AqidahARTIKEL

Pasal Kelima Belas : Wali Allah dan Karamahnya, Wali Setan dan Tipu Dayanya

Pasal Kelima Belas :

Wali Allah dan Karamahnya, Wali Setan dan Tipu Dayanya

 

  1. Wali Allah Seorang Muslim beriman bahwasanya di antara manusia ini ada yang menjadi wali Allah yang Dia pilih semata-mata untuk mengabdi dan beribadah kepadaNya, hidup mereka hanya untuk taat kepadaNya, mereka mendapat kehormatan untuk mencintaiNya dan dianugerahi karamahNya. Maka Allah adalah wali mereka, Allah mencintai dan mendekat kepada mereka, dan mereka adalah wali-wali Allah yang mencintai dan mengagungkanNya.

Mereka sangat patuh menjalankan perintahNya dan mengajak manusia untuk menunaikan perintahNya.

Mereka juga menjauhi laranganNya dan mencegah manusia dari melakukan laranganNya.

Mereka mencintai dan membenci karena Allah. Maka apabila mereka memohon kepadaNya pasti diberi dan apabila mereka meminta pertolongan pasti Dia menolongnya, dan apabila mereka berlindung kepadaNya, pasti mereka dilindungi.

Seorang Muslim beriman bahwa mereka adalah Ahli Iman wa at-Taqwa (orang-orang yang beriman dan bertakwa sejati), orang-orang yang mendapat karamah dan kabar gembira di dunia dan di akhirat. Seorang Muslim berkeyakinan bahwa setiap orang beriman yang bertakwa adalah waliyullah, hanya saja tingkatan dan derajat mereka berbeda-beda tergantung kepada kualitas ketakwaan dan keimanan masing-masing. Setiap orang yang sisi keimanan dan ketakwaannya lebih sempurna, maka derajatnya di sisi Allah lebih tinggi dan karamahnya lebih sempurna. Maka dari itu, para pemuka wali itu adalah para rasul dan para nabi serta orang-orang Mukmin sesudah mereka.

Seorang Muslim beriman bahwa apa yang ditampakkan oleh Allah pada mereka berupa karamah, seperti makanan sedikit bisa menjadi banyak, penyembuhan berbagai penyakit, berjalan di atas lautan, tidak terbakar api dan lain sebagainya adalah bagian dari jenis mukjizat, hanya saja mukjizat itu selalu dibarengi dengan tantangan [Tantangan yang dimaksud adalah di mana seorang rasul mengatakan kepada kaumnya, “Bagaimana jika aku datangkan tanda-tanda kepada kalian, apakah kalian beriman kepa- daku? Lalu jika tidak maka Allah akan menimpakan azabNya terhadap kalian atas keka- firan kalian setelah datangnya mukjizat kepada kalian.”], sedangkan karamah tidak (harus) ada tantangannya dan tidak terikat dengannya. Seorang Muslim beriman pula bahwasanya karamah yang paling agung itu adalah sikap istiqamah (konsisten) di dalam menjalankan ketaatan-ketaatan, tekun mengerjakan perintah-perintah agama dan men- jauhi segala yang diharamkan dan dilarang. Iman yang demikian itu dilandasi dalil-dalil berikut ini:

  1. Informasi dari Allah Subhanallahu wa ta’ala tentang para waliNya dan karamah mereka, seperti di dalam FirmanNya berikut ini:

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ، اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ، لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenang- an yang besar.”
(Yunus: 62-64).

FirmanNya,

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).”
(Al-Baqarah: 257).

وَمَا كَانُوْٓا اَوْلِيَاۤءَهٗۗ اِنْ اَوْلِيَاۤؤُهٗٓ اِلَّا الْمُتَّقُوْنَ

“Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa.”
(Al-Anfal: 34).

FirmanNya,

اِنَّ وَلِيِّ َۧ اللّٰهُ الَّذِيْ نَزَّلَ الْكِتٰبَۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصّٰلِحِيْنَ

“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan al- Kitab (al-Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih.”
(Al-A’raf: 196).

FirmanNya,

كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya (Yusuf) itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.”
(Yusuf: 24).

FirmanNya,

اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ وَكِيْلًا

“Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka, Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penjaga.”
(Al-Isra: 65).

FirmanNya,

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ

“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah’,”
(Ali Imran: 37).

FirmanNya,

وَاِنَّ يُوْنُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَ،  اِذْ اَبَقَ اِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ، فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَ، فَالْتَقَمَهُ الْحُوْتُ وَهُوَ مُلِيْمٌ، فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ، لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang- orang yang banyak mengingat Allali, niscaya ia akam tetap tinggal di perut ikan itu sampai Hari Berbangkit.”
(Ash-Shaffat: 139-144).

FirmanNya,

فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا، وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا، فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚفَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pada hari ini’.”
(Maryam: 24-26).

FirmanNya,

قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ، وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ

“Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim,’ mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi.”
(Al-Anbiya’: 69-70).

FirmanNya,

اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا، اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا، فَضَرَبْنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمْ فِى الْكَهْفِ سِنِيْنَ عَدَدًاۙ، ثُمَّ بَعَثْنٰهُمْ

“Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, ‘Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’ Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka.”
(Al-Kahfi: 9-12).

  1. Informasi dari Rasulullah tentang para waliyullah dan karamah mereka, sebagaimana sabdanya di dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman,

مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبدي بِشيءٍ أحبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عليهِ ، و ما زالَ عَبدي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ ، فإذا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يسمعُ بهِ ، و بَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بهِ ، و يَدَهُ التي يَبْطِشُ بِها ، و رِجْلَهُ التي يَمْشِي بِها ، و إنْ سألَنِي لأُعْطِيَنَّهُ ، و لَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ.

“Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka sungguh Aku telah memaklumkan perang terhadapnya. Tidaklah hambaku mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukam amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya; maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi penjaga pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penjaga penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi penjaga tangannya yang dengannya ia berbuat dan men- jadi penjaga kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia minta kepadaKu, niscaya Aku beri, dan jika ia memohon perlindungan kepadaKu, niscaya Aku melindunginya.”

FirmanNya di dalam sebuah Hadits Qudsi,

إِنِّيْ لَأَثْأَرُ لِأَوْلِيَائِيْ كَمَا يَثْأَرُ اللَّيْثُ الْحَرْبَ.

“Sesungguhnya Aku benar-benar membalas dendam untuk wali-wali- Ku, sebagaimana macan membalas dendam.”

إِنَّ لِلّٰهِ رِجَالًا لَوْ أَقْسَمُوْا عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُمْ

“Sesungguhnya Allah mempunyai orang-orang yang sekiranya mereka bersumpah atas Nama Allah (untuk mendapatkan kemuliaanNya), niscaya Allah mengabulkannya.”

لَقَدْ كَانَ فِيْمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُوْنَ، فَإِنْ يَكُ فِيْ أُمَّتِيْ أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ.

“Sungguh pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang mendapat ilham, dan jika di antara umatku terdapat seseorang yang mendapatkan ilham, maka dia adalah Umar.”

كَانَتِ امْرَأَةٌ تُرْضِعُ وَلَدَهَا فَرَأَتْ رَجُلًا عَلَى فَرَسٍ فَارِهٍ فَقَالَتْ: اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ وَلَدِيْ مِثْلَ هٰذَا، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الطِّفْلُ وَهُوَ يَرْضَعُ وَقَالَ: اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْنِيْ مِثْلَهُ.

“Ada seorang perempuan sedang menyusui anaknya, lalu ia melihat seorang lelaki menunggangi kudanya yang sangat indah, maka ia berkata, “Ya Allah, jadikanlah anakku ini seperti orang itu.’ Maka si bayi itu menoleh kepada lelaki itu sambil menyusu, dan in berdoa, ‘Ya Allah, jangan Engkau jadikan aku seperti dia’.”

Bayi tersebut berbicara sebagai karamah baginya dan ibunya. Kemudian pada sabda beliau tentang Juraij dan ibunya, tatkala ibunya berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau matikan Juraij sebelum Engkau perlihatkan kepadanya wajah-wajah wanita tuna susila”, maka Allah pun mengabulkan permohonannya sebagai karamah baginya dari Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Dan ketika Juraij dituduh bahwa bayi wanita tuna susila itu ada lah darah dagingnya, maka Juraij berkata kepada sang bayi, “Siapakah ayahmu yang sebenarnya?” Bayi itu menjawab, “Ayahku adalah si penggembala kambing.”

Bayi itu berbicara sebagai karamah bagi Juraij yang ahli ibadah.

Cerita Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang tiga orang yang terperangkap di gua yang tertutup oleh batu besar. Mereka semua berdoa kepada Allah dan bertawassul dengan amal shalih yang pernah mereka lakukan, lalu kemudian Allah mengabulkan doa mereka, maka mereka pun keluar dari perut gua itu dengan selamat, sebagai karamah bagi mereka.

Cerita yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga tentang seorang rahib dan seorang anak remaja, yang di dalam cerita tersebut disebutkan: Anak remaja itu melempar binatang buas yang berada di jalanan umum yang menghalangi masyarakat yang hendak lewat di situ. Anak remaja itu melemparnya dengan batu hingga mati dan masyarakat pun dapat melintas di jalan itu dengan aman. Peristiwa ini merupakan karamah baginya.

Sang raja pun telah berupaya keras untuk membunuh anak remaja itu dengan segala macam cara, namun gagal total. la dilempar dari puncak gunung, namun anak itu tidak terbunuh. Lalu raja membuangnya ke laut, namun ia selamat, ia keluar dari laut dengan berjalan kaki. Semua itu adalah karamah bagi anak remaja Mukmin nan shalih itu.

  1. Riwayat-riwayat dan kesaksian ribuan ulama tentang para wali dan karamah-karamah yang tak terhitung jumlahnya!, Di antaranya adalah riwayat tentang para malaikat yang memberi salam kepada Imran bin Hushain, juga Salman al-Farisi dan Abu ad-Darda ketika mereka makan pada piring besar, lalu piring besar atau makanan yang ada di dalamnya bertasbih. Demikian pula Hubaib ketika ditawan oleh orang-orang kafir Quraisy selalu menemukan dan memakan buah anggur, padahal di Makkah tidak ada buah anggur. Juga diriwayatkan bahwa al-Bara bin Malik setiap kali ia bersumpah atas Nama Allah dalam suatu masalah, maka Allah selalu mengabulkannya. Dalam perang Qadisiyah beliau bersumpah kepada Allah agar kaum Muslimin dapat mematahkan perlawanan kaum kafir musyrikin dan harapannya untuk menjadi syahid pertama di dalam pertempuran itu, maka semuanya berjalan seperti apa yang beliau harapkan.

Pada suatu saat Umar bin al-Khaththab berkhutbah di atas mimbar Rasulullah di Madinah, di situ beliau berkata (memimpin peperangan yang sedang terjadi di Persia): “Hai Batalyon (Muslim), ke bukit! ke bukit!” Beliau memerintahkan kepada panglima perang batalyon Muslim (agar mengerahkan pasukannya ke bukit). Maka dia mendengar seruan beliau (di Madinah, pent), kemudian mengarahkan pasukannya ke arah perbukitan, sehingga di situ mereka memperoleh kemenangan dan kekalahan musuh-musuhnya, kaum musyrikin. Ketika dia kembali ke Madinah, dia menceritakan tentang suara Umar yang didengarnya kepada Umar dan kepada para sahabat lainnya.

Demikian pula halnya yang terjadi pada al-‘Ala al-Hadhrami ketika beliau akan menyeberangi sungai besar bersama pasukannya beliau berdoa, “Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, ya Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung”, lalu beliau bersama pasukannya menyeberangi sungai dan pelana-pelana kuda yang mereka tung- gangi tidak basah sedikit pun.

Pernah pada suatu saat, al-Hasan al-Bashri berdoa kepada Allah agar membinasakan seseorang yang selalu menyakiti beliau. Maka pada saat itu juga orang itu mati tersungkur mengenaskan.

Ada seorang lelaki dari suku an-Nakha’i, ketika dalam suatu perjalanan keledai tunggangannya mati. Maka beliau berwudhu lalu shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah agar menghidupkan kembali keledai tunggangannya. Maka Allah pun menghidupkan kembali keledainya dan beliau kembali menungganginya beserta perbekalan. nya. (Disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam al-Furgan Baina Auliya ar Rahman wa Auliya` asy-Syaithan).

Banyak lagi contoh-contoh karamah yang tidak terhitung jumlah- nya dan disaksikan oleh ribuan, bahkan jutaan manusia.

  1. Wali Setan

Seorang Muslim juga beriman dan meyakini bahwa setan itu mempunyai wali-wali dari kalangan manusia yang ia kendalikan dan membuat mereka lupa mengingat Allah dan terjerumus di dalam kejahatan dan membisikkan kepada mereka berbagai kebatilan. Maka mereka menjadi tuli, tidak dapat mendengarkan kebenaran, dan buta, tidak dapat melihat dalil-dalil kebenaran. Mereka selalu tunduk kepada kehendak setan, patuh kepada segala perintahnya. Setan menipu mereka dengan keburukan dan membuat mereka senang kepada kerusakan dengan cara memandang indah kerusakan itu, sehingga memandang yang mungkar menjadi ma’ruf dan yang ma’ruf menjadi mung- kar. Dengan demikian, mereka menentang, melawan, dan memerangi para wali Allah.

Para wali Allah sangat loyal, membela dan mencintai Allah, sedangkan para wali setan memusuhiNya. Para wali Allah mencintai dan meridhai Allah, sedangkan para wali setan membenci dan murka kepadaNya. Maka mereka sangat berhak mendapat kutukan Allah dan murka dariNya.

Jika tampak pada mereka hal-hal yang luar biasa (kesaktian), seperti dapat terbang di angkasa atau berjalan di permukaan air, maka itu adalah istidraj (tanda kebinasaan) dari Allah atas mereka, atau merupakan tipudaya setan bagi orang yang loyal kepadanya.

Iman seperti itu karena dilandasi dalil-dalil berikut ini:

  1. Informasi dari Allah tentang mereka, sebagaimana dinyatakan di dalam FirmanNya,

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya (wali-wali- nya) ialah setan, yang mengeluarkam mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(Al-Baqarah: 257).

وَاِنَّ الشَّيٰطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ ۚوَاِنْ اَطَعْتُمُوْهُمْ اِنَّكُمْ لَمُشْرِكُوْنَ

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”
(Al-An’am: 121).

Juga Firman-firman lainnya,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًاۚ يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِّنَ الْاِنْسِ ۚوَقَالَ اَوْلِيَاۤؤُهُمْ مِّنَ الْاِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَّبَلَغْنَآ اَجَلَنَا الَّذِيْٓ اَجَّلْتَ لَنَا ۗقَالَ النَّارُ مَثْوٰىكُمْ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰه

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)’.”
(Al-An’am: 128).

وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهٗ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهٗ قَرِيْنٌ، وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”
(AZ-Zukhruf: 36-37).

اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin- pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(Al-A’raf: 27).

 

اِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

“Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.”
(Al- A’raf: 30).

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاۤءَ فَزَيَّنُوْا لَهُمْ مَّا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan belakang mereka.”
(Fushshilat: 25).

Dan FirmanNya,

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu menjadikannya dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dariKu, sedang mereka adalah musuhmu?”
(Al-Kahfi: 50).

  1. Informasi dari Rasulullah tentang wali Allah dan wali setan, sebagaimana tersebut di dalam sabdanya di saat beliau melihat satu bintang terbang. Beliau bersabda kepada para sahabatnya,

مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ لِمِثْلِ هٰذِهِ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ إذا رُمِيَ بمِثلِ هذا؟، قالوا: اللهُ عزَّ وجلَّ ورسولُه أعلَمُ، كُنَّا نقولُ: وُلِدَ اللَّيلةَ رَجُلٌ عظيمٌ، وماتَ اللَّيلةَ رَجُلٌ عظيمٌ، قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: فإنَّها لا يُرمى بها لمَوتِ أحَدٍ ولا حياتِه، ولكنَّ ربَّنا تبارَكَ اسمُه، إذا قَضى أمْرًا سبَّحَ حَمَلةُ العَرْشِ، ثم سبَّحَ أهلُ السَّماءِ الذين يَلونَهم حتى يبلُغَ التَّسبيحُ أهلَ السَّماءِ الدُّنيا، قال الذين يَلونَ حَمَلةَ العَرْشِ لحَمَلةِ العَرْشِ: ماذا قال ربُّكم؟ فيُخبِرُونَهم، فيَستَخبِرُ أهلُ السَّمواتِ بعضُهم بعضًا حتى يبلُغَ الخَبَرُ هذه السَّماءَ الدُّنيا، فتَخطَفُ الجِنُّ السَّمعَ، فيُلقونَه إلى أوليائِهم ويُرمَوْنَ به، فما جاؤوا به على وجهِه فهو حَقٌّ، ولكنَّهم يَزيدونَ.

“Apa yang biasa kalian katakan terhadap hal semacam ini di dalam tradisi jahiliyah?” Mereka menjawab, “Kami dahulu berkeyakinan itu pertanda ada seorang pembesar yang mati atau pertanda akan dilahirkannya seorang bayi yang akan menjadi pembesar.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya bintang itu tidak dilemparkan karena kematian seseorang atau kehidupan seseorang, akan tetapi yang terjadi adalah, Tuhan kita, apabila telah memutuskan suatu perkara, maka para pemikul ‘Arasy bertasbih, kemudian para penghuni langit di bawahnya pun turut bertasbih, dan demikian pula penghuni langit di bawahnya lagi hingga tasbih (menyucikan Allah) itu sampai kepada penglhuni langit yang paling rendah. Kemudian para penghuni langit itu bertanya kepada para malaikat petugas yang memikul ‘Arasy, ‘Apa yang difirmankan oleh Rabb kita?” Maka mereka pun memberitakannya, demikian pula penghuni langit berikutnya hingga berita itu sampai kepada penghuni langit yang paling rendah. Lalu pada saat itu setan-setan mencuri pendengaran, oleh karemanya mereka dilempari dengan bintang. Kenudian setan-setan itu membisikkan berita itu kepada para walinya (manusia yang setia kepada mereka). Berita yang setan sampaikan kepada manusia itu benar, akan tetapi mereka menambahinya.

Ketika beliau ditanya tentang dukun (tukang tenung), beliau bersabda,

لَيْسُوْا بِشَيْءٍ، فَقَالُوْا: نَعَمْ، إِنَّهُمْ يُحَدِّثُوْنَنَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ، فَيَكُوْنُ حَقًّا، فَقَالَ: تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطِفُهَا الْجِنُّ فَيُقِرُّهَا فِيْ أُذُنِ وَلِيِّهِ، فَيَجْعَلُوْنَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ.

“Mereka tidak ada apa-apanya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, mereka kadang-kadang memberitakan kepada kami tentang sesuatu, dan berita itu ternyata benar.” Beliau bersabda, “Ucapan itu bagian dari kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu ia membisikkannya pada telinga walinya (manusia yang setia kepadanya) dan bersamaan dengan itu jin membumbuinya dengan seratus kedustaan.”

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِيْنُهُ.

“Tidak seorang pun dari kalian melainkan telah ditetapkan qarin (teman dekat dari setan) baginya.”

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ مِنَ الْعُرُوْقِ، فَضَيِّقُوْا عَلَيْهِ مَجَارِيَهُ بِالصَّوْمِ.

“Sesungguhnya setan itu mengalir di tubuh manusia melalui aliran darah pada urat-uratnya, maka persempitlah tempat-tempat keluar masuknya itu dengan cara berpuasa.”

  1. Ribuan manusia yang melihat dan menyaksikan kejadian-kejadian aneh di berbagai tempat dan waktu yang tampak pada para wali setan (paranormal). Di antara mereka ada yang dapat mendatangkan bermacam-macam makanan dan minuman dalam sekejap mata ad pula orang yang segala kebutuhannya dipenuhi oleh setan, ada laci orang yang diberitahu oleh setan tentang masalah-masalah ghaib dan tentang sesuatu yang bersifat rahasia. Ada juga orang yang dibantu oleh setan hingga senjata tidak mempan terhadapnya, ada pula orang yang didatangi oleh setan dalam bentuk seorang shalih di saat ia sedang beristighatsah (meminta keselamatan) kepada orang shalih yang sudah mati dengan maksud mengelabui dan menyesatkannya serta menggiringnya kepada perbuatan syirik dan maksiat kepada Allah. Dan ada pula orang yang dibawa oleh setan ke suatu negeri yang jauh, atau setan datang kepadanya dengan membawa orang-orang tertentu atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dari tempat yang sangat jauh; dan banyak lagi perbuatan-perbuatan yang mampu dilakukan oleh setan dan jin-jin jahat.

Hal-hal seperti itu bisa terjadi sebagai akibat dari sangat buruknya jiwa seseorang disebabkan perbuatannya melakukan berbagai kejahatan, keburukan, kekufuran dan kemaksiatan yang sangat jauh dari kebenaran dan kebaikan, jauh dari iman, takwa dan keshalihan hingga mencapai tingkat kebusukan dan keburukan jiwa yang dapat menya- tukannya dengan ruh-ruh setan yang busuk lagi jahat. Maka pada saat itulah kesetiaan antara dia dengan setan bersemi, lalu setan menmbisikkan berbagai kejahatan kepadanya dan masing-masing siap untuk saling berkhidmat dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Maka dari itu, kelak di Hari Kiamat dikatakan kepada mereka,

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِّنَ الْاِنْسِ ۚوَقَالَ اَوْلِيَاۤؤُهُمْ مِّنَ الْاِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَّبَلَغْنَآ اَجَلَنَا الَّذِيْٓ اَجَّلْتَ لَنَا

“Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,” lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu

Related Articles

Back to top button
%d blogger menyukai ini:

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker