Tafsir Surat Al-Mulk {Bagian 1}

Tafsir Surat Al-Mulk

( Kerajaan )

Surat Makkiyyah

Surat Ke-67: 30 Ayat

 

Keutamaan Surat Al-Mulk

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ سُورَةً فِي الْقُرْآنِ ثَلَاثِينَ آيَةً شَفَعَتْ لِصَاحِبِهَا حَتَّى غُفِرَ لَهُ: تَبارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Sesungguhnya terdapat sebuah surat di dalam al-Qur-an yang berjumlah 30 ayat yang memberi syafa’at kepada pembacanya hingga dia diampuni, (yaitu yang awalnya) Tabaarakal ladzii biyadihil Mulk.”
Diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan yang empat. At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits hasan.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan al-Hafizh adh-Dhiya’ al-Maqdisi, dari Anas , ia mengatakan bahwa Rasulullah ber- sabda:

سُورَةً فِي الْقُرْآنِ خَاصَمَتْ عَنْ صَاحِبِهَا حَتَّى أَدْخَلَتْهُ الْجَنَّةَ: تَبارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Sebuah surat dalam al-Qur-an yang memperjuangkan pembacanya hingga memasukkannya ke Surga, (yaitu) Tabaarakal ladzii biyadihil Mulk.”

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Al-Mulk, Ayat 1-5

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ، الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ، ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَّهُوَ حَسِيْرٌ، وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (1) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun (2) Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? (3) Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih (4) Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.” (5)

Pengagungan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Atas Diri-Nya

Allah Subhanallahu wa ta’ala mengagungkan Dzat-Nya yang mulia dan mengabarkan bahwa kekuasaan yang sebenarnya itu ada di tangan-Nya, artinya Dia-lah yang mengendalikan seluruh makhluk sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak seorang pun yang dapat menolak ketetapan-Nya, dan Dia tidak dipertanyakan tentang apa yang Dia perbuat. Demikian itu disebabkan keperkasaan, keadilan dan kebijaksanaan- Nya. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala  berfirman, {وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ} “Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Hakikat Ciptaan-Nya Berupa Kehidupan, Kematian, Seluruh Langit Dan Bintang-Bintang

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ} “Yang menjadikan mati dan hidup,” ayat ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa kematian adalah sesuatu yang terwujud karena ia diciptakan. Sedangkan makna ayat tersebut adalah bahwa Allah Subhanallahu wa ta’ala menjadikan segala makhluk dari ketiadaan untuk menguji siapakah di antara mereka yang paling baik perbuatannya, sebagaimana firman-Nya, { كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ} “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu?” (QS. Al-Baqarah: 28)

(Berdasarkan ayat tadi), keadaan yang pertama (yaitu tidak ada) dinamakan mati, sedangkan penciptaannya dinamakan hidup. Oleh karena itu Allah berfirman, { ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ } “Kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali.” (QS. Al-Baqarah: 28)

Firman-Nya, { لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا} “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya,”yakni amalnya yang paling baik, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin ‘Ajlan. Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ} “Dan Dia Maha- perkasa lagi Maha Pengampun,” yakni Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahaagung dan Yang Mahakuat. Walaupun demikian, Dia mengampuni, merahmati, memaafkan dan menghapuskan (dosa orang-orang yang kembali kepada-Nya).

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا } “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis,” yakni tingkatan demi tingkatan.

Apakah tingkatan-tingkatan itu bersambung ataukah terdapat ruang pemisah? Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang kedua, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang menerangkan Isra’ Mi’raj dan hadits lainnya.

Firman-Nya, { مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍ} “Kamu sekali-kali tidak tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang seimbang, ” yakni pada ciptaan Allah itu justru terdapat keseimbangan dan kesinambungan, tidak ada kepincangan, pertentangan, tidaksesuaian, kekurangan, aib serta kesalahan fatal atau kerusakan. Karenanya Dia berfirman, { فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ} “Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”Maksudnya, lihatlah ke langit dan amatilah, apakah engkau melihat ada cacat, kelemahan, ketidakberesan dan ketidakseimbangan?

Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid, adh-Dhahhak, ats-Tsauri dan lainnya berkata tentang firman-Nya, “Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Yakni, berpecah- pecah.” As-Suddi berkata tentang firman-Nya, { هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ } ‘Sesuatu yang tidak seimbang, yakni sesuatu yang rusak.” Qatadah juga berkata tentang firman-Nya, { هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ} ‘Adakah kamu lihat sesitatu yang tidak seimbang?’ Maksudnya, “Apakah kamu melihat sesuatu yang janggal, wahai manusia?”

Firman-Nya, { ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ} “Kemudian pandanglah sekali lagi,”Qatadah berkata, “Lafazh Karratain artinya marratain (dua kali).” { يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا} “Niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat,” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, “Yakni penglihatanmu akan kembali dengan hina.” Mujahid dan Qatadah berkata, “Akan kembali dengan rendah.”

Mengenai firman-Nya, {وَّهُوَ حَسِيْرٌ} “Dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah,”Ibnu ‘Abbas s berkata, “Lafazh حَسِيْرٌ artinya كَلِيْلٌ (yakni tumpul dan lemah).”

Mujahid, Qatadah dan as-Suddi berkata: الحَسِيْرٌ artinya yang benar- benar kepayahan. Jadi, makna ayat itu adalah bahwa walaupun kalian berkali-kali memandangnya, maka pandanganmu niscaya kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan dalam keadaan benar-benar payah atau tumpul disebabkan pengamatan yang berulang-ulang, namun tetap tidak menemukan keburukan sedikit pun.

Setelah Allah Subhanallahu wa ta’ala meniadakan kekurangan pada hasil ciptaan- Nya, maka Dia menjelaskan sifat kesempuraan-Nya seraya berfirman, { وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ } “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang,”yakni planet-planet yang ditempatkan di sana, baik planet-planet yang bergerak maupun planet yang kesannya menetap.

Firman-Nya, { وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ} “Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan.” Dhamir (kata ganti) هَا pada firman-Nya, جَعَلْنٰهَا kembali kepada jenis bintang-bintang, bukan kepada masing-masing bintang itu, karena Allah Subhanallahu wa ta’ala tidak akan melemparkan planet-planet itu. Akan tetapi yang dilemparkan itu adalah suluh-suluh atau bola api yang ada di sekitar bintang itu, yang terkadang bola api itu bersumber darinya. Wallaahu a’lam.

Firman-Nya, { وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ } “Dan Kami sediakan bagi mereka siksa Neraka yang menyala-nyala,” yakni Kami menjadikan syaitan-syaitan itu hina di dunia dan Kami juga telah menyiapkan untuk mereka adzab yang pedih di akhirat, sebagaimana firman-Nya pada permulaan surat ash-Shaaffaat,

اِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِزِيْنَةِ ِۨالْكَوَاكِبِ وَحِفْظًا مِّنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ مَّارِدٍ لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ دُحُوْرًا وَّلَهُمْ عَذَابٌ وَّاصِبٌ اِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan-syaitan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal. Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri- curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.”
(QS. Ash-Shaaffaat: 6-10)

Qatadah berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan bintang- bintang dengan tiga karakter, yaitu: sebagai perhiasan langit, pelontar syaitan, dan petunjuk jalan. Siapa pun yang menginterpretasikannya kepada selain itu maka itu merupakan pendapatnya sendiri dan telah menyalahi serta menyia-nyiakan kapasitasnya (sebagai manusia), se- lain itu ia telah membebani dirinya dengan sesuatu yang ketahui.” Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.

Al-Mulk, Ayat 6-11

وَلِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ، اِذَآ اُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا وَّهِيَ تَفُوْرُ، تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌ، قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ ەۙ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍۖ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ، وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ، فَاعْتَرَفُوْا بِذَنْۢبِهِمْۚ فَسُحْقًا لِّاَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

“Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali (6) Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu membara (7) hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?” (8) Mereka menjawab, “Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, “Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar.” (9) Dan mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (10) Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi jauhlah (dari rahmat Allah) bagi penghuni neraka yang menyala-nyala itu.” (11)

Sifat Jahannam Dan Penghuninya

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَ} “Dan” yakni, dan Kami telah mempersiapkan, { لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ } “Untuk orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, memperoleh adzab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,” yakni seburuk-buruk tempat tinggal.

Mengenai firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { اِذَآ اُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا} “Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara Neraka yang mengerikan,” Ibnu Jarir berkata, “Yakni mendengar teriakan.” { وَّهِيَ تَفُوْرُ} “Sedang Neraka itu menggelegak.” Ats-Tsauri berkata, “Neraka itu merebus mereka bagaikan biji-bijian yang sedikit, lalu dididihkan di dalam air yang banyak.”

Firman-Nya, { تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ } “Hampir-hampir (Neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah,” yakni Neraka itu hampir saja terpisah satu dengan yang lainnya lantaran marah terhadap mereka.

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌ قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ ەۙ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍۖ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ

“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (Neraka itu) bertanya kepada mereka: Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan? Mereka menjawab: “Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.”

Pada ayat di atas, Allah menyebutkan sifat adil-Nya terhadap makhluk, bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa pun melainkan setelah tegaknya hujjah atasnya dan diutusnya seorang Rasul kepada-nya, sebagaimana firman-Nya, { وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا } “Dan Kami Lidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (QS. Al-Israa’: 15) Juga firman-Nya,

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا فُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَتْلُوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۗقَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

“Sehingga apabila mereka sampai ke Neraka itu dibukakanlah pintu- pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu yang mem- bacakan kepadamu ayat-ayat Rabb-mu dan memperingatkan kepa- damu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab: Benar (telah datang).’ Tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir.”
(QS. Az-Zumar: 71) Demikianlah mereka mencela diri mereka sendiri dan mereka menyesal, sedangkan penyesalan itu sudah tidak bermanfaat lagi.

Mereka berkata, { لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ } “Sekiranya kami mendengarkan atau mémikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala,” yakni sekiranya kami memiliki akal sehingga mau memikirkan dan mendengarkan kebenaran yang Allah Subhanallahu wa ta’ala turunkan maka niscaya kami tidak akan ingkar kepada Allah dan tidak akan mengadakan tipu daya terhadap-Nya. Akan tetapi kami tidak memiliki kefahaman yang dengannya kami memahami apa yang datang kepada para Rasul. Kami tidak memiliki akal (yang lurus) yang membimbing kami mengikuti ajaran mereka.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَاعْتَرَفُوْا بِذَنْۢبِهِمْۚ فَسُحْقًا لِّاَصْحٰبِ السَّعِيْرِ} “Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala.” Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abul Bakhtari ath-Thaa-i, ia berkata, “Telah mengabarkan kepadaku orang yang telah mendengarkan langsung dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

لَنْ يَهْلِكَ النَّاسُ حَتَّىٰ يُعْذِرُوْا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

‘Manusia tidak akan dibinasakan hingga mereka melimpahkan dosa kepada dirinya sendiri.’
[Maksudnya, dosanya banyak dan ia menyadari bahwa ia berhak masuk Ne- raka]”

 

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: