Tafsir Surat At-Takwiir {Bagian 2}

Tafsir Surat At-Takwiir

At-Takwir, Ayat 15-29

فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ، الْجَوَارِ الْكُنَّسِ، وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَ، وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَ، اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ، ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍ، مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍ، وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍ، وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِ، وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍ، وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍ، فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَ، اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ، لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَ، وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“Aku bersumpah demi bintang-bintang (15) yang beredar dan terbenam (16) demi malam apabila telah larut (17) dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing (18) sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) (19) yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy (20) yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya (21) Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila (22) Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang (23) Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib (24) Dan (Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk (25) maka ke manakah kamu akan pergi? (26) (Al-Qur’an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam (27) (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus (28) Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (29)

 

Tafsir Surat An-Nas Dan Kunnas

Muslim dalam Shahiih-nya dan an-Nasa’i di Tafsirnya meriwayatkan tentang ayat ini dari ‘Amr bin Huraits ia berkata, “Saya salat subuh di belakang Rasulullah maka saya mendengar beliau membaca, {فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ الْجَوَارِ الْكُنَّسِ وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَ وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَ} ” Sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan terbenam demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,’ (QS. At-Takwiir: 15-18)”

Ibnu jarir meriwayatkan dari Khalid bin ‘Ar’arah ia berkata, “Saya mendengar ‘Ali ditanya tentang ayat, {فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ الْجَوَارِ الْكُنَّسِ} ‘Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan terbenam maka dia berkata itulah bintang-bintang yang beredar di malam hari dan terbenam di siang hari.'”

Mengenai Firman-Nya, { وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَ} “Demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya,” terdapat dua pendapat:

Pendapat pertama: Maksudnya, malam telah datang dengan kegelapannya. Mujahid berkata, “Yakni ketika gelap.” Sa’id bin Jubair berkata, “Yakni apabila mulai gelap.” Al-Hasan al-Bashri berkata, “Yakni jika malam menutupi manusia.” Demikian pula pendapat ‘Athiyah al-‘Aufi.

Pendapat kedua: Maksudnya, apabila malam telah berlalu. ‘Ali Bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi berkata dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, “Firman-Nya, { اِذَا عَسْعَسَ} ‘Apabila telah hampir meninggalkan gelapnya,’ yakni bila malam telah berlalu.” Demikian pula pendapat Mujahid, Qatadah dan adh-Dhahhak. Zaid bin Aslam dan anaknya yaitu ‘Abdurrahman ia berkata, “Firman-Nya, ‘Apabila telah hampir meninggalkan gelapnya,’ yakni jika malam telah pergi berlalu.”

Menurut penulis, FirmanNya, “Apabila telah hampir meninggalkan gelapnya,” maksudnya adalah jika malam itu telah datang seperti pendapat pertama meskipun lafazh ‘as’as juga sah digunakan untuk makna ‘berlalu’. Akan tetapi makna ‘datang’ adalah lebih cocok di sini. Seolah-olah Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah dengan malam ketika mulai gelap dan bersumpah dengan Fajar ketika mulai terang. Ini sebagaimana firman-Nya, { وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰى وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰى} “Demi malam apabila menutupi cahaya siang, dan siang apabila terang benderang.” Dan seperti Firman-Nya, { وَالضُّحٰى وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰى} “Demi Waktu matahari sepenggalahan naik dan demi malam apabila telah sunyi.” Dia Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman, { فَالِقُ الْاِصْبَاحِۚ وَجَعَلَ الَّيْلَ سَكَنًا} “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat.” Dan seperti ayat-ayat lainnya yang menyinggung hal itu.

Mayoritas ulama Ushul berpendapat bahwa sesungguhnya lafazh ‘as’as dapat digunakan untuk sesuatu yang datang dan yang pergi. Berdasarkan hal ini maka sah-sah saja apabila kedua makna ini ditetapkan pada ayat ini. Wallahu a’lam

Firman-Nya, { وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَ} “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” Adh-Dhahhak berkata, “Yakni jika telah terbit.” Qatadah berkata, “Yakni Jika datang bersinar.”

Alquran Dibawa Oleh Jibril Alaihissalam Dan Bukan Hasil Dari Kegilaan

Firman-Nya, { اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ} “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia Jibril.” Maksudnya Al-Quran ini adalah wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang disampaikan oleh seorang utusan yang mulia yaitu Malaikat yang mulia, rupawan, lagi tampan Jibril Alaihissalam. Demikianlah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma, asy-Sya’bi, Maimun bin Mihran, al-Hasan, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, adh-Dhahhak dan yang lainnya.

Firman-Nya, { ذِيْ قُوَّةٍ} “Yang mempunyai kekuatan,” seperti Firman-Nya, { عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰى ذُوْ مِرَّةٍ} “Yang diajarkan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat yang mempunyai akal yang cerdas.” (QS. An-Najm: 5-6) Yakni jasadi yang kuat tindakan dan perbuatan nya pun kuat.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, { عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍ} “Yang mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah yang mempunyai ‘Arsy,” yakni yang memiliki posisi dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Yang ditaati di sana yakni dia dihormati ucapannya didengarkan dan dipatuhi di alam Malaikat. Qatadah berkata, “Firman-Nya, ‘Yang ditaati di sana,’ yakni di seluruh langit.” Artinya Jibril itu bukan Malaikat biasa melainkan petinggi para Malaikat yang diberikan tanggung jawab untuk mengemban risalah-Nya yang agung.

Firman-Nya, { اَمِيْنٍ} “Lagi dipercaya ” adalah sifat Jibril, yaitu dapat dipercaya. Adalah sangat agung ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyucikan hamba dan utusan Malaikat nya Jibril, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyucikan hamba dan utusan manusianya yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam Firman-Nya, { وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍ} “Dan temanmu Muhammad itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.”

Asy-Sya’bi, Maimun bin Mihran, Abu Shalih dan yang telah disebutkan nama-namanya diatas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Firman-Nya, “Dan temanmu itu bukan lah sekali-kali orang yang gila,” yakni Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Firman-Nya, { وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِ} “Dan sesungguhnya dia itu melihat Jibril di ufuk yang terang,” yakni Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah melihat jibril Malaikat pembawa risalah dari Allah dalam bentuk aslinya, yaitu dengan 600 sayapnya,” di ufuk yang terang, “yakni yang nyata titip dan ini adalah penglihatan beliau kepada Jibril yang pertama yang terjadi di al-Bath-ha’, yaitu yang disebutkan dalam firman-Nya,

عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰى ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰى وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰى ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰى فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰى فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰى

“Yang diajarkan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan Jibril itu menampakan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat lalu bertambah dekat lanjut maka jadilah dia dekat pada Muhammad sejarah dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya Muhammad apa yang telah Allah wahyukan.”
(QS. An-Najm: 5-10)

Tafsir dan penjelasan Surat An Najm ayat 5-10 ini telah disebutkan sebelumnya. Telah dijelaskan bukti yang menunjukkan bahwa wa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Jibril Alaihissalam bukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Yang zhahir (nampak jelas) –Wallahu a’lam- adalah bahwa surat ini (at-Takwir) turun sebelum malam Israa’, karena Allah tidak menyinggung di dalam surat ini kecuali penglihatan yang pertama ini. Adapun penglihatan yang kedua adalah seperti yang disebutkan dalam Firman-Nya,

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰى عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰى اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰى

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu Dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain yaitu di sidratul muntaha. Di dekatnya ada Surga tempat tinggal, Muhammad melihat Jibril ketika sidratul muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. ” (QS. An-Najm: 13-16) Penglihatan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Jibril yang kedua kali ini hanya di singgung dalam surat an-Najm, dan surat an-Najm ini turun setelah surat Al-Israa’.

Nabi Tidak Bakhil Dalam Menyampaikan Wahyu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, { وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍ} “Dan Dia bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” Jika dibaca dengan بِظَنِيْنٍ (dengan zhaa) maka maksudnya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu tidak menduga-duga atau dituduh dusta atas apa yang Allah turunkan kepadanya. Di antara ulama ada pula yang membaca dengan بِضَنِيْنٍ (dengan dhaad) yang artinya bakhil. Maksudnya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu tidak pelit dalam menyampaikan risalah-Nya, melainkan dia memberikan dan menyampaikannya kepada siapapun.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Kedua lafazh tersebut (Zhaanin dan dhaanin) adalah sama, yakni beliau bukan Pendusta dan Pendosa. Azh-zhaniin Adalah yang dituduh, ahd-dhaaniin sedangkan adalah yang bakhil.”

Qatadah berkata, “Al-Quran itu ghaib, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’Ala menurunkannya kepada Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau tidak bakhil memberikan kepada orang banyak. Sebaliknya, beliau memberikannya menyebarkannya dan menyampaikannya kepada setiap orang yang membutuhkannya.” Demikianlah pendapat ‘Ikrimah, Ibnu Zaid serta yang lainnya. Dan Ibnu jarir memilih bacaan dengan

Dhaad (yakni dhaaniin).

Menurut penulis (Ibnu Katsir) kedua qiroat itu Mutawatir dan maknanya benar sehingga sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Al Quran Adalah Peringatan Bagi Alam Semesta Dan Bukan Bisikan Setan

Firman-Nya, { وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍ } “Dan Al-Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk,” yakni Al-Quran ini bukan merupakan ucapan syaitan yang terkutuk. Yakni syaitan itu tidak akan mampu membawanya nya tidak menginginkannya dan tidak patut membawa Al-Quran, sebagaimana firman-Nya, { وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيٰطِيْنُ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيْعُوْنَ اِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُوْلُوْنَ } “Dan Al-Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan-syaitan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al-Quran itu dan mereka pun tidak akan kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al-Quran itu.”
(QS. Asy-Syu’araa’: 210-212)

Firman-Nya, { فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَ } “Maka Kemanakah kamu akan pergi?” Yakni Ke manakah akal kalian ketika kalian mendustakan Al-Quran itu? Padahal Ia begitu terang dan jelas serta terbukti bahwa ia berasal dari Allah.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar kepada utusan Bani Hanifah ketika mereka datang dalam keadaan menyerahkan diri. Abu Bakar meminta mereka membaca sebagian perkataan Musailamah al-kadzdzab (yang ia klaim sebagai wahyu Allah Subhanahu wa ta’ala). Pada saat itu dia dan para pengikutnya sedang berada pada puncak kekacauan dan kelemahan.  setelah mendengar sebagian perkataan itu, maka Abu Bakar berkata, “Kasihan kalian, ke manakah perginya akal kalian? Demi Allah perkataan ini bukan berasal dari Allah.”

Qatadah berkata, “Firman-Nya maka Kemanakah kamu akan pergi? Maksudnya kemana kalian akan pergi meninggalkan kitabullah dan ketaatan-Nya?”

Firman-Nya, {اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ } “Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,” yakni Al-Quran itu adalah peringatan bagi seluruh manusia. Mereka mengambil nasihat dan pelajaran darinya. {لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَ} “Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” Maksudnya barangsiapa ingin mendapatkan petunjuk maka dia harus mengikuti Al-Quran ini karena Al-Quran adalah keselamatan dan petunjuk baginya, tidak ada petunjuk selainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, { وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ} “Dan kamu tidak dapat menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah Rabb semesta alam.” Yakni kehendak itu bukan di tangan kalian, melainkan semuanya tunduk kepada kehendak Allah Rabb semesta alam.

Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Sulaiman bin Musa ia berkata: “ketika turun ayat,  { لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَ} “Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus,” maka Abu Jahal berkata, ‘Perkara itu terserah kami. Jika Kami mau maka kami akan lurus dan jika tidak maka kami tidak akan lurus.” Maka Allah Subhanahu Wa Ta’Ala menurunkan ayat, “Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.”

 

Demikianlah akhir tafsir surat at-Takwiir. Hanya milik Allah Subhanallahu wa ta’ala lah segala puji dan anugerah.

 

 

 

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: