Tafsir Surat Al-Kautsar

Tafsir Surat Al-Kautsar

(Nikmat yang Banyak)

Surat Madaniyyah (Ada yang mengatakan surat Makkiyyah)

Surat Ke-108 : 3 Ayat

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Surat Al-Kautsar, Ayat 1-3

إِنَّــــــــآ أَعْطَيْنَـــــٰكَ ٱلْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَٱلْأَبْتَرُ.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.(1) Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.(2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.(3)”

Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’I meriwayatkan, dan redaksinya dari Muslim, dari Anas, ia berkata, “Ketika kami sedang berkumpul di masjid bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau tertidur sejenak, kemudian beliau mengangkat kepala sambal tersenyum. Kami bertanya, ‘Apa gerangan  yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Tadi telah turun kepadaku suatu surat.”

     Lalu beliau membaca, {بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ} “Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih , Maha Penyayang.”

{إِنَّــــــــآ أَعْطَيْنَـــــٰكَ ٱلْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَٱلْأَبْتَرُ.} “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

     Kemudian beliau berabda, “Tahukah kalian apakah al-kautsar itu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Beliau bersabda:

فَاِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيْهِ رَبِّيْ عَزّ وَجال، عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيْرٌ، هُوَحَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَمَامَةِ، آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُوْمِ فِي السَّمَاءِ، فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ، فَأَقُوْلُ: رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِيْ. فَيَقُوْلُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِيْ مَا أَحْدَثَ بَعْدَكَ.

“Sesungguhnya al-Kautsar itu adalah suatu sungai yang dijanjikan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala kepadaku. Di atasnya terdapat kebajikan yang banyak. Ia adalah sebuah telaga yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat. (Jumlah) bejananya sebilangan bintang di langit. Maka seorang hamba di antara mereka ada yang tertahan (sehingga tidak bisa mendatanginya), lalu aku berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya ia termasuk golongan umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dia lakukan sepeninggalmu.'”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang terdiri dari tiga orang rawi, yaitu: dari Muhammad bin Fudhail dari al-Mukhtar bin Fulful dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Anas Radiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِنَهْرٍ، حَافَتَاهُ خِيَامُ اللُّؤْلُؤِ، فَضَرَبْتُ بِيَدِيْ إِلَىٰ مَا يَجْرِيْ فِيْهِ الْمَاءَ، فَإِذَا مِسْكٌ أَذْفَرُ. قُلْتُ: مَا هَـــٰذَا الْكَوْثَرُ الَّذِيْ أَعْطَا كَهُ اللهُ عزّ و جال.

“Aku masuk Surga. Tiba-tiba aku berada di suatu sungai yang mana kedua tepinya adalah tenda yang terbuat dari mutiara. Lalu aku mencelupkan tanganku ke dalam air yang mengalir di sungai tersebut, maka tiba-tiba tanganku beraroma kasturi(misik) yang sangat wangi. Aku bertanya, ‘Apa ini wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Inilah sungai al-Kautsar yang telah dianugerahkan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala kepadamu.'”

Hadits seperti itu juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahiih-nya dan Muslim dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan perjalanan mi’raj-nya ke langit, beliau bersabda:

أَتَيْتُ عَلَىٰ نَهْرٍ حَا فَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ الْمُجَوَّفِ فَقُلْتُ: مَا هَـٰذَا يَا جِبْرِيْلُ؟ قَالَ: هَـٰذَا الْكَوْثَرُ.

“Aku telah mendatangi suatu sungai di mana kedua tepinya adalah kubah yang terbuat dari mutiara yang berongga. Lalu aku bertanya, ‘Sungai apa ini wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Inilah sungai al-Kautsar.'”

Redaksi hadits ini milik al-Bukhari.

     Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwa seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah al-Kautsar itu?” Beliau menjawab:

نَهْرٌ فِي الْجَنَّةِ أَعْطَانِيْهِ رَبِّيْ، لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحَلَّىٰ مِنَ الْعَسَلِ، فِيْهِ طُيُوْرٌ أَعْنَا قُهَا كَأَعْنَاقِ الْجُزُرِ.

“Yaitu suatu sungai di Surga, dianugerahkan oleh Rabb-ku kepadaku. Sungguh, sungai tersebut lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, di sekelilingnya terdapat burung-burung yang lehernya bagaikan leher unta.”

     ‘Umar berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya burung-burung itu benar-benar mengenyam kenikmatan.” Beliau bersabda:

آكِلُهَا أَنْعَمُ مِنْهَا يَا عُمَرَ.

“Pemakan (burung-burung itu yakni penduduk Surga) lebih mengenyam kenikmatan wahai ‘Umar.”

     Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata tentang al-Kautsar, “Ia adalah kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada beliau.” Abu Bisyr berkata, “Aku berkata kepada Sa’id bin Jubair, ‘Beberapa orang menyatakan bahwa al-Kautsar itu adalah suatu sungai di Surga.’ Lalu Sa’id berkata, ‘Sungai yang berada di Surga termasuk kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada beliau.”

     Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak.” Tafsir ayat ini mencakup sungai dan yang lainnya, karena ٱلْكَوْثَرُ berasal dari اَلْكَثْرَةُ, yaitu kebaikan yang banyak, dan sungai di Surga termasuk di dalamnya.

     Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْكَوْثَرُ: نَهْرٌ فِي الْجَنَّةِ، حَافَتَاهُ مِنْ ذَهَبٍ، وَالْمَاءُ يَجْرِيْ عَلَى اللُّؤْلُؤِ، وَمَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَىٰ مِنَ لالْعَسَلِ

“Al-Kautsar merupakan suatu sungai di Surga, kedua tepinya tersebut terbuat dari emas, airnya mengalir di atas mutiara, dan warna airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu.”

Hadits ini diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir . At-Tirmidzi berkata, “Hasan shahih.”

Selanjutnya firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ} “Maka laksanakanlah shalat karena Rabb-mu, dan berkurbanlah(sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” Maksudnya, sebagaimana Kami telah memberikan kepadamu kebaikan yang banyak di dunia dan di akhirat dan di antara kebaikan tersebut adalah sungai yang telah di sebutkan sifatnya, maka murnikanlah shalatmu, baik yang wajib maupun yang Sunnah, dan laksanakan kurban karena Rabb-mu. Sembahlah Dia satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan berkurbanlah atas nama-Nya satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

     Ini sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa ta’ala,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri(muslim).'” (QS. Al-An’am: 162-163)

     Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ‘Atha’, Mujahid, ‘Ikrimah dan al-Hasan, berkata, “Maksudnya adalah menyembelih unta dan sejenisnya.” Qatadah, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, adh-Dhahak, ar-Rabi’, ‘Atha’ al-Khurasani, al-Hakam, Isma’il bin Abi Khalid dan ulama Salaf lainnya juga mengatakan demikian.

     Ini bertentangan dengan apa yang dilakukan orang-orang musyrik yang bersujud kepada selain Allah dan berkurban atas nama selain Allah, sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَلَا تَأكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ} “Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121)

 

Musuh Nabi Shallalahu Alaihi Wa Sallam Terputus Dari Rahmat Allah

     Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala {إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ} “Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” Mereka membencimu (wahai Muhammad) dan membenci petunjuk, kebenaran, bukti nyata dan cahaya terang yang kamu bawa. Merekalahyang terputus dari rahmat Allah, yang paling rendah, paling hina dan yang terputus nama baiknya.

     Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Qatadah berkata, “Ayat tersebut turun mengenai al-‘ Ash bin Wa-il.” Muhammad bin Ishaq berkata dari Yazid bin Ruman, ia berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam disebut di depan al- ‘Ash bin Wa-il, maka dia berkata, ‘Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah orang yang terputus, tidak mempunyai keturunan. Apabila ia binasa maka namanya terputus.’ Lalu Allah menurunkan surat tersebut.”

     Syamir bin ‘Athiyyah berkata, “Ayat tersebut turun mengenai ‘Uqbah bin Abi Mu’aith.”

     Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma dan ‘Ikrimah juga berkata, “Ayat tersebut turun pada Ka’ab bin al-Asyraf dan sekelompok orang-orang kafir Quraisy.” Al-Bazzar meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ketika  Ka’ab bin al-Asyraf datang ke Makkah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya, ‘Engkau adalah pemimpin mereka, tidakkah engkau memperhatikan orang yang hina dan terputus dari kaumnya ini? Ia mengira bahwa dirinya lebih baik dari kami, padahal kami adalah para pelayan jama’ah haji, pelayan Ka’bah dan suka memberi minum(kepada jama’ah haji.’ Lalu Ka’ab bin al-Asyaf berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.'” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, “Maka turunlah ayat, “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” Demikianlah riwayat dari al-Bazzar, dan sanad riwayat tersebut shahih.

     Dari ‘Atha;, ia berkata, “Ayat tersebut turun kepada Abu Lahab. Hal itu terjadi ketika putera Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam wafat. Abu Lahab pergi menemui orang-orang musyrik, lalu berkata, ‘Terputuslah keturunan Muhammad malam ini.’ Lalu Allah menurunkan ayat, “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

     As-Suddi berkata, “Apabila anak laki-laki seseorang meninggal dunia, maka orang-orang berkata, “Terputuslah keturunannya.” Sehingga ketika putera Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam wafat, mereka pun berkata, ‘Terputuslah keturunan Muhammad.’ Maka Allah menurunkan ayat, “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” Karena kebodohan mereka, maka mereka menyangka bahwa apabila anak beliau wafat, maka terputuslah nama beliau. Jauh sekali dan sama sekali tidak demikian. Justru Allah Subhanallahu wa ta’ala melanggengkan nama beliau di hadapan mata seluruh manusia. Allah Subhanallahu wa ta’ala menjadikan syari’atnya sebagai kewajiban di pundak para hamba, terus menerus selama-lamanya hingga hari Kebangkitan dan Pembalasan. Senoga salam sejahtera selalu tercurah untuk beliau sampai akhir zaman.

     Demikianlah akhir tafsir surat al-Kautsar. Hanya milik Allah Subhanallahu wa ta’ala-lah segala puji dan anugerah.

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: