ARTIKELTafsir Al-Qur'an

Tafsir Surat Al-Qalam {Bagian 1}

Tafsir Surat Al-Qalam

( Pena )

Surat Makkiyyah

Surat Ke-68 : 52 Ayat

 

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Al-Qalam, Ayat 1-7

نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ، مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ، وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍ، وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ، فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَ، بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ، اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Nuun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan (1) dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila (2) Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya (3) Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur (4) Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat (5) siapa di antara kamu yang gila? (6) Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk.” (7)

Tentang potongan huruf hija-iyah di awal surat telah dijelaskan pada tafsir awal surat al-Baqarah. Firman-Nya, “Nun” adalah seperti firman-Nya, “Shad” atau “Qaf” dan ayat-ayat yang semisal dengannya, berupa penggalan huruf-huruf di awal-awal surat. Pembahasan ayat-ayat seperti ini dirasa cukup dan tidak perlu dilakukan pengulangan.

Tafsiran Al-Qalam

Firman-Nya, {وَالْقَلَمِ} “Demi kalam.”Secara lahir, qalam adalah pena yang digunakan untuk menulis, seperti firman-Nya, {اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ} “Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq 3-5)

Firman-Nya, {وَالْقَلَمِ} “Demi kalam,” adalah sumpah Allah dan peringatan kepada makhluk-Nya yang telah dikaruniai kemampuan untuk menulis sehingga mereka memperoleh berbagai macam ilmu.

Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَمَا يَسْطُرُوْنَ} “Dan apa yang mereka tulis. “Ibnu ‘Abbas , Mujahid dan Qatadah berkata: “وَمَا يَسْطُرُوْنَ artinya وَمَا يَكتُبُونَ (dan apa yang mereka tulis).” As-Suddi berkata, “(Firman-Nya) dan apa yang mereka tulis,’ artinya adalah Malaikat yang mencatat perbuatan para hamba-Nya.” Dan ahli tafsir lainnya berkata: “Maksudnya di sini adalah pena yang dipergunakan untuk menulis takdir para makhluk, 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.”

Mereka (yang berpendapat demikian) menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan kalam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Walid bin ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata, “Bapakku memanggilku ketika sakaratul maut seraya berkata, ‘Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:

إنَّ أوَّلَ ما خلق اللهُ القلمَ فقال : اكتُبْ ، قال : ما أكتبُ ؟ قال : اكتُبِ القدَرَ ، ما كان وما هو كائنٌ إلى الأبدِ

“Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena, maka Allah berfirman kepadanya, “Tulislah!’ Pena itu berkata, ‘Rabb-ku, apa yang akan kutulis?’ Allah berfirman, “Tulislah qadar dan semua yang terjadi sampai waktu yang pan- jang (yakni sampai hari Kiamat).”
 Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari beberapa jalur.’ Dan at-Tirmidzi dari hadits Abu Dawud ath-Thayalisi, dia berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih gharib.”

Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Bersumpah Dengan Pena Untuk Menegaskan Keagungan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Firman-Nya, { مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ} “Berkat nikmat Rabb-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila,” yakni alhamdulillaah kamu bukanlah orang gila, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang bodoh dari kaummu, yang mendustakan petunjuk dan kebenaran yang nyata yang engkau bawa, karenanya mereka menuduhmu gila.

Firman Allah , { وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍ} “Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Bahkan kamu akan mendapatkan pahala yang berlimpah dan tidak terputus karena kamu telah menyampaikan risalah Rabb-mu kepada manusia serta telah bersabar menerima siksaan kaummu. Makna firman-Nya غَيْرَ  مَمْنُوْنٍadalah غَيْرَ مَقْطُوْعٌ (tidak terputus-putus). Sebagaimana firman- Nya, { عَطَاۤءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ} “Sebagai karunia yang tidak putus-putusnya.” (QS. Huud: 108) Dan firman-Nya, { فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ} “Maka bagi mereka pahala yang tidak putus-putus-nya. ” (QS. At-Tiin: 6)

Mujahid berkata, غَيْرَ مَمْنُوْنٍ artinya tidak terhitung. Ini seperti kita katakan.

Tafsir “Dan Sesungguhnya Kamu Benar-Benar Berbudi Pekerti Yang Agung

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ} “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Al-‘Aufi berkata menuturkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “(Artinya) dan sesungguhnya kamu benar-benar berada di atas agama yang agung, yaknı Islam.” Pernyataan yang sama juga dikatakan oleh Mujahid, Abu Malik, as- Suddi, ar-Rabi’ bin Anas”. Juga dinyatakan oleh adh-Dhahhak dan Ibnu Zaid.

Sa’id bin Abi ‘Arubah menuturkan dari Qatadah, ia berkata, “Firman-Nya, Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung,’ disebutkan kepada kami bahwa Sa’d bin Hisyam telah bertanya kepada ‘Aisyah tentang akhlak Rasulullah maka dia berkata, “Bukankah kamu membaca al-Qur-an?’ Sa’id berkata, “Tentu.’ Dia berkata, “Sesungguhnya akhlak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah al-Qur-an.’ Riwayat senada juga diriwayatkan ‘Abdurrazzaq.’ Diriwayatkan juga oleh Muslim dalam Shahiih-nya dari hadits Qatadah dalam riwayat yang lebih panjang.

Itu artinya, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerapkan semua isi al-Qur-an, baik dalam hal perintah, larangan, karakter akhlak. Beliau berakhak dengan akhlak al-Qur-an dan meninggalkan perangai bawaannya. Apa pun yang diperintahkan al-Qur-an beliau laksanakan, dan apa pun yang dilarang al-Qur-an beliau meninggal- kannya. Itu semua dibarengi dengan apa yang Allah anugerahkan kepada beliau berupa akhlak yang agung, berupa rasa malu [Maksudnya, rasa malu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dan mendatangkan murka Allah]”, dermawan, keberanian, pemaaf dan lembut terhadap orang lain.

Disebutkan dalam ash-Shahiihain, dari Anas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Saya telah mengabdi melayani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selama 10 tahun tapi beliau tidak pernah berkata ‘ah’ kepadaku dan tidak pernah mempertanyakan sesuatu yang aku perbuat dengan berkata: ‘Kenapa engkau lakukan hal ini?’ dan terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: ‘Kenapa engkau tidak mengerjakannya?’ Beliau adalah orang yang paling berakhlak mulia. Saya tidak pernah menyentuh sutera yang lebih halus ataupun sesuatu yang lain daripada telapak tangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan nyak wangi yang lebih wangi daripada keringat beliau.”

Imam al-Bukhari juga telah meriwayatkan dari al-Bara’, ia berkata, “Rasulullah adalah orang yang berwajah dan berpostur paling baik, tidak tinggi dan tidak pendek.”

Hadits-hadits ini Abu ‘Isa at-Tirmidzi telah menulis kitab khusus yang berjudul asy-Syamaa-ilul Muhammadiyyah.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, ia berkata,

مَا ضرَبَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيَدِه خادِمًا له قَطُّ، ولا امْرأةً، ولا ضرَبَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيَدِه شَيئًا قَطُّ، إلَّا أنْ يُجاهِدَ في سَبيلِ اللهِ، ولا خُيِّرَ بَينَ أمْرَينِ قَطُّ، إلَّا كان أحَبُّهُما إليه أيْسَرَهُما، حتى يكونَ إثْمًا، فإذا كان إثْمًا كان أبْعَدَ الناسِ مِن الإثْمِ، ولا انْتَقَمَ لنَفْسِه مِن شَيءٍ يُؤْتَى إليه، حتى تُنتَهَكَ حُرُماتُ اللهِ عزَّ وجلَّ، فيكون هو يَنتَقِمُ للهِ عزَّ وجلَّ

“Rasulullah tidak pernah memukul pelayannya, perempuan dan siapapun, kecuali ketika berperang di jalan Allah. Jika ditawarkan dua pilihan, maka beliau lebih suka memilih yang termudah, kecuali perkara tersebut mengantarkan kepada maksiat. Apabila hal itu perbuatan dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Beliau tidak membalas sesuatu yang ditimpakan kepada dirinya. Namun apabila kehormatan Allah telah dileceh- kan maka beliau membalasnya karena Allah Subhanallahu wa ta’ala.”

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu”Rasulullah telah bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”
Hanya Imam Ahmad saja yang meriwayatkan hadits ini.

Firman-Nya, { فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَ بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ} “Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila,” yakni wahai Muhammad, kamu dan orang-orang yang menentang dan mendustaimu akan mengetahuinya siapa di antara kamu dan mereka yang gila dan menyesatkan. Ini sebagaimana firman-Nya, { سَيَعْلَمُوْنَ غَدًا مَّنِ الْكَذَّابُ الْاَشِرُ} “Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (QS. Al-Qamar: 26) Juga firman-Nya, { وَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ} “Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Saba’: 24)

Ibnu Juraij berkata, “Tentang ayat ini, Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berpendapat bahwa artinya, kamu dan mereka akan tahu pada hari Kiamat.” Al-‘Aufi menuturkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, tentang firman-Nya, { بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ} ‘Siapa di antara kamu yang gila (maftun).” Lafazh yakni yang gila.” Demikian pula pendapat Mujahid dan yang lainnya.

Arti kata الْمَفْتُوْنُ sangatlah jelas, yakni orang yang terfitnah atau terhalangi dari kebenaran dan tersesat darinya. Huruf baa’ masuk pada firman Allah بِاَيِّىكُمُ Siapa di antara kamu’ untuk menunjukan bahwa yang dimaksud ‘siapa di antara kamu’ adalah setiap dari kamu akan melihat. Sehingga sesuai dengan kandungan firman Allah, { فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَ} “Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang- orang kafir) pun akan melihat. “Dengan kata lain, pengertian seutuhnya adalah: Kamu akan mengetahui dan mereka pun akan mengetahui, atau kamu akan dikabari dan mereka juga akan dikabari, siapa di antara kalian yang gila. Wallaahu a’lam.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ} “Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petu- juk.”Yakni Allah Subhanallahu wa ta’ala mengetahui gologan manakah di antara kalian dan mereka yang mendapat petunjuk, dan Dia pun mengetahui siapa yang tersesat dari kebenaran.

Al-Qalam, Ayat 8-16

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ، وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَ، وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍ، هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍ، مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍ، عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍ، اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَ، اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ، سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ

“Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah) (8) Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula) (9) Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina (10) suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah (11) yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa (12) yang bertabiat kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya (13) karena dia kaya dan banyak anak (14) Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, “(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu.” (15) Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai(nya).” (16)

Larangan Menerima Tekanan Dan Usulan Orang-Orang Yang Mendustakan Ayat- Ayat Allah, Dan Pemberitahuan Bahwasanya Mereka Menyukai Pertemuan Di Tengah Jalan

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, “Kami telah mengaruniakan syari’at yang lurus dan akhlak yang mulia kepadamu, { فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ}’Maka janganlah kamu ikuti orang- orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). “Ibnu ‘Abbas berkata, “Artinya, apabila kamu memudahkan mereka, maka mereka pun akan memberikan kemudahan pula.”

Mujahid berkata, “(Firman-Nya) { وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْن} ‘Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu), (yakni) kamu condong kepada ilah-ilah (sesembahan) mereka dan tidak menyampaikan kebenaran engkau bawa.”

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْن} “Dan ja- nganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Karena yang orang seperti itu adalah pendusta. Ia lemah dan hina karena berlindung dengan sumpah palsunya. Mereka berani menggunakan Nama-Nama Allah pada saat yang bukan pada tempatnya. Ibnu ‘Abbas berkata, “Lafazh مَّهِيْنٍ artinya yang dusta.”

Firman-Nya, {هَمَّازٍ} “Yang banyak mencela,” menurut Ibnu ‘Abbas dan Qatadah berarti mengumpat.” {مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍ} “Yang kian kemari menghambur fitnah,” yakni yang berjalan di tengah manusia dan menghasut di antara orang-orang. Di dalam ash-Shahiihain disebutkan hadits Mujahid dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas , ia berkata, “Rasulullah melewati dua kuburan, maka beliau bersabda,

إِنَّهُمَا لَيُعذَّبانِ، وَ مَا يُعذَّبانِ في كَبيرٍ ، أمَّا أحدُهما فكانَ لا يستَنزِهُ مِنَ البَولِ ، و أمَّا الآخَرُ فكان يَمشي بالنَّميمةِ

‘Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Salah satunya adalah orang yang tidak menutup diri pada saat kencing, sedangkan yang lain suka menebarkan fitnah (adu domba).”
Diriwayatkan oleh pencatat hadits lainnya dalam kitab mereka dari berbagai jalur dari Mujahid.”

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad bahwa Hudzaifah Radiyallahu ‘anhu telah berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak masuk Surga orang yang suka mengadu domba.” Diriwayatkan juga oleh al-Jama’ah kecuali Ibnu Majah.”

Firman-Nya, {مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍ} “Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,”yakni menahan kebaikan yang merupakan kewajibannya atau miliknya. مُعْتَدٍ “Yang melampaui batas,” dalam menikmati apa yang Allah halalkan, yakni melampaui batas yang disyari’atkan. اَثِيْمٍ “Lagi banyak dosa,” yakni melakukan diharamkan.

Firman-Nya, {عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍ} “Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” Adapun kata artinya kaku, kasar, sehat keadaannya tetapi tamak dan kikir.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Haritsah bin Wahb Radiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda,

ألَا أُنَبِّئُكم بأهلِ الجَنَّةِ؟ كلُّ ضعيفٍ مُتَضَعِّفٍ لوْ أقسَم على اللهِ لأَبَرَّهُ، ألَا أُنَبِّئُكم بأهلِ النَّارِ؟ كلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُستكبِرٍ

“Maukah kalian kukabarkan tentang penghuni Surga? Ialah setiap orang lemah yang dizhalimi, yang apabila bersumpah dengan Nama Allah, ia pasti menepatinya. Maukah kalian ku- kabarkan tentang penghuni Neraka? Ialah setiap orang kaku, kasar dan sombong.’

Waki’ (salah satu perawi hadits ini, meriwayatkan dengan versi lafazh yang sedikit berbeda), ia berkata:

كُلُّ جَوَّاظٍ جَعْظَرِ يٍّ مُسْتَكْبِرٍ

“Setiap orang yang tamak, kikir, lagi kaku dan kasar serta sombong.”

Hadits ini tercatat di ash-Shahiihain dan diriwayatkan oleh ulama hadits kecuali Abu Dawud, dari hadits Sufyan ats-Tsauri dan Syu’bah, keduanya melalui jalur Sa’id bin Khalid.

Ulama bahasa berpendapat, “Kata جَعْظَرِيٍّ berarti kaku lagi kasar, dan kata جَوَّاظٍ berarti tamak lagi kikir. Adapun tentang kata زَنِيم dalam firman-Nya, {عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍ} , al-Bukhari telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “(Dahulu) ada kaum Quraisy yang memiliki daging tambah seperti telinga kambing yang terbelah.” Maksudnya dia terkenal jahat seperti mudah dikenalnya seekor kambing di antara yang lainnya karena memiliki telinga yang terbelah.

Lafazh زَنِيْمٍ dalam bahasa Arab artinya orang yang mengaku-aku (sebagai bagian) dalam sebuah kaum, sebagaimana yang Ibnu Jarir dan beberapa Imam.

Firman-Nya, {اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ} “Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: (Ini adalah) dongeng orang-orang dahulu kala.” Allah Subhanallahu wa ta’ala menjelaskan, inilah balasan dari nikmat yang telah Allah Subhanallahu wa ta’ala karuniakan kepadanya berupa harta dan anak, yaitu ingkar terhadap ayat-ayat Allah Subhanallahu wa ta’ala dan berpaling darinya. Selain itu mereka mengklaim bahwasanya ayat-ayat tersebut adalah dusta yang diambil dari dongeng-dongeng para leluhur, sebagaimana firman-Nya,

ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًا وَّجَعَلْتُ لَهٗ مَالًا مَّمْدُوْدًا وَّبَنِيْنَ شُهُوْدًا وَّمَهَّدْتُّ لَهٗ تَمْهِيْدًا ثُمَّ يَطْمَعُ اَنْ اَزِيْدَ كَلَّاۗ اِنَّهٗ كَانَ لِاٰيٰتِنَا عَنِيْدًا سَاُرْهِقُهٗ صَعُوْدًا اِنَّهٗ فَكَّرَ وَقَدَّرَ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ نَظَرَ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ثُمَّ اَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ فَقَالَ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ يُّؤْثَرُ اِنْ هٰذَآ اِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ سَاُصْلِيْهِ سَقَرَ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سَقَرُ لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُ لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang ciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia mementang ayat-ayat Kami (al-Quran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, ke- mudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: (Al-Qur-an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Sagar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak mem- biarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).”
(QS. Al-Muddatstsir: 11-30)

Dalam surat ini Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ} “Kelak akan kami beri tanda dia di belalai(nya).” Ibnu Jarir berkata, “Kami akan menjelaskan perkaranya dengan jelas dan gamblang hingga ia dikenal oleh mereka. Tidak ada yang tersembunyi dari mereka sebagaimana jelasnya tanda yang ada pada belalai gajah.”

Sementara yang lain mengatakan, سَنَسِمُهٗ (Kelak akan kami beri tanda dia), yakni dengan tanda penghuni Neraka. Maksudnya pada hari Kiamat mukanya akan Kami hitamkan. Dalam wajah diungkapkan dengan kata belalai.

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini:

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker