Riya`

Riya`

 

Seorang Muslim tidak akan berbuat riya`, karena riya` adalah kemunafikan dan kesyirikan. Sedang seorang Muslim adalah orang yang beriman lagi bertauhid, dengan imannya dan tauhidnya dia menentang akhlak riya` dan kemunafikan. Maka seorang Muslim tidak akan pernah menjadi seorang munafik dan tidak pula seorang tukang pamer (riya`).

Cukuplah seorang Muslim di dalam membenci akhlak tercela ini dan menjauhinya dengan mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya membenci dan mengancam perbuatan riya`. Allah mengancam orang-orang yang pamer dengan siksaan, Allah Azza wa jalla berfirman,

 

فَوَيۡلٌ۬ لِّلۡمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِہِمۡ سَاهُونَ * ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ

Maka celakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya`.”(Al-Ma’un:4-6)

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya”(Diriwayatkan oleh Muslim, no.2985 dengan redaksi yang berbeda)

 

مَنْ رَاءَی رَاءَی ﷲُ بِهِ وَمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ ﷲُ بِهِ

Barangsiapa yang berbuat riya` (pamer) maka Allah akan mempertunjukkan aibnya (pada Hari Kiamat), dan siapa yang ingin agar (amalnya) didengar, maka Allah akan memperdengarkan aibnya (pada Hari Kiamat).”(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no.6499, dan Muslim, no.2987)

 

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari yang aku takutkan atas kamu sekalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya,” Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab,”Riya`”, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman pada Hari Kiamat ketika membalas para hamba atas amalan-amalan mereka,’Pergilah kepada orang yang kamu berbuat riya` untuknya di dunia. Lihatlah apakah kamu temukan pahala di sisinya?’”(Diriwayatkan oleh Ahmad, no.27742; ath-Thabrani dalam al-Kabir, 4/253; dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, 5/333. Al-Iraqi berkata, “Para perawinya tsiqat (terpercaya)”.

Adapun hakikat riya` (pamer) adalah keinginan hamba di dalam beribadah dan taat kepada Allah Azza wa jalla untuk memperoleh perhatian dan kedudukan di hati manusia.

 

Tanda-tanda riya` adalah sebagai berikut :

 

  1. Jika seorang hamba bertambah ketaatan ibadahnya di kala dipuji atau disanjung di dalam ketaatannya tersebut, dan ia akan meninggalkannya jika dicela pada ketataannya itu.
  2. Jika seseorang rajin beribadah di kala bersama manusia lain, akan tetapi menjadi malas di kala sendirian.
  3. Mau bersedekah, namun bila tidak ada yang melihatnya dia tidak mau bersedekah.
  4. Membicarakan kebenaran dan kebaikan atau melaksanakan ketaatan dan kebaikan akan tetapi bukan murni karena Allah, namun juga karena manusia atau bukan karena Allah sama sekali, namun hanya karena manusia semata.

 

Sumber : Kitab Minhajul Muslim Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jajairi Edisi Indonesia, Cetakan XV Jumadil ula 1437H/2016M, Darul Haq Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: