Tafsir Surat Al-Haaqqah {Bagian 2}

Al-Haaqqah, Ayat 19-24

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ فَيَقُوْلُ هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْ، اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مُلٰقٍ حِسَابِيَهْۚ، فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ، فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ، قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ، كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَآ اَسْلَفْتُمْ فِى الْاَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” (19) Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku (20) Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai (21) dalam surga yang tinggi (22) buah-buahannya dekat (23) (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (24)

Kegembiraan Penerima Kitab Dengan Tangan Kanan Serta Keadaannya Yang Baik

Allah Subhanallahu wa ta’ala mengabarkan kegembiraan yang dirasakan orang-orang yang menerima kitab catatannya dengan tangan kanan. Karena begitu gembiranya dia akan mengatakan kepada setiap orang yang dijumpainya, { هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْ } “Ambillah, bacalah kitabku (ini), “yakni ambil dan bacalah kitabku ini, karena dia tahu bahwa isinya adalah kebaikan saja, dan dia termasuk orang-orang yang digantikan keburukannya dengan kebaikan. “

‘Abdurrahman bin Zaid berkata, “Makna firman Allah, { هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْ} Ambillah, bacalah kitabku (ini),”yakni inilah buku catatan amal saya, ambil dan bacalah ia. Lafazh ؤُمُ yang ada pada هَاۤؤُمُ adalah tambahan. Secara lahir itu bermakna هَاۤ كُمُ (Ini, ambillah oleh kalian).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Abdullah bin Abdillah bin Hanzhalah -orang yang dimandikan Malaikat-, ia berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanallahu wa ta’ala menjajarkan hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat dan menampakkan keburukan-keburukannya pada kitab catatannya seraya berfirman, Kamu mengetahuinya.’ Sang hamba berkata, “Ya, wahai Rabb-ku.’ Allah pun berfirman, ‘Sesungguhnya Aku tidak akan menghinakanmu karenanya dan Aku telah mengampunimu. Pada saat itulah dia berkata, { هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْ} ‘Bacalah kitabku ini.’ 4 l Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.’ Ini diucapkan ketika dia selamat dari kehinaan pada hari Kiamat.

Dalam kitab ash-Shahiih tercantum hadits Ibnu ‘Umar Radiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ia ditanya tentang an-najwa (obrolan rahasia/bisikan an- tara Allah dan hamba-Nya yang mukmin, dimana Allah mengabar- kan tentang dosa-dosa yang ia perbuat sebagai suatu kehormatan baginya, lalu Allah mengampuninya), maka dia berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يُدْنِي اللهُ الْعَبْدَيَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَضعَ عليهِ كنفَه ثمَّ يقرِّرُه بذنوبِه فيقولُ هل تعرفُ فيقولُ يا ربِّ أعرفُ حتَّى إذا بلغَ منهُ ما شاءَ اللَّهُ أن يبلغَ قالَ إنِّي سترتُها عليكَ في الدُّنيا وأنا أغفرُها لَك اليومَ قالَ ثمَّ يعطى صحيفةَ حسناتِه أو كتابَه بيمينِه قالَ وأمَّا الكافرُ أوِ المنافقُ فينادى علَى رءوسِ الأشهادِ قالَ خالدٌ في الأشهادِ شيءٌ منَ انقطاعٍ ( هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ ألَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ )

“Allah mendekati hamba pada hari Kiamat, maka Dia menetapkan semua dosa-dosa sang hamba. Hingga ketika Dia melihatnya telah binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupi dosa-dosa itu di dunia dan hari ini Aku mengampunimu.’ Kemudian diberikan catatan kebaikannya ke tangan kanan. Ada- pun orang kafir dan munafik maka para saksi akan mengatakan, Merekalah yang telah mendustai Rabb-nya. Ketahuilah laknat Allah itu untuk orang-orang zhalim.”

Firman-Nya, { اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مُلٰقٍ حِسَابِيَهْ} “Sesungguhnya aku yakin, bahrwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku,” yakni di dunia saya telah yakin bahwa hari ini pasti akan terjadi, sebagaimana firman-Nya, { الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ} “(Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya.” (QS. Al-Baqarah: 46) Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ} “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalaim Surga yang tinggi, yakni yang tinggi istananya, cantik bidadarinya, lembut tempat- tempatnya dan kekal keadaannya. Tercatat dalam kitab ash-Shahiih:

إِنَّ الْجَنَّةَ مِائَةُ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sesungguhnya Surga itu 100 tingkatan. Antara tiap tingkatan sejauh langit dan bumi.”

Firman-Nya, { قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ} “Buah-buahannya dekat,” Al-Bara’ bin ‘Azib berkata, is artinya begitu dekat sehingga salah satu dari mereka dapat mengambilnya sambil berbaring di atas tempat tidur.” Demikian juga dikatakan oleh selainnya.

Firman-Nya, { كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَآ اَسْلَفْتُمْ فِى الْاَيَّامِ الْخَالِيَةِ } (Kepada mereka dikatakan): Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”Yakni hal itu dikatakan kepada mereka sebagai penghormatan, mempersilakan, juga sebagai pemberian nikmat, anugerah serta kebaikan kepada mereka. [Jadi itu semua adalah pemberian dari Allah Subhanallahu wa ta’ala, bukan sebagai upah atas amalnya], sebab telah ditegaskan dalam ash-Shabiihain bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:

اِعْمَلُوا وَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ لَنْ يُدْخِلَهُ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَةِ مِنْهُ وَ فَصْلٍ

“Berbuatlah, laksanakanlah dengan penuh (apa yang diperin- tahkan Allah), dekatilah (jika tidak bisa mencapai kebenaran yang diminta) dan ketahuilah bahwa tidak satu pun dari kalian yang masuk Surga karena amalannya.” Mereka berkata, “Begitu pula engkau, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Begitu pula saya, hanya saja Allah melimpahkan kepadaku rahmat dan karunia-Nya.”

Al-Haaqqah, Ayat 25-37

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِشِمَالِهٖ ەۙ فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْ، وَلَمْ اَدْرِ مَا حِسَابِيَهْۚ، يٰلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ، مَآ اَغْنٰى عَنِّيْ مَالِيَهْ، هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطٰنِيَهْ، خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُ، ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُ، ثُمَّ فِيْ سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوْهُ، اِنَّهٗ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِ، وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ، فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هٰهُنَا حَمِيْمٌ، وَّلَا طَعَامٌ اِلَّا مِنْ غِسْلِيْنٍ، لَّا يَأْكُلُهٗٓ اِلَّا الْخَاطِـُٔوْنَ

“Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku (25) Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku (26) Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu (27) Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku (28) Kekuasaanku telah hilang dariku.” (29) (Allah berfirman), “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” (30) Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala (31) Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta (32) Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar (33) Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin (34) Maka pada hari ini di sini tidak ada seorang teman pun baginya (35) Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah (36) Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (37)

Buruknya Keadaan Orang Yang Diberi Kitab Dari Sebelah Kiri

Ini merupakan kabar tentang keadaan orang-orang yang celaka, apabila salah seorang dari mereka diberi catatan amal di tempat penampakkan segala sesuatu dari sebelah kirinya, maka pada saat itulah dia sangat menyesal. {فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْ وَلَمْ اَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ يٰلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ} “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu,”

Adh-Dhahhak berkata, “Mereka mengharapkan suatu kematian tidak ada lagi kehidupan setelahnya.” Demikian pula yang di- katakan oleh Muhammad bin Ka’b, ar-Rabi’ dan as-Suddi. Qatadah berkata, “Yakni saat itu mereka mengharap kematian, padahal dahulu di dunia tidak ada yang lebih dia benci daripada kematian.”

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {مَآ اَغْنٰى عَنِّيْ مَالِيَهْ هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطٰنِيَهْ} “Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku,” yakni harta dan kekuasaanku tidak dapat menolongku dari siksaan Allah.

Pada saat itulah Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُ ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُ} “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api Neraka yang menyala-nyala.” Allah memerintahkan Malaikat Zabaniyah untuk menyeretnya dari Mahsyar dengan paksa, lalu membelenggunya yakni meletakkan rantai di lehernya, kemudian menghadapkannya ke Neraka Jahannam untuk selanjutnya dimasukkan ke dalamnya.

Firman-Nya, {ثُمَّ فِيْ سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوْهُ} “Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh basta.” Ka’bul Ahbar berkata, “Setiap lingkaran rantainya sebanyak besi yang ada di dunia.” Al-‘Aufi menuturkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij, keduanya berkata, “(Yakni) sepanjang hasta Malaikat.”

Ibnu Jarij menuturkan dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَاسْلُكُوْهُ “belitlah dia,” yakni, masukkan dari duburnya hingga keluar dari mulutnya, lalu disusun seperti sate belalang ketika dipanggang.’ Al Aufi menuturkan dari ‘Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “(Yakni) dimasukkan dari duburnya dan keluar dari kedua lubang hidungnya hingga dia tidak dapat berdiri.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari “Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, “Rasulullah telah bersabda:

لَوْ أَنَّ رَصَاصَةً مِثْلَ هَذِهِ _ وأشار إلى مثلِ الجمجمةِ _ أُرسِلتْ من السَّماءِ إلى الأرضِ ، وهي مسيرةُ خمسِمائةِ سنةٍ ، لبلَغتِ الأرضَ قبل اللَّيلِ ، ولو أنَّها أُرسِلتْ من رأسِ السِّلسلةِ ، لسارتْ أربعين خريفًا _ اللَّيلَ والنَّهارَ _ قبل أن تبلُغَ قعرَها أو أصلَها.

“Kalau saja peluru seperti benda ini-beliau menunjuk pada teng- korak- dikirim dari langit ke bumi yang jarak antara keduanya 500 tahun maka ia akan tiba di bumi sebelum malam tiba. Dan kalau saja ia (peluru tadi dengan kecepatan yang sama) dikirim dari ujung rantai itu, maka ia akan berjalan selama 40 musim kering sebelum sampai ke pangkalnya.” Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Ini adalah hadis hasan.”

Firman-Nya, { اِنَّهٗ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ } “Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin,”yakni tidak menjalankan hak Allah yang diwajib- kan kepadanya, yaitu taat dan beribadah kepada-Nya. Selain itu, ia tidak memberikan manfaat kepada makhluk Allah yang lain dan tidak menunaikan hak mereka.

Kewajiban seorang hamba kepada Allah adalah mengesakan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Sedangkan kewajiban antara sesama hamba-Nya adalah berbuat baik serta saling tolong-menolong dalam kebaikan. Oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Ketika Rasulullah akan meninggal dunia beliau berpesan (dan mengulang-ulang pesan ini):

الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jagalah shalat dan (jagalah hak) budak-budak kalian.”

Firman-Nya, { فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هٰهُنَا حَمِيْمٌ وَّلَا طَعَامٌ اِلَّا مِنْ غِسْلِيْنٍ لَّا يَأْكُلُهٗٓ اِلَّا الْخَاطِـُٔوْنَ} “Maka tidak ada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini. Dan tidak ada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.”Pada hari ini tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari siksa Allah, baik dari teman dekat, maupun orang yang suka memberi saran dan ditaati perintahnya.

Mereka hanya akan mendapatkan makanan dari darah dan nanah. Qatadah berkata, “Itu (غِسْلِيْنٍ) adalah makanan penghuni Neraka yang terburuk.” Ar-Rabi’ dan adh-Dhahhak berkata, “Itu (غِسْلِيْنٍ) adalah pohon di Neraka Jahannam.” Syabib bin Bisyr menuturkan dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas , ia berkata, ‘Kata (غِسْلِيْنٍ) adalah darah dan air yang keluar dari daging mereka.” Ali bin Abi Thalhah juga menuturkan dari Ibnu ‘Abbas , ia berkata, “Lafazh (غِسْلِيْنٍ) adalah nanah penghuni Neraka.”

Al-Haaqqah, Ayat 38-43

فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَ، وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَ، اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ، وَّمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍۗ قَلِيْلًا مَّا تُؤْمِنُوْنَ، وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ، تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat (38) dan demi apa yang tidak kamu lihat (39) Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia (40) dan ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya (41) Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya (42) Ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.” (43)

Al-Qur-An Adalah Firman Allah

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman sambil bersumpah kepada makhluk-Nya atas ayat-ayat yang telah mereka saksikan pada segala ciptaan-Nya yang menandakan kesempurnaan nama dan sifat-Nya, begitu pula dengan segala sesuatu yang ghaib yang tidak mereka saksikan. Sesungguhnya al-Qur-an itu adalah firman-Nya yang diturunkan kepada hamba dan Rasul yang Dia pilih untuk menyampaikan risalah dan menunaikan amanah, maka Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَ وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَ اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ } “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya al-Qur-an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,” yakni Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Di ayat ini Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ} yang (secara harfiyah) berarti: “Sesungguhnya al:Qur-an ini adalah perkataan Rasul yang mulia,” yakni Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Allah Subhanallahu wa ta’ala menyandarkan kata قَوْلُ (perkataan) kepada kata رَسُوْلٍ (Muhammad), bukan berarti bahwa al-Qur-an itu buatan Muhammad, akan tetapi hanya menunjukan makna tabligh (penyampaian). [Jadi penggalan ayat ini harus diartikan: “Sesungguhnya al-Qur-an ini adalah firman Allah yang di- sampaikan oleh Mubammad (kepada manusia). “] Hal ini dikarenakan di antara tugas Rasulullah adalah menyampaikan al-Qur-an dan risalah dari yang mengutusnya (Allah Subhanallahu wa ta’ala).

Adapun dalam surat at-Takwiir Allah menyandarkannya kepada Rasul dari kalangan Malaikat. Allah berfirman Subhanallahu wa ta’ala, { اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍ مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍ } “Sesungguhnya al-Qur-an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibrill, yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy, yang ditaati di sana (di alam Malaikat) lagi dipercaya. ” (QS. At-Takwir: 19-21) Maksud Rasul yang mulia di ayat ini adalah Jibril ‘Alaihi Sallam.

Setelah itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍ} “Dan temanmu itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. “(QS. At-Takwiir: 22) yakni Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. { وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِ} “Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang, ” (QS. At-Takwiir: 23) yakni Muhammad telah melihat Jibril dengan wujud aslinya. { وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍ} “Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil intuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwiir: 24) yakni bukan dengan tebak-tebakan. { وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍ} “Dan al-Qur-an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwiir: 25)

Demikian pula firman-Nya di sini, { وَّمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍۗ قَلِيْلًا مَّا تُؤْمِنُوْنَ وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ } itu bukanlah perkataan seorang penya’ir. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.”

Terkadang Allah Subhanallahu wa ta’ala menyandarkan Qaul (Firman)-Nya kepada Rasul dari kalangan Malaikat, dan terkadang kepada Rasul dari kalangan manusia, karena keduanya bertugas untuk menyampaikan risalah-Nya. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala menegaskan hakikat al-Qur- an dengan firman-Nya, { تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ } “Ia(al-Qur-an) adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam.”

Al-Haaqqah, Ayat 44-52

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْاَقَاوِيْلِ، لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِ، ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَ، فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِيْنَ، وَاِنَّهٗ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ، وَاِنَّا لَنَعْلَمُ اَنَّ مِنْكُمْ مُّكَذِّبِيْنَ، وَاِنَّهٗ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۚ، وَاِنَّهٗ لَحَقُّ الْيَقِيْنِ، فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami (44) pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya (45) Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya (46) Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya) (47) Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (48) Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan (49) Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu akan menimbulkan penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat) (50) Dan Sungguh, (Al-Qur’an) itu kebenaran yang meyakinkan (51) Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung.” (52)

Jika Nabi Mengada-Ada Satu Hal Saja Atas Nama Allah, Niscaya Allah Akan Menghukumnya

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا} “Seandainya dia mengada- adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,” yakni kalau saja Muhammad membuat-buat atas nama Kami sebagaimana yang mereka klaim dengan cara menambahkan atau mengurangi kandungan risalah, atau ia mengatakan sesuatu dari dirinya lalu menisbatkannya kepada Kami, maka siksaan untuknya akan segera diturunkan.

Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِ} “Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.” Ada yang berpendapat, maknanya: Niscaya Kami akan membalasnya dengan tangan kanan karena (biasanya) kekuatan tangan kanan itu lebih kuat.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَ} “Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya,”Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, “Yaitu urat pengikat jantung.” Demikian pula pendapat ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, al-Hakam, Qatadah, adh-Dhahhak, Muslim al-Bathin dan Abu Shakhr Humaid bin Ziyad.

Muhammad bin Ka’b berkata, “Yang dimaksud adalah jantung dan urat-urat atau pembuluh darah yang ada di sekitarnya.”

Firman-Nya, { فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِيْنَ} “Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.”Tidak akan ada seorang pun yang mampu menghalangi Kami, jika Kami menghendaki sesuatu terhadapnya.

Ayat ini menunjukkan bahwa Muhammad adalah manusia jujur, suka melakukan kebaikan, dan terbimbing untuk selalu ikuti kebaikan. Allah menguatkan dan mengukuhkan semua yang yang meng- ia sampaikan dari-Nya. Dia Subhanallahu wa ta’ala pun mendukungnya dengan mukjizat- mukjizat yang handal dan bukti-bukti yang tak tertandingi.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَاِنَّهٗ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ} “Dan sesung- guhnya al-Qur-an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. “Dhamir pada (اِنَّهٗ) kembali kepada al-Qur-an, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, Dia (al Qur-an) itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang al-Qur-an itu suatu kegelapan bagi mereka.” (QS. Fushshilat: 44)

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَاِنَّا لَنَعْلَمُ اَنَّ مِنْكُمْ مُّكَذِّبِيْنَ} “Dan sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya), “yakni meskipun al-Qur-an begitu jelas, namun tetap akan ada yang mendustakannya.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَاِنَّهٗ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكٰفِرِيْن} “Dan sesungguhnya al-Qur-an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat),” Ibnu Jarir berkata, “(Yakni) sesungguhnya pendustaan (terhadap al-Qur-an) itu merupakan kerugian bagi orang-orang kafir di hari Kiamat.” Pernyataan yang sama juga dinukil dari Qatadah.”

Kemungkinan kata ganti (dhamir) itu kembali pada al-Qur-an, yang artinya sesungguhnya al-Qur-an dan keimanan terhadapnya pada waktu yang sama merupakan kerugian bagi orang-orang kafir (yang mengingkarinya), sebagaimana firman-Nya, { كَذٰلِكَ سَلَكْنٰهُ فِيْ قُلُوْبِ الْمُجْرِمِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ} “Demikianlah Kami masukkan al Qur-an ke dalam hati orang-orang yang durhaka. Mereka tidak beriman kepadanya.” (QS. Asy-Syu’araa’: 200-201) Juga firman-Nya, { وَحِيْلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُوْنَ} “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.” (QS. Saba’: 54)

Oleh karena itu di sini Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { وَاِنَّهٗ لَحَقُّ الْيَقِيْنِ} “Dan sesungguhnya al-Qur-an itu benar-benar kebenarán yang diyakini,” yakni kabar benar yang tidak ada keraguan dan kebimbangan sama sekali di dalamnya.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ} “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Makabesar,” yakni Yang menurunkan al-Qur-an yang agung.

Demikianlah akhir penafsiran surat al-Haaqqah. Segala puji dan anugerah hanya milik Allah.

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: