ‘Auf
Hubungan dengan Nabi ﷺ: Paman Rasulullah dari jalur ibu
Rasulullah ﷺ bersabda:
«هَذَا خَالِي، فَلْيُرِنِي امْرُؤٌ خَالَهُ»
“Ini adalah pamanku. Maka hendaklah seseorang menunjukkan siapa pamannya.”
(HR. al-Bukhārī)
➡️ Hadis ini menunjukkan kedekatan dan kemuliaan Saʿad di sisi Nabi ﷺ.
2. Keteguhan Iman Saʿad di Hadapan Ibunya
Ibunya mengancam mogok makan agar Saʿad meninggalkan Islam. Saʿad menjawab dengan tegas namun santun:
“Wahai Ibu, demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus nyawa lalu keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan agama ini.”
Sebab Turunnya Ayat
﴿وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي…﴾
(QS. Luqmān: 15)
➡️ Kaidah agung: taat kepada orang tua selama bukan dalam maksiat kepada Allah.
3. Saʿad dan Putrinya – Pelajaran Fikih Waris
Terjadi pada Haji Wadaʿ (10 H) saat Saʿad sakit keras.
Dialog tentang sedekah harta menghasilkan sabda Nabi ﷺ:
الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ
“Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak.”
Dan sabda beliau:
“Meninggalkan ahli warismu dalam keadaan cukup lebih baik daripada meninggalkan mereka miskin dan meminta-minta.”
(HR. al-Bukhārī & Muslim)
➡️ Islam menjaga keseimbangan antara sedekah dan tanggung jawab keluarga.
4. Keutamaan Saʿad di Perang Uhud
Saʿad menjadi pemanah pelindung Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda:
«ارْمِ فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي»
“Panahlah! Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.”
➡️ Ungkapan kehormatan tertinggi dari Nabi ﷺ.
5. Saʿad Menjaga Tenda Nabi ﷺ
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah رضي الله عنها, Nabi ﷺ bersabda:
“Seandainya ada seorang shalih dari sahabatku yang menjagaku malam ini…”
Saʿad datang dan berjaga sepanjang malam.
➡️ Menunjukkan amanah, kesiapsiagaan, dan pengorbanan sahabat
6. Saʿad di Masa Khalifah ‘Umar
Diangkat sebagai panglima besar perang Persia.
Isi wasiat ‘Umar:
“Aku memerintahkanmu bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah bekal terbaik dan strategi terkuat.”
Perang al-Qādisiyyah (14 H)
Pasukan Muslim ±30.000
Persia ±120.000
Saʿad memimpin dalam keadaan sakit
➡️ Kemenangan besar dan menentukan.
Menyeberangi Sungai Dajlah
Dengan tawakal, pasukan menyeberang sungai yang meluap deras.
➡️ Pertolongan Allah nyata.
7. Fitnah terhadap Saʿad di Kufah
Empat tuduhan utama:
– Tidak adil dalam pembagian
– Tidak adil dalam keputusan
– Tidak baik shalat
– Tidak sering mengirim pasukan kecil
➡️ Semua tuduhan ditolak setelah audit ‘Umar.
Namun Saʿad diberhentikan bukan karena salah, tetapi demi menutup pintu fitnah.
8. Doa Mustajab Saʿad
Saʿad berdoa terhadap penuduh dusta:
Saʿad berdoa:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا فَأَطِلْ عُمُرَهُ، وَأَطِلْ فَقْرَهُ، وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ
Artinya:
“Ya Allah, jika ia berdusta, panjangkan umurnya, panjangkan kefakirannya, dan hadapkan ia pada fitnah.”
HR. al-Bukhārī & Muslim
➡️ Doa orang saleh & terdzolimi bisa maqbul dan menjadi hujjah Allah.
9. Adab Sahabat: Saʿad & ‘Utsman
Saʿad memberi salam, tidak dijawab karena ‘Utsman sedang berpikir.
Diselesaikan oleh ‘Umar dengan adil dan tenang.
➡️ Contoh klarifikasi, husnuzan, dan ukhuwah
10. Saʿad di Masa Khilafah Muʿāwiyah
Setelah Muʿāwiyah menjadi khalifah, beliau pernah bertemu Saʿad bin Abī Waqqāṣ. Dalam pertemuan itu, Muʿāwiyah menyebut ʿAlī bin Abī Ṭālib رضي الله عنه.
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Muʿāwiyah bertanya kepada Saʿad:
مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا تُرَابٍ؟
“Apa yang menghalangimu mencela Abu Turab (ʿAlī)?”
Jawaban Tegas Saʿad
Saʿad tidak terpancing emosi. Ia menjawab dengan ilmiah, tenang, dan berdalil:
أَمَّا مَا ذَكَرْتَ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَلَنْ أَسُبَّهُ
“Adapun engkau menyebut (ʿAlī), aku mengingat tiga keutamaan yang Rasulullah ﷺ sabdakan tentangnya, maka aku tidak akan mencelanya.”
Lalu Saʿad menyebutkan tiga keutamaan besar ʿAlī:
1️⃣ Hadis Manzilah
أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Engkau bagiku seperti kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”
HR. Muslim
2️⃣ Panji Khaibar
لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
“Aku akan memberikan panji kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.” HR. al-Bukhārī & Muslim
➡️ Panji itu diberikan kepada ʿAlī.
3️⃣ Ayat Mubahalah
فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ…
(QS. Āli ʿImrān: 61)
Rasulullah ﷺ keluar membawa:
ʿAlī, Fāṭimah, al-Ḥasan, dan al-Ḥusain
(HR. Muslim)
Sikap Muʿāwiyah
Setelah mendengar penjelasan Saʿad:
Muʿāwiyah tidak memaksa
Tidak menghukum Saʿad
Menghormati kedudukannya sebagai sahabat besar
➡️ Ini menunjukkan:
Perbedaan ijtihad ≠ permusuhan pribadi
Para sahabat menjaga adab walau berbeda
Pelajaran Besar
1. Saʿad netral dalam fitnah, tidak ikut mencela siapa pun.
2. Ahlus Sunnah memuliakan seluruh sahabat, tanpa ghuluw dan tanpa celaan.
3. Dalil didahulukan atas emosi dan politik.
4. Perselisihan sahabat dibahas dengan ilmu, bukan propaganda
11. Wafatnya Saʿad bin Abī Waqqāṣ
Wafat: ±55 H
Usia: ±73–75 tahun
Dimakamkan: Baqīʿ al-Gharqad
Sahabat besar terakhir Ahlul Badar yang wafat di Madinah
Penutup
Kisah Saʿad bin Abī Waqqāṣ adalah pelajaran tentang:
Keteguhan iman
Adab dalam perbedaan
Kepemimpinan bertakwa
Kesabaran menghadapi fitnah
Semoga Allah meridhai beliau dan menjadikan kita meneladani akhlak para sahabat. Aamiin.



