Lemah dan Malas

Lemah dan Malas

 

Seorang Muslim tidak akan pernah lemah maupun malas, bahkan teguh dan rajin bekerja serta sangat giat, karena kelemahan dan kemalasan adalah dua akhlak tercela yang Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kedua akhlak ini, seringkali beliau Shallallahu ‘alahi wasallam berdoa,

 

أَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sikap pengecut dan penyakit tua serta kekikiran.”(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no.2823; dan Muslim, no.2706)

Beliau Shallallahu ‘alahi wasallam juga berwasiat agar beramal dengan giat,

 

إِحْرِصْ عَلیَ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا، وَلٰكِنْ قُلْ : قَدَّرَﷲُ وَمَاشَاءَفَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Bekerja giatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, janganlah melemah, bila sesuatu menimpamu, maka jangan kamu katakan,’Andaikan saya berbuat begini, niscaya akan begini,’akan tetapi katakan,’Allah telah menentukan dan apa yang Dia kehendaki, maka Dia laksanakan.’ Sebab kata ‘andaikan’ akan membuka pekerjaan setan.”(Diriwayatkan oleh Muslim, no.2664)

Karena itu seorang Muslim tidak akan ditemukan sebagai seorang yang lemah maupun malas sebagaimana tidak ditemukan sebagai seorang pengecut, kikir maupun bakhil. Maka mana mungkin dia hanya duduk berpangku tangan tanpa beramal, atau meninggalkan semangatnya bekerja untuk sesuatu yang sangat bermanfaat baginya, padahal dia beriman dengan aturan Allah (sebab akibat), dan aturan-Nya pada sunnatullah di alam raya ini? Seorang Muslim tidak akan bermalas-malasan karena dia beriman pada seruan Allah agar berlomba di dalam Firman-Nya,

 

سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُہَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ

Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”(Al-Hadid:21)

 

وَفِى ذَٲلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَـٰفِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(Al-Muthaffifin:26)

Seorang Muslim bukanlah seorang penakut maupun pengecut, karena ia telah meyakini ketentuan Allah, beriman dengan takdir dan mengetahui, bahwa ada yang mengenainya tidak akan luput darinya, dan apa yang tidak ditentukan untuknya tidak akan mengenainya bagaimana pun keadaannya.

Seorang Muslim juga tidak akan bermalas-malasan untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, karena ia telah mendengarkan bisikan al-Qur`an tentang hal ini :

 

وَمَا يَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٍ۬ فَلَن يُڪۡفَرُوهُ‌ۗ

Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala)nya.”(Ali Imran:115)

 

وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٍ۬ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرً۬ا وَأَعۡظَمَ أَجۡرً۬ا‌ۚ

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.”(Al-Muzzammil:20)

 

Beberapa Gambaran Sifat Malas dan Lemah :

  1. Jika seseorang mendengar seruan Adzan untuk shalat dia tidak menjawab, tidak segera memenuhi, disibukkan oleh tidurnya, obrolan atau pekerjaannya yang tidak penting, sehingga waktu hampir habis baru dia menegakkan shalat sendirian di akhir waktunya.
  2. Seseorang menghabiskan waktu satu jam atau beberapa jam dengan nongkrong di kedai-kedai kopi, atau di kursi-kursi goyang, atau jalan-jalan di pasar atau di jalanan padahal dia memiliki tugas yang harus dikerjakan segera, namun dia menundanya dan tidak dikerjakan dengan segera.
  3. Seseorang meninggalkan pekerjaan yang bermanfaat, seperti belajar ilmu bertani, membangun pemukiman atau pengaturan rumah, dan pekerjaan lainnya yang bermanfaat untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya, namun ditinggalkan dengan alasan usianya yang lanjut, atau dia merasa kurang menguasai bidang itu, atau berasalan bahwa pekerjaan itu itu memerlukan waktu yang lapang dan lama. Dan hari-hari berlalu, tahun demi tahun meninggalkannya, namun tiada satu pun amal yang bermanfaat yang dia hasilkan di dalam urusan dunianya maupun urusan akhiratnya.
  4. Seseorang diberi kesempatan yang baik dan mulia seperti kesempatan menunaikan ibadah haji dan dia mampu melakukannya namun dia tidak mau berhaji, atau di saat ada orang yang tertimpa kesulitan dan dia mampu menolongnya, namun ia tidak mau menolong, atau seperti orang yang mendapat kesempatan memasuki bulan Ramadhan, namun dia tidak menggunakannya malam-malamnya dengan qiyamul lail sebaik-baiknya. Atau masih disertai kedua orang tua yang sudah lemah dan amat tua, atau salah satunya, sedangkan dia mampu untuk berbakti, berbuat baik dan merawat sebaik-baiknya, namun dia tidak berbuat baik maupun berbuat berbakti sebaik-baiknya karena lemah dan malas atau karena kikir dan bakhil atau durhaka, –na’udzu billah– kita memohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan yang demikian.
  5. Seseorang mendiami rumah yang kumuh dan hina, dia tidak mau mencari rumah lain yang lebih layak untuk menjaga agamanya, melindungi kehormatan dan kemuliannya.

 

Ya Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dari sifat penakut dan bakhil dan mohon perlindungan dari setiap akhlak yang tidak diridhai dan dari amal perbuatan yang tidak bermanfaat.

Semoga Allah tetap melimpahkan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat semuanya.

 

Sumber : Kitab Minhajul Muslim Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jajairi Edisi Indonesia, Cetakan XV Jumadil ula 1437H/2016M, Darul Haq Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: