Tafsir Surat Al-Qolam {Bagian 3}

Al-Qolam, Ayat 48-52

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌ، لَوْلَآ اَنْ تَدَارَكَهٗ نِعْمَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ لَنُبِذَ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ مَذْمُوْمٌ، فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ، وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ ۘ ، وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih (48) Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela (49) Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang saleh (50) Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka, ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, “Dia (Muhammad) itu benar-benar orang gila.” [Menurut kebiasaan di negeri Arab, seseorang dapat membinasakan binatang atau manusia dengan menujukan pandangannya yang tajam. Hal ini hendak dilakukan pula kepada Nabi Muhammad , tetapi Allah memeliharanya, sehingga terhindar dari bahaya itu, sebagaimana dijanjikan Allah dalam surat al-Maa-idah ayat 67. Kekuatan pandangan mata itu pada masa sekarang mirip dengan hypnotisme] (51) Padahal (Al-Qur’an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.” (52)

 

Perintah Bersabar, Dan Larangan Tergesa-Gesa Seperti Yang Dilakukan Oleh Nabi Yunus ‘Alaihi Sallam

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَاصْبِرْ} “Maka bersabarlah” wahai Muhammad terhadap gangguan yang dilancarkan kaummu kepadamu dan pendustaan mereka terhadapmu, karena Allah Subhanallahu wa ta’ala akan memberi keputusan untukmu atas mereka dan akan menjadikan kemenangan untukmu dan para pendukungmu di dunia dan akhirat.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ} “Dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan,” yakni Yunus bin Matta ‘Alahi Sallam, ketika pergi meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka.

Nabi Yunus mengarungi lautan, lalu ia ditelan ikan dibawa ke tengah lautan yang gelap gulita. Ia mendengar tasbih yang dilantunkan oleh lautan dan apa yang ada di dalamnya. Mereka men- sucikan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahakuasa. Ia pun menyadari bahwa takdir paus yang telah ditetapkannya tidak dapat ditolak. Maka di kala seperti itu Yunus berdo’a dalam gelap gulita, {لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ} “Tidak ada ilah (yang berhak di- ibadahi dengan benar) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesunggubnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiyaa’: 87)

Firman-Nya, {فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـْۨجِى الْمُؤْمِنِيْنَ} “Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiyaa’: 88)

Firman-Nya, {فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ} “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. ” (QS. Ash-Shaaffaat: 143-144)

Di surat ini (al-Qalam), Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌ} “Ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan as-Suddi berkata, “Yakni dalam keadaan berduka cita.” Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ} “Lalu Rabb-nya memilihnya dan menjadi- kannya termasuk orang-orang yang shalih.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ‘Abdullah bin Mas’ud. ia mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda:

لَا ينبَغي لأحَدٍ أن يقولَ أنا عِندَ اللَّهِ خَيرٌ مِن يُونُسَ بنِ مَتَّى

“Tidak selayaknya seorang berkata: ‘Saya lebih baik dari Yunus bin Matta.”

Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari. Hadits ini juga tercantum dalam ash-Shahiihain dari hadits Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu

 

Penyakit Akibat Ain Benar-Benar Bisa Terjadi

[‘Ain (pandangan mata seseorang) dapat menyebabkan penyakit, kerusakan atau kebinasaan pada apa yang dilihatnya, baik diri sendiri, orang lain, atau binatang dan benda mati. ‘Ain memiliki perbedaan yang jelas dengan hasad (dengki). Jika hasud (dengki) timbul karena rasa benci dan mengharapkan kenikmatan pada orang lain hilang, maka ‘ain timbul karena rasa kagum, membesar-besarkan sesuatu atau membaik-baikkan sesuatu. Jika manusia tidak dapat mendengki dirinya sendiri, maka manusia dapat meng-ain dirinya sendiri atau harta miliknya sendiri. Jika hasud hanya dimiliki oleh pribadi yang buruk, maka ain dapat dimiliki oleh pribadi yang shalih ketika ia mengagumi sesuatu (tanpa berkeinginan hilangnya kenikmatan yang mengagumkannya tersebut dari orang yang dilihatnya), sedangkan dia lupa bertasbih kepada Al- lah dan mendo’akan keberkahan pada apa yang dikaguminya itu. Seperti inilah, ‘ain yang terjadi pada diri ‘Amir ketika memandang Sahl, sehingga Sahl terjatuh pingsan akibat pandangan ‘Amir. Riwayat tentang keduanya akan diterangkan sebentar lagi insya Allah. Ada satu kesamaan antara ‘ain dan hasad, yaitu kedua-duanya sama-sama menimbulkan kemadharatan bagi korbannya. Wallaahu a’lam].

Firman-Nya, {وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ} “Dan Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan (jahat) mereka,”Ibnu ‘Abbas , Mujahid dan yang lainnya berkata, لَيُزْلِقُوْنَكَ artinya memberikan pengaruh  kepadamu. melakukan ‘ain kepadamu karena hasad dan kebencian mereka terhadapmu. {بِاَبْصَارِهِمْ} “Dengan pandangan mereka, “yakni mereka melakukan ‘ain [IbnuQutaibah berkata, “Maksudnya, bukanlah orang-orang kafir itu menimpakan madharat kepada Nabi sebagaimana orang yang memiliki ain memadharatkan terhadap orang yang dikaguminya. Maksud ayat ini adalah ketika Nabi membacakan al-Qur-an, maka mereka memandang tajam kepada Nabi dengan pandangan permusuhan, kebencian dan kemurkaan, sehingga seakan-akan hampir saja menjatuhkan beliau .” (Lihat Fat-hul Qaadir, karya Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, tafsir surat al-Qalam)] kepadamu karena hasad dan kebencian mereka terhadapmu.

Ayat ini pun merupakan dalil bahwa ‘ain dan pengaruhnya itu benar-benar nyata, tentunya dengan izin Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits tentang hal itu yang diriwayatkan melalui jalur yang banyak.

(Hadits Buraidah bin al-Hushaib Radiyallahu ‘anhu ): Diriwayatkan oleh Abu ‘Abdillah Ibnu Majah, dari Buraidah bin al-Hushaib, ia mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda:

لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنِ أَوْ حُمَةٍ

“Tidak boleh melakukan ruqyah [Penyembuhan dengan menggunakan al-Quran atau bacaan yang diajarkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam] kecuali dari ‘ain atau sengatan (binatang berbisa).”

Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Muslim telah meriwayatkannya di kitab Shahiih-nya dari Buraidah secara mauquf, di dalamnya terdapat satu kisah. At-Tirmidzi juga meriwayatkannya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Imran bin Hushain secara mauquf, yaitu yang berbunyi:

لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنِ أَوْ حُمَةٍ

“Tidak boleh ruqyah kecuali dari ‘ain atau sengatan.”

Diriwayatkan oleh Muslim pada kitab Shahiih-nya, dari Ibnu “Abbas Radiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتِ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوْا

“‘Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang mendahului Qadar, niscaya ‘ain-lah sesuatu itu [Di sini Rasulullah mengandaikan sesuatu yang mustahil, dan hal ini boleh. Hadits ini pun berisi penetapan bahwa tidak ada yang dapat mendahului takdir. Dengan pengandaian seperti ini, Rasulullah hendak menggambarkan bagaimana nyatanya pengaruh ‘ain tersebut]. Dan bila kalian diminta untuk mandi [Seseorang yang telah diketahui melakukan ‘ain sehingga membahayakan saudaranya, hendaklah disuruh mandi dan menuangkan airnya kepada korbannya. Cara mandinya akan segera diterangkan]”, maka lakukanlah. ” Al-Bukhari tidak menyertai Muslim dalam periwayatan hadits ini. Shallallahu alaihi wa sallam Dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma , ia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah memohonkan perlindungan untuk al-Hasan dan al-Husain seraya bersabda,

أُعِيْذُ كُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ وَيَقُوْلُ هَكَذَا كَانَ إِبْرَهِيمُ يُعَوِّذُ إِسْحَقَ وَ إِسْمَعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ

“Saya memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaitan, binatang berbisa dan dari ‘ain (mata) yang menyakitkan.’ Beliau bersabda: ‘Demikian pula, dahulu Ibrahim melindungkan Ishaq dan Isma’il ‘Alaihi Sallam. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan para penulis kitab Sunan.”

(Hadits Abu Umamah As’ad bin Sahl bin Hanif ): Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Umamah As’ad bin Sahl bin Hanif, ia berkata, “‘Amir bin Rabi’ah melewati (melihat) Sahl bin Hanif yang sedang mandi, maka dia berkata, ‘Saya tidak pernah melihat seperti (yang aku lihat) hari ini, dan tidak ada kulit tersembunyi [Ini adalah hanya ungkapan kekaguman, tanpa ada rasa dengki. Namun ia ti- dak bertasbih kepada Allah ketika melihat apa yang dikaguminya, dan tidak mendo’akan keberkahan bagiì saudaranya yang dilihatnya itu]. Tidak lama kemudian Sahl terjatuh ke tanah. Ia dibawa kepada Rasulullah. Dikatakan kepada beliau bahwa Sahl telah diserang oleh seseorang.

Nabi bersabda: ‘Siapa yang kalian tuduh (telah menyerang- nya)?’Mereka berkata, ‘Amir bin Rabi’ah.’ Beliau bersabda, ‘Atas dasar salah seorang dari kalian melihat dari saudaranya sesuatu yang membuatnya kagum, hendaklah ia mendo’akan keberkahan untuknya [Seperti dengan mengatakan, “Maasya Allaah, baarakallaah.” Hal ini untuk mengembalikan kekaguman kepada Allah yang telah menciptakannya, se- hingga tidak memicu ‘ain kepada saudaranya]. Kemudian beliau meminta air dan memerintahkan Amir untuk mandi. Dia pun membasuh wajahnya, kedua tangannya hingga siku dan kedua lututnya serta apa yang ada di dalam kainnya. [Kiasan untuk mengungkapkan paha, pinggul dan apa yang ada di sekitarnya] Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan ‘Amir untuk menyiram air pada Sahl. Sofyan (seorang rawi) berkata, Ma’mar menuturkan dari az-Zuhri, Beliau memerintahkan ‘Amir untuk menuangkan berjana (berisi air) dari belakang tubuh Sahl.

An-Nasa-i telah meriwayatkan melalui beberapa jalur dari Abu Umamah, “Dan dia (‘Amir) menuangkan bejana dari belakang tubuh Sahl.”

(Hadits Abu Sa’id al-Khudri): Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memohon perlindungan dari pengaruh mata jin dan mata manusia. Ketika surat al-mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas) turun, maka beliau menggunakan keduanya saja dan meninggalkan selainnya.” Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. At-Tirmidzi berkata, “(Ini hadits) hasan.”

(Hadits Abu Sa’id al-Khudri yang lain): Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Sa’id bahwa Jibril datang kepada Nabi seraya berkata, “Apakah engkau merasa kesakitan wahai Muham- mad?” Beliau bersabda, “Ya.” Dia berkata,

بِاسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ وَ عَيْنٍ يَشْفِيْكَ، بِاسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ

“Dengan menyebut nama Allah saya meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa dan mata yang mengincarmu. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut Nama-Nya saya meruqyahmu.”

Diriwayatkan juga oleh Muslim dan para penulis kitab Sunan, kecuali Abu Dawud.

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad, dari Abu Sa’id atau Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengeluh, maka Jibril mendatanginya seraya berkata, “Dengan menyebut Nama Allah saya meruqyahmu dari setiap yang menyakitimu, dari setiap pendengki dan mata yang mengincar. (Semoga) Allah menyembuhkanmu.

(Hadits Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu): Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Sesungguhnya ‘ain itu benar (ada).”

Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dan Muslim.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah telah bersabda, Ain itu benar adanya.” Diriwayatkan hanya oleh Ibnu Majah.

(Hadits Asma binti Umais): Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ‘Ubaid bin Rifa’ah az-Zuraqi, ia berkata, “Asma’ telah berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far tertimpa musibah ‘ain, bolehkah saya meruqyah mereka?’ Beliau bersabda,

نَعَمْ فَلَوْ كَانَ شَيْءٌ يَسْبِقُ الْقَدَرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

“Ya. Kalau saja ada sesuatu yang mendahului takdir maka itulah ain.” Demikian juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan an-Nasa-i. At-Tirmidzi berkata, “(Ini adalah hadits) hasan shahih.”

(Hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha): Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk meruqyah diri dari ain.” Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dan Muslim.

(Hadits Sahl bin Hanif): Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Umamah bin Sahl bin Hanif bahwa bapaknya mengatakan kepadanya bahwa mereka pergi bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menuju Makkah hingga mereka tiba di suatu aliran air di Khirar, salah satu tempat di Juhfah. Sahl bin Hanif pun mandi dan dia adalah seorang lelaki putih yang berbadan bagus. ‘Amir bin Rabi’ah, saudara bani Adi bin Ka’b melihatnya ketika sedang mandi. Maka dia pun berkata, “Tidak ada yang kulihat seperti (apa yang kulihat) hari ini, tidak ada sedikit pun kulit yang ditutupi.” Sahl pun terjatuh ke hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, apakah baginda bisa menolong Sahl. Demi Allah, dia tidak kunjung mengangkat kepalanya dan tidak siuman (dari pingsannya).” Beliau bersabda, “Apakah kalian menuduh seseorang (telah melakukan sesuatu terhadapnya)?” Mereka berkata, “‘Amir bin Rabi’ah telah melihatnya (dengan ‘ain).” Rasulullah pun memanggil ‘Amir. Beliau sedikit marah kepadanya seraya bersabda,

عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، هَلَّا إِذَا رَأَيْتَ مَا يُعْجِبُكَ بَرَكْتَ؟

“Mengapa salah satu di antara kalian (hendak) membunuh saudaranya? Mengapa kamu ketika melihat sesuatu yang mengagumkanmu, tidak mendo’akan keberkahan saja untuknya?”

Kemudian beliau bersabda (kepada ‘Amir), “Mandilah engkau kedua untuk mengobatinya.” Dia pun membasuh wajah, tangan, siku dan lutut, jari-jari dan bagian yang ada dalam sarungnya [Kiasan untuk paha, panggul, kemaluan dan daerah sekitarnya], dalam suatu wadah (besar). Kemudian dia mengguyurkan air dari wadah itu kepada Sahl. Seseorang membantunya menyiram kepalanya, punggungnya lalu menuangkan wadah itu dari belakang tubuh Sahl. Setelah itu semua dilakukan maka Sahl sehat kembali, pergi bersama yang lain menderita sesuatu apapun.

(Hadits ‘Amir bin Rabi’ah): Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari Ubaidillah bin ‘Amir berkata, “Amir bin Rabi’ah dan Sahl bin Hanif berangkat untuk mandi, lalu keduanya pun mencari penghalang (supaya tidak saling melihat). ‘Amir pun menanggalkan jubahnya yang terbuat dari kain wol. Saya (kata “Amir) melihat Sahl dengan ain. Maka dia (Sahl) pun turun ke dalam air untuk mandi. Saya mendengar suara gelembung-gelembung udara dari dalam air (tempat ia mandi) dan suara riak-riak air (menunjuk- kan bahwa Sahl tenggelam). Saya pun memanggilnya tiga kali tapi dia tidak menjawab. Saya pun mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan mengabar- kannya. Beliau pun datang lalu mencebur ke air itu dan saya melihat kedua betisnya yang putih. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memukul dada Sahl (untuk mengeluarkan air dari paru-parunya), lalu beliau berdo’a

اَللّٰهُمَّ اصْرِ فْ عَنْهُ حَرَّهَا وَبَرْدَهَا وَوَصَبَهَا

“Ya Allah, jauhkanlah darinya panasnya, dinginnya, dan rasa sakitnya (penyakit ‘ain).”

Beliau pun bangkit dan bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ، أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ، مَايُعْجِبُهُ، فَلْيُبَرِّكْ، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

‘Jika salah seorang dari kalian melihat dari saudaranya atau dari dirinya atau dari hartanya sesuatu yang mengagumkan, maka hendaknya ia mendo’akan keberkahan untuknya, karena sesungguhnya ‘ain itu nyata.”

Tuduhan Orang-Orang Kafir Dan Jawabannya

Firman-Nya, {وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ} “Dan mereka berkata: Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” Mereka berusaha menyerang dan menyakiti Rasulullah dengan mata dan lisan mereka seraya berkata, “Dia benar-benar orang gila karena telah membawa al-Qur-an.” Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ} “Dan al-Qur-an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.”

Inilah akhir penafsiran surat al-Qalam (Nuun), segala puji dan karunia hanya milik Allah.

 

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: