Tafsir Surat Al-Mumtahanah {Bagian 1}

Tafsir Surat Al-Mumtahanah

( Perempuan yang Diuji )

Surat Madaniyyah

Surat Ke-60 : 13 Ayat

 

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Al-Mumtahanah, Ayat 1-3

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ، اِنْ يَّثْقَفُوْكُمْ يَكُوْنُوْا لَكُمْ اَعْدَاۤءً وَّيَبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ وَاَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوْۤءِ وَوَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَ، لَنْ تَنْفَعَكُمْ اَرْحَامُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ ۛيَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۛيَفْصِلُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus (1) Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu lalu melepaskan tangan dan lidahnya kepadamu untuk menyakiti dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir (2) Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (3)

Asbaabun Nuzuul (Sebab Turun) Surat Al-Mumtahanah

Sebab turunnya permulaan surat ini adalah kisah Hathib bin Abi Balta’ah. Hathib adalah salah seorang kaum Muhajirin dan pengikut perang Badar. Dia memiliki keluarga dan harta benda di Makkah. Dia bukan dari keturunan Quraisy, tetapi ia adalah sekutu ‘Utsman. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berminat untuk membuka (menaklukkan) Makkah karena para penduduknya telah melanggar janji, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi mereka agar bersiap-siap seraya bersabda:

اَللهُمَّ عَمِّ عَلَيْهِمْ خَبَرَنَا

“Ya Allah sembunyikanlah khabar (penyerangan ini) kepada mereka.”

Maka, Hathib sengaja melayangkan sebuah surat ke Makkah melalui seorang perempuan Quraisy yang isinya adalah kabar tentang rencana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tersebut. Tujuannya adalah agar keluarganya di Makkah dapat mengambil langkah yang tepat untuk mengantisipasinya.

Allah pun memberitahukan pengiriman surat itu kepada Rasulullah, sebagai jawaban atas do’anya tadi, maka beliau mengutus seseorang untuk menjemput perempuan itu dan mengambil surat darinya. Kisah ini tercantum dalam hadits yang disepakati kesha- hihannya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Hasan bin Muhammad bin ‘Ali, dia berkata, “Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdullah bin Abi Rafi’, satu kali dia mengatakan bahwa ‘Ubaidullah bin Abi Rafi’ mengabarkan kepadanya (yakni kepada ‘Abdullah) bahwa ia pernah mendengar ‘Ali Radiyallahu ‘anhu berkata: ‘Suatu ketika Rasulullah mengutus aku, az-Zubair dan Miqdad, seraya bersabda:

‘Pergilah kalian ke kebun Khakh. Di sana ada seorang wanita yang memegang surat, lalu ambillah surat itu darinya.’

Kami pun pergi mengendarai kuda hingga tiba di kebun tersebut. Kami bertemu dengan seorang wanita dan memintanya untuk memberikan surat itu kepada kami. Dia berkata, ‘Saya tidak membawa surat.’ Kami berkata, Keluarkan surat itu atau pakaianmu akan ditanggalkan.’ Dia pun mengeluarkan surat itu dari kepangan rambutnya. Kami mengambil surat itu dan membawanya kepada Rasulullah. Ternyata surat itu berasal dari Hathib bin Abi Balta’ah kepada beberapa orang musyrik di Makkah yang mengabarkan tentang beberapa rencana Rasulullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda:

“Wahai Hathib, apa ini?”

Dia menjawab, ‘Jangan tergesa-gesa (berprasangka buruk) terhadapku, saya hanyalah seseorang yang dekat dengan kaum Quraisy, tapi bukan seperti mereka. Orang-orang Muhajirin Anda senantiasa menjaga kerabat mereka yang berada di Makkah. Karena yang bersama tidak membantu mereka secara langsung, saya mampu maka saya ingin berperan dalam memperingatkan mereka. Saya tidak melakukan hal ini karena kufur atau murtad dari agamaku. Bukan pula karena rela terhadap kekufuran setelah masuk Islam. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda:

‘Dia telah jujur kepada kalian.’

‘Umar berkata, ‘Biarkan saya menebas leher munafik orang ini.’ Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، مَا يُدْرِيكَ لَعَلّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Sesungguhnya dia adalah pengikut perang Badar. Tahukah kamu kalau Allah telah mengetahui keadaan orang-orang yang ikut serta dalam perang Badar seraya berfirman, ‘Perbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh kumpulan ulama pencatat hadits kecuali Ibnu Majah (yang memiliki versi lain) dari jalur Sufyan bin Uyainah.

Dalam kitab al-Maghaazi dalam Shahiih al-Bukhari, beliau menambahkan lafazh, ‘Maka Allah pun menurunkan (permulaan) surat al-Mumtahanah.”

Juga dalam Shahiih-nya, kitab at-Tafsiir, al-Bukhari berkata, ‘Amr berkata, Pada saat itu turunlah ayat, { يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ} ‘Hai orang-orang yang iman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia. ‘Saya tidak tahu ayat itu yang terdapat pada (rangkaian isi) hadits ataukah itu adalah perkataan ‘Amr.’

Al-Bukhari juga berkata, “Ali bin al-Madini berkata, ‘Ada yang mengatakan kepada Sufyan, bahwa karena (kisah) inilah turun ayat, { لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ} ‘Janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.’ Maka Sufyan berkata, ‘Tambahan ayat (dalam rangkaian riwayat ini) adalah perkataan manusia. Saya menghafalnya dari perkataan ‘Amr. Saya tidak melupakannya sehuruf pun dan saya tidak tahu kalau ada orang lain yang juga menghafalnya.”

 

Perintah Untuk Memusuhi Orang Kafir Dan Tidak Berloyalitas Kepada Mereka

Firman-Nya, { يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ} “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh- Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,”yakni kaum musyrik dan kafir Allah, Rasul-Nya serta kaum muslim. Mereka adalah orang-orang Allah syari’atkan untuk dimusuhi dan dilarang untuk dijadi- yang memerangi yang kan pemimpin, sahabat dan teman setia.

Ayat ini sebagaimana firman-Nya, { يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ} “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang- Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguh- nya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maa-idah: 51)

Ini adalah kecaman yang keras dan ancaman yang pasti. Dan firman-Nya, di surat yang lain, { يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ اَوْلِيَاۤءَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ} “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pe- mimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maa-idah: 57)

Juga firman-Nya, { يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا} “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An-Nisaa’: 144)

Firman-Nya lagi, { لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ} “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir men- jadi wali (teman akrab) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 28) Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menerima alasan Hathib, yaitu ketika dia melakukan hal itu sebagai suatu siasat terhadap kaum Quraisy karena harta benda dan keluarganya ada di tengah-tengah mereka.

Firman-Nya, {يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ} “Mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu.”Kenyataan ini, berikut apa yang disebutkan sebelumnya, merupakan perintah untuk memusuhi kafir dan tidak menjadikan mereka sebagai teman setia.

Mereka dahulu telah mengusir Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beserta Sahabat-Sahabatnya dari tempat mereka, hanya dikarenakan mereka benci kepada Rasulullah dan para Sahabatnya yang bertauhid dan mengesakan Allah dalam peribadahan kepada-Nya. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْ} “Karena kamu beriman kepada Allah, Rabb-mu,” yakni satu-satunya alasan mereka mengusir kalian adalah karena keyakinan kalian kepada Allah, Rabb semesta alam, sebagaimana firman-Nya, { وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّآ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ} “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruuj: 8) Juga firman-Nya, { ۨالَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰ} “(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, orang-orang kecuali karena mereka berkata: Rabb kami hanyalah Allah.” (QS. Al-Hajj: 40)

Firman-Nya, { اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ} “Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian).” Yakni, jika kalian demikian maka janganlah menjadikan mereka teman setia. Apabila kalian benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mengharap keridhaan-Ku maka janganlah kalian menjadikan musuh-Ku serta musuh kalian sebagai teman setia, sedangkan mereka telah memaksa kalian untuk meninggalkan harta benda dan keluarga dan mereka murka terhadap agama kalian.

Firman-Nya, { تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ} “Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan,” yakni kalian melakukan itu sementara Aku Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. { وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ اِنْ يَّثْقَفُوْكُمْ يَكُوْنُوْا لَكُمْ اَعْدَاۤءً وَّيَبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ وَاَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوْۤءِ} “Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu). Yakni, jika mereka mampu menangkap kalian maka mereka pasti melancarkan ucapan dan perbuatan yang menyakiti kalian.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَوَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَ} “Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” Yakni, mereka sangat tidak menyukai jika kalian memperoleh kebajikan. Jadi, kebencian mereka kepada kalian sangat jelas, lalu mengapa kalian tetap berteman setia dengan mereka?

Firman-Nya, { لَنْ تَنْفَعَكُمْ اَرْحَامُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ ۛيَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۛيَفْصِلُ بَيْنَكُمْ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ} “Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tidak bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”Yakni, kekerabatan kalian tidak akan bermanfaat jika Allah menghendaki keburukan menimpa kalian, dan manfaat mereka tidak akan kalian rasakan jika kalian rela dengan perbuatan mereka yang dimurkai Allah. Barangsiapa sepakat untuk kafir bersama kerabatnya agar mereka rela (dalam rangka mengikuti keinginan mereka), maka dia telah rugi dan tersesat. Kekerabatannya tidak akan bermanfaat di sisi Allah, walaupun dia adalah kerabat salah seorang Nabi.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas Radiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki telah berkata, “Wahai Rasulullah, di manakah bapakku?” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Di Neraka.” Ketika laki-laki itu berbalik Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda:

إِنَّ أَبِيْ وَأَبَكَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di Neraka.” Diriwayatkan juga oleh Muslim dan Abu Dawud.”

 

Al-Mumtahanah, Ayat 4-6

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ، رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, [Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah . Ini tidak boleh ditiru, karena Allah melarang seorang muk- min memintakan ampunan untuk orang-orang kafir (lihat surat an-Nisaa ayat 48)] ”Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali (4) Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (5) Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan barangsiapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.” (6)

Pada Nabi Ibrahim Dan Sahabat-Sahabatnya Ada Suri Teladan Yang Baik Bagi Orang-Orang Mukmin Dalam Hal Berlepas Diri Dari Orang-Orang Kafir

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang telah diperintahkan untuk memusuhi orang-orang kafir dan berlepas diri dari mereka, { قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ} “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia,” yakni para pengikutnya yang telah beriman bersamanya. { اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ} “Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu,” yakni kami berlepas diri dari kalian. {وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ} “Dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu,” yakni agama dan syari’at kalian. {وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا} “Dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya,” yakni mulai sekarang, ada permusuhan di antara kita. Selama kalian tetap dalam kekafiran maka kami terpisah dan kami membenci kalian. {حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ} “Sampai kamu beriman kepada Allah saja,”yakni hingga kalian mengesakan Allah, hanya menyembah kepada-Nya dan meninggalkan penyembahan berhala.

Firman-Nya, {اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ} “Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu.”Yakni, pada diri Ibrahim dan kaumnya terdapat teladan yang baik bagi kalian, kecuali permohonan ampunan Ibrahim untuk bapaknya, karena itu adalah sebuah janji yang telah terlanjur ia katakan kepada bapaknya. Ketika jelas bahwa bapaknya adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri darinya.

Allah Subhanallahu wa ta’ala menegaskan hal ini karena beberapa kaum mukminin ada yang memohonkan meninggal dalam kekafiran, dan mereka beralasan bahwa Nabi Ibrahim ampunan untuk mendiang bapaknya yang telah melakukan hal yang sama. Oleh karena itu Allah pun menurunkan ayat, {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَوَّاهٌ حَلِيْمٌ} “Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrar- kannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari- padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 113,114)

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala di ayat ini yang berbunyi, {قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ} “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu sekalian dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. ‘Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tidak dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaam) Allah.”Yakni, permohonan ampun Ibrahim untuk bapaknya (yang musyrik) bukanlah sebuah teladan yang patut dicontoh. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas , Mujahid, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, adh-Dhahhak dan yang lainnya.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala mengabarkan tentang ucapan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka meninggal-kan kaumnya dan berlepas diri dari mereka. Mereka memohon perlindungan Allah dan menundukkan diri kepada-Nya, seraya berdo’a, {رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ} “Ya Rabb kami, hanya kepada Engkau-lah kami bertawakal dan hanya kepada Engkau-lah kami bertaubat dan hanya kepada Engkau-lah kami kembali.”Yakni, hanya kepada Engkau-lah kami bertawakkal dan menyerahkan segala urusan kami, {وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ} “Dan hanya kepada Engkau-lah kami kembali,” yakni di akhirat nanti.

Tentang firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا} “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir, “Mujahid berkata, “Artinya adalah janganlah Engkau siksa kami melalui tangan-tangan mereka, dan tidak pula dengan adzab di sisi-Mu. Jangan sampai orang-orang kafir itu berkata, Kalau saja mereka dalam kebenaran niscaya mereka takkan tertimpa musibah yang ada seperti itu.” Demikian pula yang dikatakan oleh adh-Dhahhak.

Qatadah berkata, “Maksudnya yakni, Janganlah Engkau menangkan mereka sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengira bahwa kemenangan yang mereka raih itu adalah karena mereka dalam kebenaran.” Demikianlah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami, sehingga mereka akan memfitnah kami.”

Firman-Nya, {وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ} “Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” yakni tutupilah dosa-dosa kami dari selain diri- Mu, dan ampunilah kesalahan kami yang terjadi antara kami dan diri-Mu. {اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ} “Sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa,” yakni orang yang berlindung di samping-Mu tidak akan dihinakan dan diabaikan. {الْحَكِيْمُ} “Lagi Mahabijaksana,” pada firman-Mu, perbuaan-Mu, dan pada takdir-Mu yang bersifat syar’i maupun qadari.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ} “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Kemudian.” Ini adalah ta’ kiid (penguatan/penekanan) bagi kalimat sebelumnya, juga sebagai mustatsna minhu (yang dikecualikan) untuk kalimat sebelumnya (yaitu permohonan ampunan Ibrahim untuk bapaknya) karena keteladanan yang ditetapkan pada ayat ini juga merupakan keteladanan yang tertera pada ayat sebelumnya.

Firman-Nya, {لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ} “(Yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Kemudian,”ini merupakan motivasi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah.

Firman-Nya, {وَمَنْ يَّتَوَلَّ} “Dan barangsiapa yang berpaling”yakni dari perintah Allah Subhanallahu wa ta’ala, {فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ} “Maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” Ini seperti firman-Nya, {وَقَالَ مُوْسٰٓى اِنْ تَكْفُرُوْٓا اَنْتُمْ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۙفَاِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ حَمِيْدٌ} “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 8)

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Firman-Nya, {الْغَنِيُّ}’Mahakaya’ yakni Yang telah sempurna tidak kekayaan-Nya, Dia-lah Allah Subhanallahu wa ta’ala. Ini adalah sifat-Nya yang ada tandingannya dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai- Nya. Mahasuci Allah Yang Maha Esa lagi Maha Memaksa.

Firman-Nya, {الْحَمِيْدُ} ‘Maha Terpuji’ yakni melakukan segala perbuatan terhadap makhluk-Nya yang mendatangkan pujian. Dia-lah Yang Terpuji dalam segenap perkataan dan perbuatan-Nya. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanallahu wa ta’ala, dan tidak ada Rabb selain Dia.”

Al-Mumtahanah, Ayat 7-9

عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَادَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةًۗ وَاللّٰهُ قَدِيْرٌۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ، لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ، اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (7) Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (8) Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (9)

Harapan Kasih Sayang Antara Kaum Mukmin Dan Para Musuhnya

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang setelah memerintahkan mereka kaum mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir, {عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَادَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةً} “Mudah- mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang- orang yang kamu musuhi di antara mereka.”Yakni, kasih sayang setelah kebencian, kasih sayang setelah permusuhan dan persatuan setelah perpisahan. “Dan Allah adalah Mahakuasa,” yakni untuk menyatukan hal-hal yang saling berbeda, saling bertikai dan saling berjauhan.

Dia mampu menimbulkan kasih sayang di antara dua hati pernah saling bermusuhan sehingga menjadi hati yang bersatu padu, sebagaimana firman-Nya yang menjelaskan bahwa Allah meng-anugerahkan karunia yang besar bagi kaum Anshar, {وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا} “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Demikian pula yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada mereka,

أَلَمْ أجِدْكُم ضُلالا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ بِي، وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فألَّفَكُم اللَّهُ بِي

“Bukankah dahulu aku dapati kalian sebagai orang yang sesat? Lalu melaluiku Allah memberikah hidayah kepada kalian. Dan (bukankah) dahulu kalian terpecah belah lalu Allah satukan kalian melaluiku?”

Juga sebagaimana firman-Nya,

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang pang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Anfaal: 62-63)

Dalam sebuah hadits disebutkan,

أحبِبْ حَبيبَكَ هَوْنًا مَا، فَعَسَى أَنْ يكونَ بَغيضَكَ يَوْمًا مَا. وأبغِض بغيضَك هَوْنًا مَا، فَعَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

“Cintailah kekasihmu seadanya (tidak berlebihan) karena suatu hari dia mungkin menjadi musuhmu, dan bencilah musuhmu seadanya (tidak berlebihan) karena suatu hari dia mungkin men- jadi kekasihmu.”

Firman-Nya, {وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” yakni mengampuni orang-orang kafir apabila mereka bertaubat dan kembali kepada Allah. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi setiap orang yang bertaubat kepada-Nya dari dosa apa pun juga.

Berbuat Baik Kepada Orang Kafir Yang Tidak Memerangi Karena Agama

 Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ } “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang- orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) meng- usir kamu dari negerimu.” termasuk orang-orang yang membantu mereka yang memerangi kalian. Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik kepada mereka yang tidak memerangi kalian karena agama, atau tidak ikut serta mengusir kalian, seperti para perempuan dan orang-orang yang lemah.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ } “Dan (Allah tidak melarang) kalian untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada mereka,” { إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ } “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Asma’ binti Abi Bakar Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku yang musyrik mendatangiku pada masa kaum Quraisy untuk mengadakan perdamaian. Saya pun menghadap Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, ibuku mendatangiku dan ingin bertemu denganku, apakah aku boleh menghubungkan kekerabatanku dengannya?’ Beliau bersabda, Sambungkanlah hubungan kekerabatanmu dengannya. juga oleh al-Bukhari dan Muslim.

Diriwayatkan Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ‘Abdullah bin az-Zubair, ia berkata, “Qutailah pernah mendatangi anak perempuannya, Asma’ binti Abi Bakar dengan membawa beberapa hadiah, di antaranya daging dhabb [Binatang melata seperti biawak, tapi hidup di padang pasir]”, keju dan minyak samin, sedangkan ia seorang yang musyrik, maka Asma’ menolak hadiahnya serta tidak mempersila- kannya masuk rumah. ‘Aisyah pun menanyakan tentang peristiwa tersebut kepada Nabi. Maka Allah Subhanallahu wa ta’ala menurunkan ayat, { لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ } “Allah tidak melarang kamu un- tuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama,” hingga akhir ayat. Maka beliau pun memerintahkan Asma’ untuk menerima hadiah ibunya dan mempersilakannya masuk rumah.”

Firman-Nya, { إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ } “Sesunggubnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”Telah dijelaskan dalam tafsir surat al-Hujuraat (yakni ayat 9). Tentang hal itu ada hadits shahih:

الْمُقْسِطُونَ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الْعَرْشِ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ، وَأَهَالِيهِمْ، وَمَا وَلُوا

“Orang-orang yang berlaku adil kelak pada hari Kiamat berada pada mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan Arsy, yaitu mereka yang bersikap adil dalam hukum, keluarga dan semua pihak yang berada di bawah kekuasaannya.”

Larangan Membantu Orang Musyrik Yang Patut Diperangi

Firman-Nya, { إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ } “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.” Yakni, Allah Subhanallahu wa ta’ala melarang kalian untuk berteman dengan orang-orang yang memerangi kalian, yang mengusir kalian dan yang membantu pengusiran. Allah Subhanallahu wa ta’ala melarang kalian menjadikan mereka sebagai teman setia bahkan menyuruh kalian untuk memusuhi mereka. Kemudian Allah menegaskan ancaman bagi orang yang menjadikan mereka teman, seraya berfirman, { وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } “Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”Ini sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang- orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
(QS. Al-Maa-idah: 51)

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: