Tafsir Surat Al-Ghaasyiyah

Tafsir Surat Al-Ghaasyiyah

( Hari Pembalasan )

Surat Makkiyyah

Surat Ke-88 : 26 Ayat

 

Membaca Surat Al-A’laa Dan Surat Al-Ghaasyiyah Di Dalam Shalat Jum’at

Telah disebutkan hadits dari an-Nu’man bin Basyir, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membaca surat al-A’laa dan surat al-Ghaasyiyah dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Imam Malik meriwayatkan bahwa adh-Dhahhak bin Qais bertanya kepada an-Nu’man bin Basyir, “Surat apa yang dibaca Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam shalat Jum’at disamping surat al-Jumu’ah?” An-Nu’man menjawab, “Beliau membaca surat al-Ghaasyiyah.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i. Dan diriwayatkan juga oleh Muslim dan Ibnu Majah.

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

AL-GHAASYIYAH, AYAT 1-7

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ، وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ، عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ، تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً، تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ، لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍ،لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍ

“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)? (1) Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina (2) (karena) bekerja keras lagi kepayahan (3) mereka memasuki api yang sangat panas (neraka) (4) diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas (5) Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri (6) yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.” (7)

Hari Kiamat Dan Keadaan Penghuni Neraka Padanya

Al-Ghaasyiyah merupakan salah satu nama dari nama-nama hari Kiamat, demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Qatadah, dan Ibnu Zaid. [Hari Kiamat disebut dengan al-Ghaasyiyah] karena ia taghsya (meliputi) dan mencakup seluruh manusia.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala {وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ} “Pada hari itu banyak wajah yang tunduk terhinda.” Yakni, tunduk merendahkan diri. Ini dikatakan oleh Qatadah. Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, “Banyak wajah-wajah yang tertunduk hina dana mal perbuatannya tidak berguna.”

Dan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ} “Karena bekerja keras lagi kepayahan,” yakni sudah banyak beramal dan menjadi lelah karenanya. Namun demikian, di hari Kiamat masuk ke dalam api yang sangat panas.

Al-Hafizh Abu Bakar al-Barqani meriwayatkan dari Abu ‘Imran al-Jauni, ia berkata, “‘Umar bin al-Khaththab Radiyallahu ‘anhu melewati biara seorang rahib (pendeta). ‘Umar memanggilnya, “Hai rahib!” Makar ahi tersebut menengok kepadanya. Lalu ‘Umar memperhatikannya, dan ia menangis. Maka ‘Umar ditanya, ‘Wahai amirul mukminin! Apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis? ‘Umar menjawab, ‘Aku teringat firman Allah Subhanallahu wa ta’ala di dalam kitab-Nya, {عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً} “Karena bekerja keras lagi kepayahan. Mereka memasuki api yang sangat panas (Neraka).” Itulah yang menyebabkan aku menangis.'”

Al-Bukhari berkata, Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah Subhanallahu wa ta’ala “Karena bekerja keras lagi kepayahan,” yakni kaum Nasrani.”

Diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan as-Suddi, “Maksudnya yakni bekerja keras di dunia dengan melakukan kemaksiatan dan menderita kepayahan di dalam api Neraka karena disiksa dan diadzab.”

Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, al-Hasan, dan Qatadah menafsirkan ayat, {تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً } “Mereka memasuki api yang sangat panas (Neraka),” yakni api yang benar-benar panas membakar. {تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ} “Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas,” yakni mata air yang memuncak panasnya lagi mendidih. Ini adalah tafsir Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid, al-Hasan, dan as-Suddi.

Dan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍ} “Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri.” ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, “Yakni pohon dari api Neraka.” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid, ‘Ikrimah, Abul Jauza’ dan Qatadah berkata, “Yakni pohon syibriq, dan di musim panas dengan adh-dhari’ (pohon yang berduri).” ‘Ikrimah berkata, “Yaitu pohon yang berduri merambat di tanah.”

Al-Bukhari berkata, Mujahid berkata, اَلضَّرِيعُ” adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang memiliki nama lain syibriq. Penduduk Hijaz menamakannya adh-dharii’ (pohon berduri) apabila ia kering, dan pohon ini beracun.”

Ma’mar berkata dari Qatadah tentang, “Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri.” Yakni pohon syibriq, yang apabila kering maka ia disebut adh-dharii’ (pohon yang berduri).

Sa’id berkata dari Qatadah tentang, “Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri.” Yakni makanan paling buruk, paling menjijikan dan paling memuakkan.

Dan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍ} “Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.” Yakni tidak mewujudkan apa yang diinginkan (kenyang),  dan tidak menolak apa yang tidak diinginkan (lapar)

AL-GHAASYIYAH, AYAT 8-16

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌ، لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ، فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ، لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً، فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ، فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ، وَّاَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ، وَّنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ، وَّزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ

“Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri (8) merasa senang karena usahanya (sendiri) (9) (mereka) dalam surga yang tinggi (10) di sana (kamu) tidak mendengar perkataan yang tidak berguna (11) Di sana ada mata air yang mengalir (12) Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan (13) dan gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya) (14) dan bantal-bantal sandaran yang tersusun (15) dan permadani-permadani yang terhampar.” (16)

 

Keadaan Penghuni Surga Di Hari Kiamat

Setelah Allah menyebutkan perihal orang-orang yang sengsara, Dia menyebutkan perihal orang-orang yang berbahagia. Dia berfirman, {وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ } “Pada hari itu banyak (pula) wajah,” yakni pada hari Kiamat, {نَّاعِمَةٌ} “Yang berseri-seri.” Yakni kenikmatan terlihat pada wajah-wajah mereka. Dan kenikmatan itu hanya diperoleh dengan amal usahanya sendiri.

Sufyan berkata, {لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ} “Merasa senang karena usahanya (sendiri),” yakni ia rela dengan amal perbuatannya sendiri.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ} “Mereka dalam Surga yang tinggi,” yakni tinggi, di dalam kamar-kamar yang megah dan mewah dalam keadaan aman           {لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً} “Di sana (kamu) tidak mendengar perkataan yang tidak berguna,” yakni mereka tidak mendengar kata-kata yang tidak berguna di dalam Surga, di mana mereka berada di dalamnya.

Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا اِلَّا سَلٰمًا} “Mereka tidak mendengar perkataan yang tidak berguna di dalam Surga, kecuali ucapan salam.” (QS. Maryam: 62) Juga firman Allah Ta’ala, {لَّا لَغْوٌ فِيْهَا وَلَا تَأْثِيْمٌ} “Yang isinya tidak (menimbulkan) ucapan yang tidak berfaedah ataupun perbuatan dosa.” (QS. Ath-Thuur: 23) Dan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا تَأْثِيْمًا اِلَّا قِيْلًا سَلٰمًا سَلٰمًا} “Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa. Tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS. Al-Waaqi’ah: 25-26)

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ} “Di sana ada mata air yang mengalir,” yakni mengalir lepas. Dan kalimat ini adalah makirah (indefinite) dalam konteks kalimat positif (itsbat). Jadi yang dimaksud dengan mata air di sini bukan satu mata air saja, akan tetapi maksudnya adalah jenis mata air, karena di dalam Surga terdapat banyak mata air yang mengalir.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَنْهَارُ الْجَنَّةِ تَفَجَّرُ مِنْ تَحْتِ تِلَالِ – أَوْ مِنْ تَحْتِ جِبَالِ الْمِسْكِ

“Sungai-sungai di Surga memancar dari bawah anak gunung -atau dari gunung-gunung- kesturi.”

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ} “Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan,” yakni tinggi dan empuk, mempunyai banyak Kasur yang tebal, dan di atasnya terdapat bidadari-bidadari. Apabila kekasih-kekasih Allah hendak duduk di atas dipan-dipan tersebut, maka dipan-dipan tersebut merendah, agar mereka bisa duduk.”

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَّاَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ} “Dan gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya),” yakni cangkir-cangkir minuman, yang disediakan dan diperuntukkan bagi siapa yang berhak menemuinya. {وَّنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ} “Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun.” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, النَّمَارِقُ ialah bantal-bantal.” ‘Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahhak, as-Suddi, ats-Tsauri, dan yang lainnya juga mengatakan demikian.

Mengenai firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَّزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ} “Dan permadani-permadani yang terhampar,” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, “Lafazh الزَّرَابِيُّ ialah permadani-permadani.” Adh-Dhahhak dan yang lainnya juga mengatakan demikian. Sedangkan makna مَبْثُوثَةٌ ialah terbentang di sana sini bagi orang yang ingin duduk di atasnya.

AL-GHAASYIYAH, AYAT 17-26

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ، وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْ، وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ، وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ، فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌ، لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ، اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَ، فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَ، اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ، ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? (17) dan langit, bagaimana ditinggikan? (18) Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan? (19) Dan bumi bagaimana dihamparkan? (20) Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan (21) Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (22) kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir (23) maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar (24) Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali (25) kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (26)

 

Anjuran Untuk Merenungkan Penciptaan Unta, Langit, Gunung Dan Bumi

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya agar merenungkan makhluk ciptaan-Nya yang menunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya, {اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ} “Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?”

Unta merupakan hewan yang mengagumkan dan struktur tubuhnya yang unik. Unta merupakan hewan yang sangat kuat. Walaupun begitu ia tunduk untuk membawa beban yang berat dan menuruti penuntunnya yang lemah. Dagingnya bisa dimakan, bulunya bisa dimanfaatkan, dan susunya bisa di minum. Penyebutan unta di sini karena mayoritas hewan tunggangan bangsa Arab waktu itu adalah unta.

Syuraih berkata, “Mari kita keluar memperhatikan bagaimana unta diciptakan, dan bagaimana langit ditinggikan! Yakni, bagaimana Allah Subhanallahu wa ta’ala. Meninggikannya dari muka bumi dengan cara yang menakjubkan. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa ta’ala {اَفَلَمْ يَنْظُرُوْٓا اِلَى السَّمَاۤءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنٰهَا وَزَيَّنّٰهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوْجٍ} “Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikit pun?” (QS. Qaaf: 6)

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ} “Dan gunug-gunung bagaimana ia ditegakkan?” Yakni, dijadikan tegak, kokoh lagi kuat, sehingga bumi tidak goncang bersama penghuninya. Di dalamnya benyak terdapat manfaat-manfaat dan barang-barang tambang.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ} “Dan bumi bagaimana dihamparkan?” Yakni, bagaimana bumi dibentangkan, dilapangkan dan dihamparkan.

Di sini orang Badui (pedalaman) diarahkan untuk memperhatikan apa yang dia saksikan, dan menjadikannya sebagai dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah Subhanallahu wa ta’ala, yakni unta yang menjadi tunggangannya, langit yang berada di atas kepalanya, dan gunung-gunung yang terdapat di sekelilingnya, serta bumi yang berada di bawahnya. Semua itu terjadi atas kekuasaan Allah Subhanallahu wa ta’ala. Dia-lah Rabb Yang Maha Agung, Maha Pencipta, Maha Berkuasa dan Maha Mengatur. Dia-lah Rabb yang berhak diibadahi dengan benar, dan selain-Nya tidak berhak untuk diibadahi.

 

Kisah Dhimam Bin Tsa’labah

Dikisahkan bahwa Dhimam bersumpah [dengan menyebutkan beberapa ciptaan Allah Subhanallahu wa ta’ala seperti dalam surat ini]. Ia datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Tsabit dari Anas. Anas berkata, “Kami merasa segan untuk menanyakan sesuatu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka kami sangat berbahagia ketika datang seorang laki-laki yang cerdas dari pedalaman. Ia bertanya kepada beliau sedangkan kami mendengarkannya.

Laki-laki itu berkata, “Hai Muhammad! Kami didatangi oleh utusanmu, dia mengatakan kepada kami bahwa engkau mengatakan bahwa Allah mengutusmu.” Beliau menjaab, “Ia (utusanku) benar.”

Ia bertanya, “Siapa yang menciptakan langit?” Beliau menjawab, “Allah.”

Ia bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi?” Beliau menjawab, “Allah.”

Ia bertanya, Siapa yang menegakkan gunung-gunung ini dan menjadikan padanya apa yang Dia jadikan?” Beliau menjawab, “Allah.”

Ia bertanya, “Demi Dzat yang menciptakan langit dan bumi, serta menegakkan gunung-gunung ini, apakah benar Allah yang mengutusmu?” Beliau menjawab, “Benar.”

Ia berkata, “Dan utusanmu mengatakan kepada kami bahwa kami harus menegakkan shalat lima waktu dalam sehari semalam?” Beliau menjawab, “Ia (utusanku) benar.”

Ia bertanya, “Demi Dzat yang mengutusmu, apakah benar Allah memerintahkan kepadamu demikian?” Beliau menjawab, “Benar.”

Ia berkata, “Dan utusanmu mengatakan bahwa kami wajib mengeluarkan zakat dari harta-harta kami?” Beliau menjawab, “Ia (utusanku) benar.”

Ia bertanya, “Demi Dzat yang mengutusmu, apakah benar Allah memerintahkan kepadamu demikian?” Beliau menjawab, “Benar.”

Ia berkata, “Dan utusanmu mengatakan kepada kami [bahwa kami wajib berpuasa di bulan Ramadhan dalam setahun.” Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ia (utusanku) benar.”

Dia bertanya, “Demi Dzat yang mengutusmu, apakah benar Allah memerintahkan kepadamu demikian?” Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Benar.”

Dia berkata, “Dan utusanmu mengatakan kepada kami bahwa kami wajib menunaikan ibadah haji atas orang yang mampu menunaikannya dari kami.” Beliau menjawab, “Ia (utusanku) benar.”

Kemudian ia beranjak seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menambah sedikit pun atasnya, dan juga tidak akan menguranginya sedikit pun.”

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Jika ia benar, niscaya ia akan masuk Surga.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I, dan Ibnu Majah.

Kewajiban Rasul Hanyalah Menyampaikan

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌ لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ} “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” Yakni, berilah peringatan wahai Muhammad, dengan kebenaran yang engkau bawa kepada mereka,   {فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ} “Maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, dan Kami-lah yang memeperhitungkan (amal mereka).” (QS. Ar-Ra’d: 40) Karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ} “Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”

Tentang ayat, “Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid, dan yang lainnya berkata, “Yakni, engkau tidak menciptakan iman di hati mereka.” Ibnu Zaid berkata, “Yakni, engkau bukanlah orang yang bisa memaksa mereka untuk beriman.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرتُ أنْ أقاتلَ الناسَ حتَّى يَقولوا : لا إلهَ إلا اللهُ ، فإذا قالُوها عَصمُوا مِنِّي دماءَهُمْ وأموالَهمْ إلا بحقِّها وحسابُهمْ على اللهِ. ثُمَّ قَرَأَ: فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌ لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai merka mengatakan, “Tidak ada ilah yang wajib diibadahi dengan benar selain Allah.” Apabila mereka sudah mengatakannya, maka mereka telah menjaga darah dan harta benda mereka dan harta benda mereka dariku, kecuali dengan haknya. Sedangkan perhitungan amal mereka terserah kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala.” Kemudian beliau membaca ayat, “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah oemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”

Muslim juga meriwayatkannya demikian dalam kitab al-Iimaan, sedangkan at-Tirmidzi dan an-Nasa’I meriwayatkannya dalam kitab at-Tafsiir dari Sunan mereka. Hadits tersebut juga diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim.

Ancaman Bagi Orang Yang Berpaling Dari Kebenaran

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَ} “Kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir.” Yakni, berpaling dari amal shalih dengan anggota tubuhnya, dan kafir terhadap kebenaran dengan hati dan lidahnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰى وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰى} “Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (al-Quran dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan shalat. Tetapi justru dia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran).” (QS. Al-Qiyamah: 31-32)

Karena itu, Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَ} “Maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang besar.” Dan firman-Nya, {اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ} “Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali,” yakni tempat rujuk dan kembali mereka,                     {ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ} “Kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” Yakni, Kami-lah yang akan memperhitungkan amal perbuatan mereka dan membalasnya. Jika amal perbuatannya buruk, maka balasannya juga buruk.

Demikianlah akhir tafsir surat al-Ghaasyiyah. Hanya milik Allah Subhanallahu wa ta’ala lah segala puji dan anugerah.

 

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: