Tafsir Surat At-Takwiir {Bagian 1}

Tafsir Surat At-Takwiir

( Menggulung )

Surat Makkiyyah

Surat Ke-81 : 29 Ayat

 

Hadits Tentang Surat Ini

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَىٰ يَوْمِ القِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيُ عَيْنٍ فَلْيَقْرَأْ: إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ، وَإِذَا السَّمَاءُ النْفَطَرَتْ، إِذَا السَّمَاءُ النْشَقَّتْ

“Barang siapa ingin melihat hari kiamat seolah-olah terpampang di depan matanya, maka hendaklah dia membaca surat at-Takwir, Al Infithaar dan Al Insyiqaaq.”
Hadis ini juga diriwayatkan oleh at-tirmidzi

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

AT-TAKWIIR, AYAT 1-14

اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ، اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ، وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ، وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ، وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ، وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ، وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ، وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْ، بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ، وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ، وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْ، وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ، وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْ، عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْ

“Apabila matahari digulung (1) dan apabila bintang-bintang berjatuhan (2) dan apabila gunung-gunung dihancurkan (3) dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus) (4) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan (5) dan apabila lautan dipanaskan (6) dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh) (7) dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya (8) karena dosa apa dia dibunuh? (9) Dan apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar (10) dan apabila langit dilenyapkan (11) dan apabila neraka Jahim dinyalakan (12) dan apabila surga didekatkan (13) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (14)

 

Penggulungan Matahari Pada Hari Kiamat

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma, “Firman-Nya {اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ} ‘Apabila matahari digulung yakni digelapkan.”

Al-Aufi berkata darinya, “Yakni hilang.” Qatadah berkata, “Yakni cahayanya lenyap.” Sa’id bin Jubair berkata, “‘Digulung’ yakni dibenamkan.” Abu Shalih berkata, “Yakni dilemparkan.”

Lafazh takwiir (menggulung) yakni mengumpulkan sesuatu, sehingga sebagian darinya di atas bagian yang lain. Termasuk dalam hal ini adalah takwiiru ‘imaamah ( menggulung, membelikan sorban di kepala) dan mengumpulkan (menumpuk) pakaian sebagian di atas sebagian yang lain.

Makna Firman-Nya, {كُوِّرَتْ} “Di gunung,” yakni sebagian darinya dikumpulkan dengan yang lain kemudian dilipat lalu dilemparkan. Dan apabila hal itu dilakukan maka cahayanya akan hilang.

Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ يُكَوَّرَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Matahari dan bulan akan digulung pada hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari sendiri dan ini adalah lafazhnya.

Bintang Yang Berjatuhan

Firman-Nya, {وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ} “Dan apabila bintang-bintang berjatuhan,” yakni berserakan sebagaimana firman-Nya, { وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ} “Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infithaar: 2)  Asal makna inkidaar adalah inshibaab (Tercurah).

Ar-Rabi’ bin Anas berkata dari Abul ‘Aliyah dari Ubay Bin ka’ab, “Ada enam tanda sebelum hari kiamat. Ketika orang-orang sedang di pasar tiba-tiba cahaya matahari hilang. Ketika mereka dalam keadaan demikian tiba-tiba bintang-bintang berjatuhan. Ketika mereka dalam keadaan demikian tiba-tiba gunung-gunung jatuh ke permukaan bumi maka bumi pun bergoncang, bergetar dan kacau balau. Jin meminta tolong kepada manusia. Manusia meminta tolong kepada Jin. Binatang ternak, burung dan binatang buas saling berhamburan sebagian bercampur dengan yang lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, { وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ} ‘Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,’ yakni dicampur kan. { وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ} ‘Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan),’ yakni diacuhkan oleh pemiliknya.

Mengenai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, { وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ} “Dan apabila lautan dipanaskan.” Ubay bin Ka’ab berkata, “Jin berkata, kami akan mencari kabar untuk kalian.” Mereka pun pergi ke laut dan ternyata laut itu telah berubah menjadi api yang bergejolak.” Dia berkata, “Ketika mereka dalam keadaan demikian tiba-tiba bumi retak satu kali hingga mencapai lapisan ke tujuh yang paling bawah. Demikian pula langit retak hingga langit ketujuh yang tertinggi. Ketika mereka demikian tiba-tiba datang angin yang membunuh mereka semua. ” HR. Ibnu Jarir, dan ini adalah lafazhnya.

Dianjurkannya Gunung Ditelantarkannya Unta-Unta Bunting Dan Dikumpulkannya Binatang Buas Pada Hari Kiamat

Firman-Nya, { وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ} “Dan apabila gunung-gunung di hancurkan,” yakni lepas dari tempatnya dan dihancurkan sehingga menjadikan bumi dalam keadaan rata.

Firman-Nya, { وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ} “Dan apabila unta unta yang bunting ditinggalkan tidak dipedulikan,” ‘Ikrimah dan Mujahid berkata, “Lafaz  الْعِشَارُ yakni unta yang bunting. “Mujahid berkata, {عُطِّلَتْ} ‘Ditinggalkan,’ yakni diacuhkan dan dilepaskan.” Ubay bin Ka’ab dan adh-Dhahhak berkata, ” Yakni diacuhkan oleh pemiliknya.” Ar-Rabi’ bin Khustaim berkata, “Yakni tidak diperah dan tidak diikat kambingnya. Pemiliknya membiarkannya, tidak mempedulikannya lagi.” Adh-Dhahhak berkata, “Yakni ditinggalkan tanpa penggembala.”

Semua itu maknanya berdekatan.  Adapun makna  al-‘isyaar (unta yang bunting) yaitu unta terpilih yang telah hamil hingga bulan ke sepuluh. Kata tunggalnya usyaraa’ (dari kata ‘asyarah=sepuluh), dan namanya tetap demikian sampai ia melahirkan.

Orang-orang tidak lagi memperhatikannya, tidak berkenan merawatnya nya atau mengambil manfaat darinya. Padahal sebelumnya mereka sangat berminat kepadanya. Hal ini dikarenakan perkara besar lagi dahsyat serta menakutkan yang mereka alami yaitu perkara kiamat. Saat itu terwujudlah tanda-tandanya dan terjadilah awal mula hari kiamat.

Firman-Nya, { وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ} “Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,” yakni disatukan sebagaimana firman-Nya, { وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ } “Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat juga seperti kamu. Tidaklah kami alfa kan sesuatupun di dalam al-Kitab, kemudian kepada Rabb merekalah, mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’aam: 38) Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma berkata, “Segala sesuatu akan dikumpulkan, bahkan lalat.” HR Ibnu Abu Hatim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {وَالطَّيْرَمَحْشُوْرَةً} “Dan kami tundukkan pula burung-burung dalam keadaan terkumpul,” (QS. Shaad: 19) yakni tersatukan.

Dipanaskan Nya Lautan

Firman-Nya, {وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ} “Dan apabila lautan dipanaskan.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyib berkata, “Ali radliyallaahu Anhu berkata kepada seorang lelaki Yahudi, ‘Di manakah jahanam itu?’ Dia menjawab, ‘Di laut.’ ‘Ali berkata, ‘Aku tidak menduganya kecuali dia benar. Dan laut itulah ah yang dipanaskan, “Dan apabila lautan dipanaskan,.'” Penjelasan hal itu telah disebutkan dalam tafsir firman-Nya, { وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِ } “Dan laut yang di dalam tanahnya ada api. ” (QS. Ath-Thuur: 36)

Pertemuan Ruh Dengan Tubuh

Firman-Nya, { وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ} “Dan apabila ruh-ruh di pertemukan (dengan tubuh),” yakni setiap ruh dikumpulkan dengan pasangannya sebagaimana firman-Nya, { اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَزْوَاجَهُمْ } “Kepada malaikat diperintahkan: ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka.” (QS. Ash-Shaaffaat: 22)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari an Nu’man bin Basyir, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda:

} وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ { قَالَ: اَلضُّرَبَاءُ، كُلُّ رَجُلٍ مِنْ قَوْمٍ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ عَمَلَهُ، وَذلِكَ بِأَنَّ اللهَ يَقُوْلُ: }وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةً فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ مَآ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ وَاَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَ{ قَالَ: هُمُ الضُّرَبَاءُ

“Firman-Nya ‘dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh),’ (QS. At-Takwiir: 7) yakni orang-orang yang sepadan, setiap orang dipasangkan dengan setiap kaum yang berbuat sama dengan perbuatannya. Hal itu karena Allah telah berfirman, ‘dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri alangkah sengsara nya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu masuk Surga. ” (QS. Al-Waqiah: 7-10) Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang sepadan.”

Pertanyaan Yang Diajukan Kepada Bayi Bayi Perempuan Yang Dikubur Hidup-Hidup

Firman-Nya, {وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْ بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ} “Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” Mayoritas ulama membaca su-ilat. Dan al-mau-uudah adalah bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Mereka adalah korban orang-orang jahiliyah yang tidak menyukai anak perempuan. Pada hari kiamat bayi-bayi itu ditanya, dosa apakah yang telah mereka perbuat sehingga mereka dikubur hidup-hidup. Hal ini merupakan ancaman bagi pembunuhnya. Apabila orang yang dizhalimi saja ditanya, maka apalagi orang yang mendzhalimi mereka akan ditanya. Apakah orang yang berbuat zhalim itu mengira bahwa mereka tidak akan ditanya?

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma, “Firman-Nya ini dibaca sa-alat yakni meminta.” Demikian pula pendapat Abu Dhuha bahwa maksudnya, anak-anak perempuan itu meminta pertanggungjawaban yang mengubur mereka, yakni menuntut darahnya. Demikian pula yang diriwayatkan dari as-Suddi dan Qatadah.

Terdapat beberapa hadis yang menyinggung bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah dari Judamah binti Wahb, saudara perempuan ‘Ukkasyah, ia berkata, “Saya hadir bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di sekumpulan orang dan beliau bersabda:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الغِيلَةِ، فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ، فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ، فلا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذلكَ شيئًا

“Sungguh saya ingin melarang ghilah, [Menggauli isteri yang sedang menyusui] Tetapi saya melihat orang Romawi dan Persia melakukan hal itu dan ternyata hal itu tidak berpengaruh buruk kepada anak-anak mereka.”

Kemudian mereka bertanya tentang ‘azl [Coitus intereptus, yakni senggama yang terputus, karena sperma dikeluarkan di luar kemaluan wanita] maka beliau bersabda:

ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ، وَهُوَ الْمَوْءُوْدَةُ سُئِلَتْ

“Itu adalah penguburan anak perempuan yang tersembunyi, yaitu berkaitan dengan firman-Nya, ‘Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup di tanya.”
HR. Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i.

Kafarat Mengubur Bayi Perempuan

‘Abdurrazzak berkata, “Isra-il mengabarkan kepada kami dari Simak bin Harb bin an-Nu’man bin Basyir dari ‘Umar bin Al Khattab ia berkata tentang Firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala, {وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْ} “Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” Dia berkata, ‘Qais bin ‘Ashim menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah dahulu saya menguburkan bayi-bayi perempuanku hidup hidup di zaman Jahiliyah.’ Beliau bersabda:

أَعْتِقْ عَنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ رَقَبَةً

“Bebaskanlah seorang budak untuk seorang bayi dari mereka.”

Dia berkata, Wahai Rasulullah saya ini pemilik unta. Beliau bersabda:

فَانْحَرْ عَنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ رَقَبَةً

“Kalau begitu sembelihlah seekor unta untuk seorang bayi perempuan dari mereka.”

Pemaparan Buku Buku Catatan

Mengenai Firman-Nya, { وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ} “Dan apabila catatan catatan amal perbuatan manusia di buka,” adh-Dhahhak berkata, “Setiap manusia diberi buku catatannya dengan tangan kanan atau tangan kiri.” Qatadah berkata, “Wahai manusia, kamu telah menorehkan catatan di atasnya lalu buku itu ditutup dan dipaparkan kepadamu pada hari kiamat, maka hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang akan diperoleh kan di buku catatannya.”

Langit Dilenyapkan, Neraka Dinyalakan Dan Surga Didekatkan

Firman-Nya, { وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْ} “Dan apabila langit dilenyapkan.” Mujahid berkata, “Yakni ditarik.” As-Suddi berkata, “Yakni dibukakan.” Firman-Nya, {وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ} “Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan,” as-Suddi berkata, “Yakni dipanaskan.”

Firman-Nya, { وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْ} “Dan apabila Surga didekatkan,” Abu Malik berkata, “Yakni didekatkan kepada penghuninya.”

Pada Hari Kiamat Setiap Orang Mengetahui Apa Yang Telah Dikerjakannya

Firman-Nya, { عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْ} “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” Inilah jawabannya. Artinya, ketika semua hal itu terjadi yang berlangsung menjelang dan ketika hari kiamat terjadi, maka pada saat itulah setiap jiwa mengetahui apa yang telah Ia perbuat. Lalu hasil perbuatannya itu diberikan kepadanya sebagaimana firman-Nya, { يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا} “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan di mukanya, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya Ia ingin kalau dikiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh. ” (QS. Ali-‘Imran: 30) Dan seperti firman-Nya, { يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَ} “Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilakukannya.” (QS. Al-Qiyamah: 13)

 

 

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: