Tafsir Surat Al-Muddatstsir {Bagian 2}

Al-Muddatstsir, Ayat 11-30

ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًا، وَّجَعَلْتُ لَهٗ مَالًا مَّمْدُوْدًا، وَّبَنِيْنَ شُهُوْدًا، وَّمَهَّدْتُّ لَهٗ تَمْهِيْدًا، ثُمَّ يَطْمَعُ اَنْ اَزِيْدَ، كَلَّاۗ اِنَّهٗ كَانَ لِاٰيٰتِنَا عَنِيْدًا، سَاُرْهِقُهٗ صَعُوْدًا، اِنَّهٗ فَكَّرَ وَقَدَّرَ، فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ، ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ، ثُمَّ نَظَرَ، ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ، ثُمَّ اَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ، فَقَالَ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ يُّؤْثَرُ، اِنْ هٰذَآ اِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ، سَاُصْلِيْهِ سَقَرَ، وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سَقَرُ، لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُ، لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ، عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَۗ

“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya (11) dan Aku beri kekayaan yang melimpah (12) dan anak-anak yang selalu bersamanya (13) dan Aku beri kelapangan (hidup) seluas-luasnya (14) Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya (15) Tidak bisa! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an) (16) Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan (17) Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya) (18) maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? (19) Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? (20) Kemudian dia (merenung) memikirkan (21) lalu berwajah masam dan cemberut (22) kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (23) lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu) (24) Ini hanyalah perkataan manusia.” (25) Kelak, Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar (26) dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? (27) Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan (28) yang menghanguskan kulit manusia (29) Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (30)

Ancaman Bagi Orang Yang Menuduh Al-Qur-An Itu Sihir

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman mengancam orang busuk ini, di mana Dia telah melimpahinya dengan kenikmatan dunia, akan tetapi ia justru mengingkari nikmat-nikmat Allah, menggantinya dengan kekufuran, menyikapinya dengan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah dan mengadakan kedustaan atasnya. Ia mengatakan bahwa al-Qur-an itu adalah perkataan manusia.

Allah Subhanallahu wa ta’ala telah menghitung nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya seraya berfirman, { ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًا} “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian,” yakni dia keluar dari perut ibunya sendirian, tanpa harta atau anak. Kemudian Allah mengaruniakannya {مَالًا مَّمْدُوْدًا} “Harta benda yang banyak, “yakni yang berlimpah ruah, {وَّبَنِيْنَ شُهُوْدًا} “Dan anak-anak yang selalu bersama dia. “Mujahid berkata, “Yakni yang tidak pergi darinya.” Artinya, anak-anak itu hadir di sisinya, tidak bepergian untuk berdagang. Para budak dan pekerja merekalah yang mengurusinya untuk mereka, sementara mereka duduk-duduk saja di sisi bapak mereka sambil bersenang-senang dan bersenda gurau.

Menurut as-Suddi, Abu Malik dan Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, anak-anaknya berjumlah 13 orang.” Menurut Ibnu ‘Abbas s dan Mujahid, mereka berjumlah sepuluh orang.” Kebersama- annya bersama mereka adalah nikmat yang tertinggi. {وَّمَهَّدْتُّ لَهٗ تَمْهِيْدًا} “Dan Aku lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,” yakni Kami memberinya berbagai macam harta benda, perlengkapan hidup dan lain-lainnya.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {ثُمَّ يَطْمَعُ اَنْ اَزِيْدَ كَلَّاۗ اِنَّهٗ كَانَ لِاٰيٰتِنَا عَنِيْدًا} “Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur-an),” yakni menentang dan mengingkari nikmat-nikmat- Nya setelah mengetahuinya.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {سَاُرْهِقُهٗ صَعُوْدًا} “Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. “Qatadah berkata dari Ibnu “Abbas , “Lafazh صَعُوْدًا adalah sebuah gunung batu di Jahannam, di mana orang kafir diseret di atasnya di atas wajahnya.” As-Suddi berkata, “Lafazh صَعُوْدًا adalah sebuah gunung batu licin di Neraka Jahannam, di mana dia dipaksa untuk mendakinya.” Mujahid berkata, Firman-Nya, ‘Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan,’ yakni kesulitan karena siksaan.” Qatadah berkata, “(Yakni) siksaan yang tidak pernah berhenti.”

Firman-Nya, {اِنَّهٗ فَكَّرَ وَقَدَّرَ} “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya),” yakni Kami sengaja membebaninya dengan pendakian yang melelahkan. Kami mendekatkannya kepada adzab yang berat, karena jauhnya dia dari iman. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan apa yang akan dikatakannya tentang al-Qur-an, ketika dia ditanya ten- tang hal itu. Akhirnya, setelah memikirkan dan merenungkan, ia menetapkan jawaban dusta. {وَقَدَّرَ} “Dan dia menetapkan,” yakni memikirkan.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ} “Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?” Ini adalah doa untuk kecelakaannya.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {ثُمَّ نَظَرَ} “Kemudian dia memikirkan,” yakni dia kembali berpikir dan merenung. {ثُمَّ عَبَسَ} “Sesudah itu dia bermasam muka,” yakni mengernyitkan dahinya {وَبَسَرَ} “Dan merengut,” yakni cemberut penuh kebencian.

Firman-Nya, {ثُمَّ اَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ} “Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri, “yakni berpaling dari kebenaran dan berbalik ke belakang menyombongkan diri, tidak mau tunduk kepada al-Qur-an. {فَقَالَ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ يُّؤْثَرُ} “Lalu dia berkata: (Al-Qur-an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu).”Yakni, ia mengatakan bahwa al-Qur-an ini hanyalah sihir yang dipelajari Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dari nenek moyangnya terdahulu. Oleh karena itu dia menambahkan, {اِنْ هٰذَآ اِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ} “Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia,” yakni bukan firman Allah.

Orang yang disebutkan pada ayat ini adalah al-Walid bin al-Mu- ghirah al-Makhzumi, salah seorang petinggi kaum Quraisy, semoga Allah melaknatnya. Kisah tentangnya adalah yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma yang berkata, “Al-Walid bin al-Mughirah mendatangi Abu Bakar bin Abu Quhafah dan mena- nyainya tentang al-Qur-an. Setelah diberi tahu, dia menemui kaum Quraisy dan berkata, ‘Sungguh ajaib apa yang dikatakan oleh Ibnu Abi Kabsyah (Rasulullah). Demi Allah, itu bukanlah sya’ir, bukan sihir, bukan pula racauan kegilaan. Sungguh, ucapannya adalah firman Allah.

Ketika para pemuka Quraisy mendengarnya, mereka berunding seraya berkata, ‘Demi Allah, apabila al-Walid pindah agama niscaya kaum Quraisy akan mengikutinya. Ketika Abu Jahal bin Hisyam mendengar hal ini dia berkata, “Demi Allah, serahkanlah urusannya kepadaku.’ Dia pun berangkat ke rumah al-Walid dan berkata kepadanya, Tahukah kamu kalau kaummu telah mengumpulkan sedekah untukmu?’ Al-Walid menjawab, ‘Bukankah harta dan anak-anak saya lebih banyak dari mereka?’ Abu Jahal berkata, ‘Mereka membicarakan bahwa kamu mendatangi Ibnu Abi Quhafah untuk mendapatkan makanannya. Al-Walid berkata, ‘Apakah kabar itu telah sampai kepada keluargaku? Tidak, demi Allah, saya tidak mendekati Ibnu Abi Quhafah, “Umar atau Ibnu Abi Kabsyah, dan perkataannya hanyalah sihir yang dipelajari dari leluhur.’ Maka Allah pun menurunkan ayat, {ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًا} “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian,” hingga firman-Nya, {لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُ} “Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.”

Qatadah berkata, “Mereka menduga bahwa dia telah berkata, ‘Demi Allah, saya telah merenungkan apa yang dikatakan lelaki itu (Muhammad), dan ternyata itu bukanlah syair. Di dalam perkataan- nya terdapat keindahan, dan di atasnya terdapat keelokan. Perkata- annya tinggi dan tidak dapat dikalahkan. Saya tidak ragu kalau itu sihir.’ Maka, Allah menurunkan ayat, {فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ} “Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?”

Firman-Nya, {ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ} “Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut,” yakni mengerutkan keningnya dan cemberut.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {سَاُصْلِيْهِ سَقَرَ} “Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Sagar.”Yakni, Kami akan menenggelamkannya di sana, sehingga dirinya terlingkupi siksa dari segala arah.

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سَقَرُ} “Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu?”Pertanyaan ini gaya bahasa untuk menunjuk-kan kedahsyatan keadaannya. Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala menjelaskannya dengan firman-Nya, {لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُ} “Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, “yakni memakan seluruh daging, urat, saraf dan kulit mereka (tidak tersisa), lalu diganti dengan jasad yang baru. Mereka di dalamnya tidak akan mati, akan tetapi mereka pun tidak hidup normal. Demikianlah pendapat Ibnu Buraidah, Abu Sinan dan yang lainnya.

Firman-Nya, {لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ} “(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. “Demikianlah pendapat Mujahid Qatadah,” begitu pula Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma.

Firman-Nya, {عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ} “Di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga),”yakni para pemuka Malaikat Zabaniyah, yaitu penjaga Neraka yang bertubuh besar dan berakhlak kasar.

Al-Muddatstsir, Ayat 31-37

وَمَا جَعَلْنَآ اَصْحٰبَ النَّارِ اِلَّا مَلٰۤىِٕكَةً ۖوَّمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ اِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْاۙ لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا وَّلَا يَرْتَابَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْمُؤْمِنُوْنَۙ وَلِيَقُوْلَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْكٰفِرُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۗ كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَۗ وَمَا هِيَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ، كَلَّا وَالْقَمَرِ، وَالَّيْلِ اِذْ اَدْبَرَ، وَالصُّبْحِ اِذَآ اَسْفَرَ، اِنَّهَا لَاِحْدَى الْكُبَرِ، نَذِيْرًا لِّلْبَشَرِ، لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّتَقَدَّمَ اَوْ يَتَاَخَّرَۗ

“Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia (31) Tidak! Demi bulan (32) dan demi malam ketika telah berlalu (33) dan demi subuh apabila mulai terang (34) sesunggunya (Saqar itu) adalah salah satu (bencana) yang sangat besar (35) sebagai peringatan bagi manusia (36) (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju atau mundur.” (37)

 

Jumlah Penjaga Neraka Jahannam Dan Apa Yang Dikatakan Oleh Orang-Orang Kafir Seputar Itu

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {وَمَا جَعَلْنَآ اَصْحٰبَ النَّارِ اِلَّا مَلٰۤىِٕكَةً} “Dan tidak- lah Kami jadikan penjaga Neraka itu melainkan dari Malaikat,” yakni Zabaniyah yang keras lagi kasar. Ini adalah jawaban terhadap orang- orang musyrik. Ketika jumlah penjaga Neraka disebutkan, maka Abu Jahal berkata, “Wahai kaum Quraisy, tidakkah sepuluh orang dari kalian mampu mengalahkan seorang dari mereka.” Maka Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, “Dan tidak Kami jadikan penjaga Neraka itu melainkan dari Malaikat,”yakni yang bertubuh kekar, tidak dapat dilawan dan tidak terkalahkan.

Dikatakan bahwa Abul Asyaddain, yang bernama Kaldah bin Usaid bin Khalaf dengan sombong berkata, “Wahai kaum Quraisy, kalian mengurusi dua orang dari mereka sementara aku mengurusi tujuh belas dari mereka.” Dia berkata demikian karena dia menga- gumi kekuatannya sendiri. Dikatakan bahwa karena begitu kuatnya, dia pernah berdiri di atas kulit sapi lalu kulit itu ditarik oleh sepuluh orang untuk mengambilnya dari kedua telapak kakinya, kulitnya robek sementara dia tetap bergeming di tempatnya.

Firman-Nya, {وَّمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ اِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْاۙ} “Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir,” yakni Kami menyebutkan bilangan mereka yang berjumlah 19, hanya untuk menguji manusia. {لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ} “Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin, “yakni mengetahui bahwa Rasul yang bersama mereka ini adalah benar, dia berbicara sesuai dengan kitab samawi yang ada di tangan mereka dan diturunkan kepada para Nabi sebelumnya.

Firman-Nya, {وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا} “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya,” yakni di atas iman mereka yang telah ada. Ini dikarenakan kebenaran yang telah mereka saksikan pada setiap berita yang disampaikan oleh Naþi mereka Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. {وَّلَا يَرْتَابَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْمُؤْمِنُوْنَۙ وَلِيَقُوْلَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ} “Dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit,” yakni orang-orang munafik, {وَّالْكٰفِرُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۗ} “Dan orang- orang kafir (mengatakan): Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Yakni mereka berkata, “Hikmah apakah yang ada di balik apa yang disampaikan ini?”

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ} “Demi- kianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Yakni dengan perumpamaan seperti ini atau yang sejenisnya, maka keimanan sebagian orang akan menjadi kuat, sedangkan keimanan sebagian yang lainnya akan menjadi goyah. Hanya Allah-lah Pemilik hikmah yang tinggi dan hujjah yang sangat kokoh.

Hanya Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Yang Mengetahui Bala Tentara-Nya

Firman-Nya, {وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَۗ} “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu melainkan Dia sendiri.” Yakni tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah Subhanallahu wa ta’ala sendiri. Hal ini agar tidak ada yang mengira bahwa jumlah mereka hanyalah 19 Malaikat saja.

Dalam hadits Israa’ yang diriwayatkan secara shahih dalam ash- Shabiihain dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyifati Baitul Ma’mur yang berada di langit ketujuh. Beliau bersabda:

فَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ، لَا يَعُوْدُوْنَ إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

“Ternyata ia (Baitul Ma’mur) dimasuki oleh 70.000 Malaikat setiap harinya, yang sudah keluar darinya tidak akan pernah masuk lagi kepadanya.”

Firman-Nya, {وَمَا هِيَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ} “Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia. “Mujahid dan yang lainnya berkata, “Kata ganti هِيَ merujuk kepada Neraka Saqar.” { اِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ} “Hanyalah peringatan bagi manusia.”

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { كَلَّا وَالْقَمَرِ وَالَّيْلِ اِذْ اَدْبَرَ } “Sekali-kali tidak, demi bulan dan malam ketika telah berlalu,” yakni yang telah lewat, { وَالصُّبْحِ اِذَآ اَسْفَرَ } “Dan shubuh apabila mulai terang,” yakni mulai terbit. { اِنَّهَا لَاِحْدَى الْكُبَرِ} “Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar. “Dhamir (kata ganti) pada اِنَّهَا merujuk kepada Neraka Saqar, demikianlah pendapat Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Qatadah, ad-Dhahhak dan beberapa ulama salaf lainnya.”

Neraka Saqar itu, { نَذِيْرًا لِّلْبَشَرِ لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّتَقَدَّمَ اَوْ يَتَاَخَّرَ } “Sebagai ancaman bagi manusia. (yaitu) bagi siapa di antarámu yang berkehendak akan maju atau mundur,”yakni bagi siapa saja yang berkenan menerima peringatan itu dan kembali kepada kebenaran, atau mundur dari peringatan dan ancaman itu, lalu berpaling dan menolaknya.

Al-Muddatstsir, Ayat 38-56

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌ، اِلَّآ اَصْحٰبَ الْيَمِيْنِ، فِيْ جَنّٰتٍ ۛ يَتَسَاۤءَلُوْنَ، عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ، مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ، قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ، وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَ، وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَاۤىِٕضِيْنَ، وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِ، حَتّٰىٓ اَتٰىنَا الْيَقِيْنُ، فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِيْنَ، فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَ، كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌۙ، فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ، بَلْ يُرِيْدُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّؤْتٰى صُحُفًا مُّنَشَّرَةً، كَلَّاۗ بَلْ لَّا يَخَافُوْنَ الْاٰخِرَةَ، كَلَّآ اِنَّهٗ تَذْكِرَةٌ، فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ، وَمَا يَذْكُرُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗهُوَ اَهْلُ التَّقْوٰى وَاَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya (38) kecuali golongan kanan (39) berada di dalam surga, mereka saling menanyakan (40) tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa (41) ”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” (42) Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang me-laksanakan salat (43) dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin (44) bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannya (45) dan kami mendustakan hari pembalasan (46) sampai datang kepada kami kematian.” (47) Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat (48) Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? (49) seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut (50) lari dari singa (51) Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran (kitab) yang terbuka (52) Tidak! Sebenarnya mereka tidak takut kepada akhirat (53) Tidak! Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar suatu peringatan (54) Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya (55) Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya (Al-Qur’an) kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan.” (56)

 

Dialog Antara Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman mengabarkan bahwa, { كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌ} “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,” yakni tergantung dengan perbuatannya pada hari Kiamat, demikianlah pendapat Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma dan yang lainnya.” { اِلَّآ اَصْحٰبَ الْيَمِيْنِ} “Kecuali golongan kanan,” karena sesungguhnya mereka, { فِيْ جَنّٰتٍ ۛ يَتَسَاۤءَلُوْنَ} “Berada di dalam Surga, mereka tanya-menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa.”

Penduduk Surga yang berada di kamar-kamar yang tinggi bertanya kepada para penghuni Neraka yang berada di tempat yang paling rendah, { مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَ } “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Sagar (Neraka) Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,” Kami tidak menyembah Allah dan tidak berbuat baik kepada sesama manusia. { وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَاۤىِٕضِيْنَ} “Dan adalah kami membicarakan bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,” yakni kami membicarakan sesuatu yang tidak kami ketahui.

Qatadah berkata, “Yakni, setiap ada orang yang menyimpang maka kami mengikutinya.” { وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِ حَتّٰىٓ اَتٰىنَا الْيَقِيْنُ} “Dan adalah kami mendustakan hari Pembalasan, hingga datang kepada kami yang diyakini (kedatangannya),”yakni ajal (kematian). Lafazh al-Yaqiin yang bermakna kematian, sebagaimana dalam firman-Nya, { وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ } “Dan sembablah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99) Dan seperti dalam sabda Rasulullah :

أَمَّا هُوَ –يَعْنِي عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ- فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ مِنْ رَبِّهِ

“Adapun dia (yakni ‘Utsman bin Mazh’un) telah didatangi oleh al-yaqin (ajal) dari Rabbnya.”

Allah berfirman, { فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِيْنَ } “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” Yakni, siapa pun yang memiliki sifat-sifat seperti ini, maka syafa’at dari para pemberi syafa’at tidak akan berguna lagi baginya. Ini karena syafa’at itu hanya bermanfaat jika diberikan kepada yang berhak me- nerimanya, sedangkan orang yang mati dalam keadaan kafir kepada Allah , maka dia pasti kekal di dalam Neraka, tidak bisa tidak.

Pengingkaran Terhadap Berpalingnya Orang-Orang Kafir Dan Sikap Mereka

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَ } “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?” Yakni: Mengapa orang-orang kafir yang ada di hadapanmu itu berpaling dari ajakan dan peringatanmu kepada mereka? { كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ } “Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.” Mereka berpaling dan menjauh dari kebenaran, bagaikan keledai liar yang lari dari kejaran singa yang hendak memangsanya. Demikianlah pendapat Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhuma.

Hammad bin Salamah berkata dari ‘Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, “Al-Asad (Singa, dalam bahasa Arab), disebut juga Qaswarah (diambil dari bahasa Habasyah), sedangkan dalam bahasa Persia adalah Syir, dan dalam bahasa Nabath adalah Oba.”

Firman-Nya Subhanallahu wa ta’ala, { بَلْ يُرِيْدُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّؤْتٰى صُحُفًا مُّنَشَّرَةً } “Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepada- nya lembaran-lembaran yang terbuka. “Maksudnya, masing-masing orang dari orang-orang kafir itu menghendaki diturunkan kitab kepadanya, sebagaimana yang Allah turunkan kepada Nabi . Demikianlah pendapat Mujahid dan yang lainnya.” Ini sebagaimana firman-Nya, { وَاِذَا جَاۤءَتْهُمْ اٰيَةٌ قَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ حَتّٰى نُؤْتٰى مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ رُسُلُ اللّٰهِ ۘ اَللّٰهُ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسٰلَتَهٗ }”Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah,’ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.”(QS. Al-An’aam: 124)

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah, mereka ingin dibebaskan tanpa berbuat apa-apa. Firman-Nya, { كَلَّاۗ بَلْ لَّا يَخَافُوْنَ الْاٰخِرَةَ } “Sekali- kali tidak, Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.” Artinya: Hanya saja, kebinasaan dan kerusakan mereka itu disebabkan karena mereka mengingkari dan mendustakan hari akhirat.

Al-Qur-An Adalah Peringatan

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {كَلَّآ اِنَّهٗ تَذْكِرَةٌ} “Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Quran itu adalah peringatan,” yakni benar, sesungguhnya al-Qur-an itu adalah peringatan.

Firman-Nya, { فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ وَمَا يَذْكُرُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ} “Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (al-Qur-an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadarya kecuali (jika) Allah menghendakinya.” Ini seperti firman-Nya, { وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ} “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.” (QS. Al-Insaan: 30)

Firman-Nya, {هُوَ اَهْلُ التَّقْوٰى وَاَهْلُ الْمَغْفِرَةِ} “Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.” Yakni: Dia-lah Yang patut ditakuti dan berhak memberi pengampunan dosa bagi siapa yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Demikianlah pendapat Qatadah.”

Inilah akhir tafsir surat al-Muddatstsir, walhamdu lillaah.

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: