Tafsir Surat At-Taghaabun (Bagian 2)

At-Taghaabun, Ayat 11-13

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ، وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ، اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (11) Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang (12) (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah.” (13)

Apapun yang Menimpa Seorang Manusia Adalah Dengan Kehendak Allah

Dalam ayat di atas Allah Subhanallahu wa ta’ala mengabarkan tentang sesuatu yang telah difirmankan sebelumnya di surat al-Hadiid, yaitu:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid: 22) Demikian pula Dia berfirman di sini, {مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ} “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. “Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesuai dengan perintah Allah yang artinya se- suai dengan takdir dan kehendak-Nya.”

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ} “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “Maksudnya, barangsiapa tertimpa musibah, namun ia yakin bahwa hal itu sesuai dengan Qadha dan Qadar Allah, lalu ia bersabar, seraya memohon pahala dan menerima ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan anugerahkan beberapa hal kepadanya, yakni:

  1. Hidayah (petunjuk Allah Subhanallahu wa ta’ala kepadanya)
  2. Allah Subhanallahu wa ta’ala akan menggantikan perkara dunia yang hilang darinya.
  3. Allah akan menggantikannya dengan petunjuk di dalam hati dan keyakinan yang benar. Terkadang Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang serupa dengan yang hilang darinya, atau bahkan digantikan dengan yang lebih baik darinya.

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Firman-Nya, {وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ} ‘Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.’ Artinya, Allah Subhanallahu wa ta’ala akan memberinya petunjuk untuk benar-benar yakin, sehingga dirinya yakin bahwa apa yang akan menimpanya tidak akan luput darinya dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.”

Di dalam sebuah hadits muttafaq ‘alaih disebutkan sebagai berikut:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ لَا يَقْضِيَ اللهُ لَهُ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ فَصَبَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ

“Sungguh mengagumkan perkara orang yang beriman itu. Tidak ada satu ketetapan yang Allah tetapkan padanya, melainkan hal itu selalu menjadi kebaikan baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, lalu ia sabar, hal itu menjadi baik baginya. Sebaliknya jika mendapat kesenangan, lalu bersyukur, maka itu baik baginya. Keadaan seperti itu hanya bagi orang yang beriman.”

Perintah Untuk Taat Kepada Allah Dan Rasul-Nya

Firman-Nya, { وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ} “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul,” adalah perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya pada hal-hal yang telah disyari’atkan. Allah Subhanallahu wa ta’ala menyuruh untuk melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menghindari apa yang dilarang oleh-Nya.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاِنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ} “Jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang,” yakni jika kalian tidak peduli atau tidak melaksanakan perintahnya, maka tugas Rasul hanyalah menyampaikan, sedangkan tugas kalian adalah mendengarkan dan menaati- nya.

Az-Zuhri berkata, “Risalah itu dari Allah Subhanallahu wa ta’ala; kewajiban Rasul-lah menyampaikan dan keharusan kita untuk menerimanya.

Tentang Tauhid/Keesaan Allah

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia-lah Yang Maha Esa, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak ada ilah berhak diibadahi dengan benar selain-Nya. Dia berfirman, { اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ} “(Dia-lah) Allah, tidak ada ilah yang (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertarwakal kepada Allah saja.”

Kalimat pertama pada ayat itu adalah kalimat berita tentang keesaan-Nya dan maknanya adalah perintah, yakni esakanlah Allah Subhanallahu wa ta’ala dan bertawakallah hanya kepada-Nya, sebagaimana firman- Nya, { رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيْلًا} “Dia-lah Rabb masyrik dan maghrib (timur dan barat), tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9)

At-Taghaabun, Ayat 14-18

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ، اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ، اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌ، عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (14) Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar (15) Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung (16) Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun (17) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (18)

Peringatan Atas Fitnah Istri Dan Anak

Allah mengabarkan tentang istri dan anak-anak, bahwasanya di antara mereka ada yang menjadi musuh suami atau bapak, artinya mereka menyibukkannya dari beramal shalih, sebagaimana firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak- anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Munaafiqun: 9)

Oleh karena itu di sini Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَاحْذَرُوْهُمْ} “Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” Ibnu Zaid berkata, “Artinya berhati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mengorban kan agama kalian.”

Mengomentari firman-Nya, { اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ} “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”Mujahid berkata, “Yakni menjerumuskan mereka untuk memutuskan tali silaturahim atau bermaksiat kepada Rabb-nya. Ia tidak mampu berbuat apa-apa dikarenakan cintanya kepada mereka, sehingga ia mengikuti keinginan mereka (yang sesat).”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ketika ia ditanyai seseorang tentang ayat ini, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka,”beliau berkata, “Mereka adalah para laki-laki yang telah memeluk Islam sejak di Makkah dan ingin mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tapi para istri dan anak-anak mereka menolaknya. Ketika mereka mendatangi Rasulullah, mereka melihat orang-orang telah banyak memahami masalah agama (sedangkan ia tidak seperti itu), lalu mereka berniat menghukum istri dan anak-anak mereka, maka Allah Subhanallahu wa ta’ala menurunkan ayat, { وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ } “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, dan dia mengatakan bahwa hadits itu adalah hadits hasan.”

Firman-Nya, { اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ } “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” Allah menjelaskan bahwa harta dan anak-anak adalah fitnah, yakni ujian terhadap hamba-Nya, untuk diketahui siapa yang taat dan siapa yang durhaka.

Firman-Nya, {وَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ} “Di sisi Allah-lah,” yakni pada hari Kiamat, {اَجْرٌ عَظِيْمٌ} “Pahala yang besar,” sebagaimana firman-Nya,

 زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).”
(QS. Ali ‘Imran: 14) dan ayat setelahnya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Buraidah, ia berkata, “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah, tiba-tiba datang al-Hasan dan al-Husain (yang masih kecil) mengenakan pakaian berwarna merah, keduanya berjalan-jalan yang kadang-kadang terjatuh, maka beliau turun dari mimbar dan mengangkat mereka berdua lalu bersabda:

صَدَقَاللهُ وَرَسُوْلُهُ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ نظرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصبِيَّيْنِ يَمْشِيانِ وَيَعْثُرانِ فَلَمْ أَصْبِرْ حتى قطعْتُ حديثي وَرَفَعْتُهُمَا

‘Maha benar Allah dan Rasul-Nya, (Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman) “Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah cobaan.” Saya memandangi kedua anak ini berjalan dan terjatuh, maka saya tidak sabar hingga saya memotong pembicaraan dan mengang- kat mereka (karena rasa sayang beliau). Diriwayatkan juga oleh para penulis kitab Sunan. Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits hasan gharib.

Perintah Untuk Bertakwa Semampunya

Firman-Nya, { فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu,” yakni semampu kalian, sebagaimana tercantum dalam ash-Shahiihain, dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah telah bersabda:

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَائْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ

“Apabila saya memerintahkan sesuatu kepada kalian maka lakukanlah semampunya dan apa yang aku larang hindarilah.”

Firman-Nya, { وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا } “Dan dengarlah serta taatlah,” yakni jadilah kalian orang-orang yang tunduk patuh akan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jangan condong ke kanan dan ke kiri, jangan mengedepankan siapa pun selain dari keduanya. Jangan melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, dan jangan melakukan larangan keduanya.

Anjuran Bershadaqah

Firman-Nya, { وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْ } “Dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu,”yakni sumbangkanlah rizki yang Allah berikan itu kepada kerabatmu, para fakir miskin dan orang-orang yang memerlukan. Berbuat baiklah kepada sesama makhluk Allah Subhanallahu wa ta’ala sebagaimana Allah Subhanallahu wa ta’ala telah berbuat baik kepada kalian. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian di dunia dan di akhirat. Jika kalian tidak melakukannya, maka hal itu akan menjadi keburukan bagi kalian di dunia dan di akhirat.

Firman-Nya, { وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ } “Dan barang- siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung,” tafsir ayat ini telah dijelaskan di surat al-Hasyr (yakni ayat 9) beserta hadits-hadits yang sejalan dengan ayat ini, sehingga tidak perlu diulang lagi.

Firman-Nya, { اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ } “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Yakni, seberapa besar pun yang kamu nafkahkan niscaya Allah akan mengganti dan membalasnya.

Hal ini diumpamakan sebagai pinjaman, sebagaimana yang tertera pada hadits qudsi yang shahih bahwa Allah Subhanallahu wa ta’ala telah berfirman:

مَنْ يُقْرِضُ غَيْرَ ظَلُومٍ وَلَا عَدِيْمٍ

“Siapakah yang mau meminjamkan, tanpa kezhaliman dan menyiksa diri?.”
[Maksud menyiksa diri adalah setelah meminjamkan hartanya, maka ia menjadi fakir]”

Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala akan melipatgandakannya sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Baqarah, {فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً} “Maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipatganda yang banyak. ” (QS. Al-Baqarah: 245)

Firman-Nya, { وَيَغْفِرْ لَكُمْ} “Dan mengampuni kamu,”yakni Allah Subhanallahu wa ta’ala akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ} “Dan Allah Maha Pembalas Jasa,” yakni membalas yang kecil dan yang besar. {حَلِيْمٌ} “Lagi Maha Penyantun,” yakni Dia memberi maaf, mengampuni serta menutupi kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ} “Yang Me- ngetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” Tafsirnya telah dijelaskan sebelumnya berkali-kali sehingga tidak perlu diulangi kembali.

Demikianlah akhir dari penafsiran surat at-Taghaabun. Segala pujian dan anugerah hanya milik-Nya.

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: