Tafsir Surat Al-Jumu’ah (Bagian 1)

Tafsir Surat Al-Jumu’ah

( Hari Jum’at )

Surat Madaniyah

Surat Ke-62 : 11 Ayat

 

 

Keutamaan Surat Al-Jumu’ah

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma dan Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwa ketika mengimami shalat Jum’ah, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membaca surat al-Jumu’ah dan al-Munafiqun. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahiih-nya.

 

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah

Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Al-Jumu’ah, Ayat 1-4

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ، هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ، وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

 

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana (1) Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata (2) Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana (3) Demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar.” (4)

Segala Sesuatu Bertasbih Kepada Allah

Allah Subhanallahu wa ta’ala mengabarkan bahwa segala sesuatu yang ada di langit maupun di bumi bertasbih kepada-Nya. Seluruh makhluk-Nya, baik itu benda hidup maupun benda mati, semuanya bertasbih kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya, {وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ}”Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Israa’: 44)

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ} “Raja, Yang Mahasuci,”yakni Dia-lah Pemilik serta Pengendali langit dan bumi berdasarkan ketetapan-Nya. Yang Mahasuci, yakni Yang terhindar dari segala kekurangan atau keburukan dan Yang memiliki sifat sempurna.

Adapun firman-Nya, {الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ} “Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana,” telah banyak dijelaskan sebelumnya.

Anugerah Atas Diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Firman-Nya, {هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ} “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka. Yang dimaksud dengan kaum ummiy (buta huruf) adalah bangsa Arab, sebagaimana firman-Nya,

وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْ ۗ فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِ

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummiy: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhmya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba- Nya.”
(QS. Ali ‘Imran: 20)

Penyebutan bangsa Arab secara khusus tidak menafikan selain mereka. Adapun yang dimaksud oleh ayat ini adalah bahwa karunia yang diberikan kepada bangsa Arab adalah lebih sempurna dan lebih besar, sebagaimana firman-Nya, {وَاِنَّهٗ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ} “Dan sesungguhnya al-Qur-an itu benar-bemar suatu kemuliaan besar bagimu (Muhammad) dan bagi kaummu (bangsa Arab).” (QS. Az-Zukhruf: 44)

Namun pada dasarnya, al-Qur-an merupakan suatu kemuliaan baik untuk bangsa Arab, maupun untuk selainnya. Semuanya mendapatkan kemuliaan dengan al-Qur-an.

Begitu pula firman-Nya, {وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ} “Dan berilah per- ingatan kepada kerabat-kerabatmú yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’araa: 214) [tidak menunjukkan bahwa Rasulullah terlarang untuk mem- berikan peringatan kepada selain mereka], karena semua ayat (yang khusus) tersebut tidak bertolak belakang dengan firman-Nya (yang bersifat umum), yakni: {قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا} “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamų semua.” (QS. Al-A’raf: 158) Juga firman-Nya, {لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ} “Supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur-an (kepadanya).” (QS. Al-An’aam: 19)

Demikian pula firman-Nya yang mengabarkan tentang al-Qur- an, {وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ مِنَ الْاَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهٗ} “Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur- an, maka Nerakalah tempat yang diancamkan baginya,” (QS. Hud: 17) Serta ayat-ayat lain yang sejenis, semuanya menjelaskan tentang keumuman pengutusan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada seluruh makhluk, baik dari kalangan jin maupun manusia. Penulis telah menjelaskannya pada tafsir surat al-An’aam berikut dengan ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang mendukungnya. Segala puji dan anugerah hanya milik Allah.

Ayat ini merupakan jawaban Allah Subhanallahu wa ta’ala atas permohonan Nabi Ibrahim ketika dia mendo’akan penduduk Makkah agar Allah Subhanallahu wa ta’ala mengutus ayat-Nya, menyucikan mereka, serta mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah.

Akhirnya Allah Subhanallahu wa ta’ala mengutusnya di saat keperluan sangat mendesak. Di mana Allah sangat murka kepada penduduk bumi, baik selain mereka (disebabkan penyeleweng- orang Arab an mereka), kecuali segelintir manusia dari Ahli Kitab berpegang teguh pada risalah Nabi Isa ‘Alahi Sallam. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Pasalnya, dahulu bangsa Arab berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim ‘Alaihi Sallam, akan tetapi mereka mengubah, mengganti, menukar, dan menyelisihinya. Mereka mengganti tauhid dengan syirik, menukar keyakinan dengan keragu-raguan, dan mereka membuat perkara-perkara yang tidak disyari’atkan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala. Kasus yang sama juga menimpa golongan Ahli Kitab. Mereka pun telah mengubah, menye- lewengkan dan menafsirkan Kitab Suci mereka dengan seenaknya. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan sebuah syari’at agung nan sempurna untuk semua makhluk.

Di dalam syari’at Nabi Muhammad ini terdapat petunjuk dan penjelasan dari segala sesuatu yang mereka butuhkan, baik perkara kehidupan dunia maupun perkara akhirat mereka. Di dalamnya terdapat ajakan kepada perbuatan yang mendekatkan mereka kepada Surga dan keridhaan Allah Subhanallahu wa ta’ala. Juga terdapat larangan-larangan yang dapat menyeret mereka ke dalam Neraka dan kemurkaan Allah.

Syari’at tersebut merupakan pemutus dan penjelas untuk segala macam kerancuan dan keraguan, baik dalam masalah yang pokok maupun selainnya. Dalam syari’at ini, Allah Subhanallahu wa ta’ala telah menghimpun seluruh kebajikan yang ada pada syari’at-syari’at sebelumnya. Allah Subhanallahu wa ta’ala telah memberikan kepada Rasulullah apa-apa yang tidak diberikan kepada orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang ada kemudian. Beliaulah yang terakhir. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada beliau hingga hari Kiamat.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam Adalah Rasul Untuk Bangsa Arab Dan Non-Arab

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ } “Dan (Juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” Diriwayatkan oleh Imam Abu ‘Abdillah al-Bukhari, dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Nabi, tiba-tiba turun kepadanya surat al-Jumu’ah, { وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ } “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.”Para Sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau tidak menjawab hingga mereka bertanya tiga kali. Di antara kami terdapat Salman al-Farisi, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meletakkan tangannya di atas Salman al-Farisi seraya bersabda:

لَوْ كَانَ الْإِيْمَانُ عِنْدَ الشُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ – أو: رَجُلٌ – مِنْ هَؤُلَاءِ

“Kalau sekiranya iman itu pada bintang tsurayya, pastilah akan dicapai oleh beberapa orang -atau seseorang- dari mereka (yakni bangsa Persia, sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam saat itu sedang memegang Salman).”
Diriwayatkan juga oleh Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Jarir.

Hadits ini menunjukkan bahwa surat ini adalah surat Madaniyyah dan menunjukkan keuniversalan pengutusan beliau kepada seluruh manusia, sebab beliau sendiri menafsirkan firman Allah ini, yakni, “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka,” dengan orang Persia. Oleh karena ini pula, Rasulullah melayangkan suratnya kepada bangsa Persia, Romawi dan bangsa-bangsa dunia lainnya, untuk mengajak mereka meniti jalan Allah Subhanallahu wa ta’ala, dan mengikuti risalah yang beliau emban.

Oleh karenanya, mengomentari ayat, “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka,” Mujahid dan selainnya berkata, “Mereka yang dimaksud adalah orang- orang Ajam (non Arab) dan semua orang yang percaya kepada Nabi dari orang-orang selain Arab.”

Firman-Nya, { وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ} “Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” Dia-lah yang memiliki keperkasaan dan memiliki hikmah dalam ketetapan-Nya yang bersifat syar’i maupun qadari.

Firman-Nya, { ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ } “Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” Yang dimaksud dengan karunia yang besar adalah kenabian yang Allah Subhanallahu wa ta’ala karuniakan kepada Muhammad dan keistimewaan umatnya yang telah mendapatkannya.

Al-Jumu’ah, Ayat 5-8

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ، قُلْ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ هَادُوْٓا اِنْ زَعَمْتُمْ اَنَّكُمْ اَوْلِيَاۤءُ لِلّٰهِ مِنْ دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ، وَلَا يَتَمَنَّوْنَهٗٓ اَبَدًاۢ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالظّٰلِمِيْنَ، قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) [Maksudnya, tidak mengamalkan isinya, antara lain tidak membenarkan ke- datangan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam] adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (5) Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang Yahudi! Jika kamu mengira bahwa kamulah kekasih Allah, bukan orang-orang yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu orang yang benar.” (6) Dan mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim (7) Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (8)

Celaan Terhadap Orang-Orang Yahudi Dan Ajakan Agar Mereka Mengharapkan Kematian Dengan Jalan Mubahalah

[Mubahalah Yakni, saling mendo’akan kebinasaan bagi siapa saja di antara mereka yang salah atau sesat]

Allah Subhanallahu wa ta’ala mencela orang Yahudi yang telah diberikan kitab Taurat, tapi mereka tidak melaksanakan perintah Allah Subhanallahu wa ta’ala agar meng- amalkannya. Perumpamaan mereka adalah seperti seekor keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal, ia tidak tahu kandungan kitab yang dibawanya. Keledai itu hanya sekedar memikul saja tanpa mengetahui isi kandungannya. Begitu pula dengan orang Yahudi yang telah diberikan Kitab Suci, mereka menghafalkan lafazhnya saja, tapi tidak mau memahami atau melaksanakan isinya, bahkan mereka mengubah dan menyimpangkannya. Dengan demikian keadaan mereka lebih buruk dari keledai itu, karena keledai itu memang tidak mampu berpikir sedangkan mereka mampu berpikir tapi tidak mau melaksanakannya.

Oleh kareņa itu dalam ayat lain Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ} “Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf: 179) Dan Dia berfirman di sini, {بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ} “Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.”

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ هَادُوْٓا اِنْ زَعَمْتُمْ اَنَّكُمْ اَوْلِيَاۤءُ لِلّٰهِ مِنْ دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Katakanlah: ‘Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahrwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Maksudnya, apabila kalian menganggap telah mendapatkan petunjuk, sedangkan Mu- hammad beserta para Sahabatnya berada dalam kesesatan, maka mohonlah kebinasaan bagi pihak yang sesat dari dua kelompok manusia yang ada, jika kalian adalah orang-orang yang benar.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَلَا يَتَمَنَّوْنَهٗٓ اَبَدًاۢ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ} “Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri,” yakni karena kekafiran, kezhaliman dan kenistaan yang telah mereka perbuat. {وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالظّٰلِمِيْنَ} “Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim.”

Sebelumnya, pada surat al-Baqarah telah dijelaskan tentang ajakan mubahalah (saling mendo’akan kebinasaan bagi pihak mana saja di antara mereka yang sesat) kepada orang-orang Yahudi, yaitu ketika Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ اِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ عِنْدَ اللّٰهِ خَالِصَةً مِّنْ دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ وَلَنْ يَّتَمَنَّوْهُ اَبَدًاۢ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِالظّٰلِمِيْنَ وَلَتَجِدَنَّهُمْ اَحْرَصَ النَّاسِ عَلٰى حَيٰوةٍ ۛوَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا ۛيَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهٖ مِنَ الْعَذَابِ اَنْ يُّعَمَّرَۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ

“Katakanlah: Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (Surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka ingini- lah kematian(mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan- kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang aniaya. Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan (mereka) dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah: 94-96)

Dan kami telah menjelaskan mubahalah yang dimaksud ketika tersebut. Kami jelaskan bahwa mubahalah itu menafsirkan adalah saling mendo’akan kebinasaan bagi siapa saja di antara mereka (diri mereka sendiri atau para musuhnya) yang sesat.

Sebagaimana pula tentang ajakan mubahalah terhadap orang-orang Nasrani yang termaktub dalam surat Ali Imran, di mana Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”
(QS. Ali ‘Imran: 61)

Adapun ajakan mubahalah terhadap orang-orang kafir terdapat dalam surat Maryam. Allah Ta’ala berfirman, {قُلْ مَنْ كَانَ فِى الضَّلٰلَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمٰنُ مَدًّا} “Katakanlah: Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Rabb yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya.” (QS. Maryam: 75)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

قالَ أبو جَهْلٍ : إن رأيتُ محمدًا يصلِّي عندَ الكعبةِ لآتينَّهُ حتَّى أطأ على عُنقِهِ . قالَ : فقالَ : لو فعلَ لأخذَته الملائكةُ عَيانًا ، ولو أنَّ اليَهودَ تمنَّوا الموتَ لماتوا ورأَوا مقاعدَهُم منَ النَّارِ ، ولو خرجَ الَّذينَ يُباهلونَ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لرجَعوا لا يجِدونَ مالًا ولا أَهْلًا

“Abu Jahl berkata, ‘Apabila aku melihat Muhammad di Ka’bah niscaya akan saya datangi dan kuinjak kepalanya.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Apabila dia benar hendak melakukannya maka Malaikat secara terang-terangan akan menindasnya. Kalau sekiranya orang Yahudi (yang di ajak mubahalah) mengharapkan kematian (yakni menerima ajakan mubahalah) niscaya mereka akan mati dan melihat posisi mereka di Neraka. Dan kalau saja orang-orang yang bermubahalah dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu pergi, niscaya mereka tidak akan menemukan lagi keluarga atau harta benda mereka (kecuali telah binasa).”
Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. Firman-Nya.

Firman-Nya,

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”Ini sebagaimana firman-Nya yang ada di surat an-Nisaa’, {اَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ} “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”
(QS. An-Nisaa’: 78)

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: