Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni _ Terkenal dengan Kecerdasan dan kejeniusannya

Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni

Terkenal dengan Kecerdasan dan kejeniusannya

     Malam itu, Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz tidak bisa tidur, hilang rasa kantuknya, tidak mampu memejamkan matanya, resah dan gelisah hatinya. Di saat malam yang dingin itu, di Damsyik pikiran beliau sedang sibuk dengan urusan pemilihan hakim Bashrah, harapannya adalah agar bisa menegakkan keadilan di tengah manusia, yang akan menjadi menghukum dengan hokum Allah Subhanahu wa Ta’ala diterapkan tanpa gentar dan gila pujian.

     Pilihannya jatuh pada dua orang yang dipandangnya bak kuda balap kembar dalam ilmu fiqih, tegas dan kukuh dalam kebenaran, cemerlang pemikiran-pemikirannya dan tepat dalam pandangannya. Jika didapatkan satu keunggulan tertentu dari salah satu dari keduanya, ia memiliki keunggulan lain yang mampu mengimbanginya.

   Keesokan harinya beliau mengundang walinya di Irak yang bernama Adi bin Arthah yang ketika itu berada di Damaskus. Beliau berkata, “Wahai Adi, panggillah Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni dan al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi. Ajaklah keduannya membicarakan perihal pengadilan di Bashrah, lalu pilihlah salah satu dari keduanya.” Adi menjawab, “Saya mendengar dan saya taat wahai Amirul Mukminin.”

*****

     Adi bin Arthah mempertemukan antara Iyas dan al-Qasim lalu berkata, “Amirul Mukminin –semoga Allah memanjangkan umurnya- memintaku untuk mengangkat salah satu dari kalian untuk menjadi kepala pengadilan Bashrah. Bagaimana pendapat kalian berdua?”

     Masing-masing dari mereka mengatakan bahwa rekannya lah yang lebih utama (Iyas menganggap al-Qasim lebih utama, sedangkan al-Qasim menganggap Iyaslah yang lebih utama darinya) sambil menyebutkan keutamaan ilmu dan kefakihannya.

    Adi berkata, “kalian tidak boleh keluar dari sini sebelum kalian memutuskannya.”

    Iyas berkata, “Wahai Amir, Anda bisa menanyakan tentang diriku dan al-Qasim kepada dua fuqaha ternama di Irak, yaitu Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanya lah yang paling mampu membedakan antara kami berdua.”

    Iyas mengatakan hal itu, karena al-Qasim adalah murid dari kedua ulama tersebut, sedangkan Iyas sendiri tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka. Al-Qasim menyadari bahwa Iyas akan memojokkannya, sebab jika pemimin Irak itu bermusyawarah dengan kedua ulama tersebut tentulah mereka akan memilih dia bukan Iyas. Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, janganlah Anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia. Iyas lebih mengerti tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku berbohong dalam sumpahku ini, maka tentunya Anda tidak patut memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur. Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan disini ada yang lebih utama.”

    Iyas menoleh kepada Amir dan berkata, “Wahai Amir. Anda memanggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya Anda meletakkan ia di tepi jahannam, lalu orang itu (yakni al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu, dia bisa meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beristighfar kepada-Nya. Kemudian selamatlah dia dari apa yang ditakutinya.”

    Maka Adi berkata, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang pantas menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai Hakim di Bashrah.

    Siapakah gerangan yang dipilih oleh khalifah yang zuhud. Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi hakim di Bashrah ini? Siapakah beliau sebenarnya yang karena kecerdasan, kepandaian dan kejeniusannya sampai dijadikan sebagai simbol dan permisalan sebagaimana permisalan kedermawanan Hatim ath-Tha’i, kebijakan Ahnaf bin Qais, keberanian Amru bin Ma’di?

    Abu Tammam memuji Ahmad bin Mu’tasham dengan ungkapannya:

Memiliki keberanian Amru

Kedermawanan Hatim

Kebijaksanaan Ahnaf

Dan kecerdasan Iyas

    Mari kita telusuri perjalanan hidup tokoh ini dari awal mulanya, sebab dia memiliki sejarah-sejarah yang menakjubkan.

    Nama beliau adalah Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzanni, lahir pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau berpindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya. Disanalah beliau tumbuh berkembang dan belajar. Beliau sering mondar-mandir ke Damaskus saat masih belia, tentunya untuk menimba ilmu dari sisa-sisa shahabat yang mulia dan tokoh-tokoh tabi’in yang agung.

    Sejak kecil telah nampak bakat dan kecerdasan Putra al-Muzanni yang satu ini. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.

    Diriwayatkan bahwa, ketika masih kecil beliau belajar ilmu hisab di sebuah sekolah yang diajar oleh seorang Yahudi ahli Dzimmah. Pada suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu, lalu mereka asyik membicarakan masalah agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.

    Guru Yahudi itu berkata kepada teman-teman Iyas, “Tidakkah kalian merasa heran kepada Kaum Muslimin itu? Mereka berkata bahwa mereka akan makan di Surga, namun tidak akan buang air besar?”

Iyas       : “Bolehkah aku ikut campur dalam perkara yang kalian bicarakan itu wahai guru?”

Guru      : “Silahkan!”

Iyas       : “Apakah semua yang kita makan di dunia ini, akan keluar menjadi kotoran?”

Guru      : “Tidak!”

Iyas       : “Lalu kemana perginya yang tidak keluar itu?”

Guru      : “Tersalurkan sebagai makanan jasmani.”

Iyas       : “Kemudian dengan alasan apa kalian mengingkari? Jika makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tidaklah mustahil di surga kelak seluruhnya diserap oleh tubuh dan akan menjadi makanan jasmani.”

     Merasa kalah dengan argumen dari Iyas, guru itu memberikan isyarat dengan tangannya sambil berkata kepada Iyas, “Semoga Allah mematikanmu sebelum dewasa.”

*****

     Bertambahlah umurnya setahun demi setahun, berita tentang kecerdasannya makin ramai dibicarakan orang. Telah diriwayatkan bahwa ketika beliau masih muda, ketika berada di Damaskus pernah bersengketa dengan salah seorang tua penduduk kota tersebut tentang suatu hak kepemilikan. Setelah putus asa menyelesaikan dengan satu argumen, maka masalah tersebut dibawa ke pengadilan.

     Ketika keduanya telah berada di depan hakim, Iyas mengemukakan argumennya dengan suara lantang kepada rivalnya. Lalu di tegur oleh hakim,

Hakim   : “Rendahkanlah suaramu wahai anak! Karena lawanmu adalah seorang yang
              besar baik secara usia maupun kedudukannya.”

Iyas      : “Akan tetapi kebenaran lebih besar dari dia.”

Hakim   : (dengan marah berkata) “Diam!”

Iyas      : “Siapakah yang akan mengemukakan alasanku, jika aku diam?”

Hakim   : “Aku tidak mendapatkan semua keteranganmu sejak masuk majelis ini selain
              kebathilan.”

Iyas       : “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, jujurlah, apakah kata-kataku
                                  haq ataukah batil?”

Hakim    : “Benar!, demi Rabb-ul Ka’bah. . Benar!”

 

*****

     Semangat Putra al-Muzanni ini semakin membara untuk memperdalam ilmu. Hingga akhirnya sampailah pada suatu titik menakjubkan yang dikehendaki Allah. Sehingga orang-orang tua pun menaruh hormat kepadanya, belajar darinya meskipun beliau masih sangat belia.

     Pada suatu tahun, ketika Abdul Malik bin Marwan bin Marwan mengunjungi Bashrah sebelum menjadi Khalifah, dia melihat Iyas yang masih remaja dan belum tumbuh kumisnya berada paling depan sebagai pemimpin, sedangkan di belakangnya ada empat orang qurra’ (penghafal al-Qur’an) yang sudah berjenggot panjang dan memakai pakaian resmi berwarna hijau. Maka Abdul Malik berkata, “Celaka benar orang-orang berjenggot ini, apakah di sini tidak ada lagi orang tua yang bisa memimpin, sampai anak sekecil ini dijadikan pemimpin mereka?” Lalu dia menoleh kepada Iyas dan bertanya, “Berapa usiamu wahai anak muda?”

     Iyas menjawab, “Usiaku sama dengan usia Usamah bin Zaid saat diangkat oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam sebagai panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar wahai Amir –semoga Allah memanjangkan umur Anda-.” Abdul Malik berkata, “Kemari, kemarilah wahai anak muda, semoga Allah memberkatimu.”

*****

     Di suatu tahun, orang-orang keluar untuk mencari Hilal Ramadhan dipimpin langsung oleh shahabat utama Anas bin Malik al-Anshari. Ketika itu beliau telah berusia senja dan hampir mencapai umur 100 tahun.

     Orang-orang memperhatikan seluruh penjuru langit, namun tidak menemukan apa-apa di langit. Akan tetapi, Anas terus mencari-cari lalu berkata, “Aku telah melihat Hilal, itu dia!” sambil menunujuk dengan tangannya ke langit, padahal tidak seorangpun melihatnya selain beliau.

     Ketika itu Iyas memperhatikan Anas Radhiyallahu’anhu ternyata ada sehelai rambut panjang yang berada di alisnya hingga menjulur ke pelupuk matanya. Dengan santun dia meminta izin untuk merapihkan rambut Anas yang terjulur itu lalu bertanya, “Apakah Anda masih melihat Hilal itu wahai shahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam.”

Anas : “Tidak!, aku tidak melihatnya. . .aku tidak melihatnya. . .”

*****

     Tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas, orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula hendak berdebat kusir.

     Di antara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah dan di kalangan Persi dahulu) yang datang ke majelisnya dan bertanya,

Duhqan    : “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang
                                  memabukkan?”

Iyas         : “Haram!”

Duhqan    : “dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tidak lebih dari buah dan air
                  yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal?”

Iyas         : “Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duhqan, ataukah masih ada yang
                 hendak kau sampaikan?”

Duhqan    : “Sudah, silahkan bicara!”

Iyas         : “seandainya aku mengambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah terasa
                 sakit?”

Duhqan    : “Tidak!”

Iyas         : “jika aku mengambil segenggam pasir dan kulemparkan kepadamu, apakah
                                  terasa sakit?”

Duhqan    : “Tidak!”

Iyas         : “Jika aku mengambil segenggam semen dan kulempar kepadamu, apakah
                 terasa sakit?”

Duhqan    : “Tidak!”

Iyas         : “Sekarang, jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu
                  aku tuangkan air diatasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu
                  kupukulkan kepalamu, apakah terasa sakit?”

Duhqan    : “Benar, bahkan bisa membunuhku.”

Iyas         : “Begitulah halnya dengan khamr. Disaat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu
                  kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka menjadi haram.”

 

*****

    Ketika beliau menjabat menjadi hakim telah terbukti bahwa dia benar-benar orang yang cerdas, lihai dan memiliki kemampuan besar dalam menyingkap hakikat suatu masalah sampai ke akar-akarnya.

     Pernah terjadi sengketa dua orang. Yang satu berkata bahwa ia telah menitipkan sejumlah harta kepada temannya, tetapi ketika ia meminta lagi, temannya itu mengelakknya. Iyas bertanya kepada tertuduh dan dia tetap mengingkari sambil berkata, “Bila kawanku ini punya bukti, silahkan datangkan, kalau tidak ada maka tiada jalan baginya untuk menjatuhkan aku kecuali dengan sumpah.”

     Iyas khawatir orang itu akan memakan harta yang bukan haknya dengan sumpahnya. Maka dia berpaling ke si penuduh dan bertanya, “Dimanakah tempat kau menitipkan harta itu kepadanya?” Dia berkata, “Di suatu tempat bernama anu.” Iyas bertanya, “Bagaimana ciri-ciri tempat itu?”

     Penuduh menjawab, “disana ada batang pohon besar, kami duduk dan makan bersama dan ketika kami hendak berjalan pulang, kuserahkan harta itu kepadanya.” Iyas berkata kepadanya, “Pergilah ke tempat yang terdapat pohon tersebut! Karena apabila engkau mendatanginya bisa jadi akan mengingatkan kamu di mana telah kau letakkan barang tersebut. Setelah itu segeralah kembali untuk mengabarkan apa yang telah engkau dapatkan di sana.”

     Kemudian pergilah orang itu, sementara Iyas berkata kepada si tertuduh yang masih berada di hadapannya, “Tunggulah disini! Sampai kawanmu kembali.” Ia pun duduk menanti. Kemudian Iyas mengurus perkara-perkara lainnya sambil mengamati si tertuduh secara diam-diam. Sekiranya dilihatya sudah agak tenang , Iyas berkata, “Apakah kiranya kawanmu itu sudah sampai di tempat, di mana ia menitipkan hartanya kepadamu?”

     Tanpa menyadari jebakan Iyas tersebut ia menjawab, “Belum, karena tempatnya jauh dari sini.” Mendengar jawaban tersebut Iyas sudah bisa menebak apa yang terjadi sesungguhnya, beliau berkata, “Wahai musuh Allah, engkau telah memungkiri harta itu sedangkan engkau tahu di mana tempat kau menerimanya.”

     Orang itu sudah tidak bisa berkutik lagi, lalu mengakui khianatnya, Iyas memanggil polisi untuk menahannya sampai kawannya datang. Setelah kawannya tiba dia diperintahkan untuk mengembalikan hartanya.

*****

     Bukti kecerdasan Iyas terbukti juga pada kasus berikut:

     Ada dua orang yang berselisih, lalu mengadukan persoalan kepadanya tentang uda kain beludru yang biasa diletakkan di atas kepala dan dijulurkan hingga ke bahu. Yang satu berwarna hijau, masih baru dan mahal harganya, sedangkan yang lain berwarna merah dan telah usang.

     Si penuduh berkata, “Suatu ketika saya istirahat di sebuah sungai untuk mandi, lalu aku letakkan beludru milikku yang berwarna hijau bersama kainku di pinggir telaga. Lalu datanglah orang ini dan meletakkan beludrunya yang berwarna merah di samping beludruku kemudian terjun ke telaga. Dia selesai sebelum aku. . .selanjutnya dia memakain bajunya namun mengambil beludru milikku, lalu dipakaikan di kepalanya dan langsung beranjak pergi. Ketika aku selesai kuikuti dia dan aku meminta kembali beludruku, namun dia mengatakan bahwa beludru itu miliknya.

     Iyas berkata kepada lelakin yang dituduh, “Bagaimana pendapat Anda?” Dia menjawab, “Tidak demikian sebenarnya.” Kemudian Iyas berkata kepada penjaga, “Ambilkan aku sebuah sisir!” Lalu diambilkannya sebuah sisir untuk beliau. Selanjutnya Iyas menyisir kedua rambut kepala orang tersebut, lalu keluarlah dari rambut salah seorang dari mereka bulu halus berwarna merah yang tercecer dari beludru merah, yang satunya lagi keluar bulu halus yang berwarna hijau…lalu beliau memutuskan beludru yang merah bagi yang tercecer di rambut kepalanya bulu kain merah dan beludru hijau bagi yang tercecer bulu kain hijau di rambut kepalanya.

*****

     Masih ada lagi bukti kecerdasan Iyas dan kejeniusannya. Ada seorang di Kufah yang menampakkan sebagai orang baik-baik di mata masyarakat dan menampakkan sifat wara’ dan takwa. Sehingga, banyak sanjungan tertuju kepadanya, dan orang-orang menjadikan ia sebagai orang kepercayaan dan menitipkan harta  kepadanya, bila hendak bepergian atau menitipkan wasiat kepadanya, bagi anak-anaknya dan keluarganya ketika merasa hendak datang ajalnya.

     Ada seorang menitipkan harta kepadanya, tapi ketika si empunya hendak mengambilnya, dia mengelak. Maka orang itu datang kepada Iyas dan melaporkan hal tersebut. Iyas bertanya kepada si penuduh, “Apakah kawanmu itu tahu bahwa engkau melapor kepadaku?” “Tidak!” jawabnya. Iyas berkata, “Kalau begitu pulanglah dan besok saya minta Anda kembali kemari.”

     Kemudian Iyas memanggil orang yang di percaya memegang harta itu (sekaligus sebagai tertuduh) dan berkata kepadanya, “Ada banyak titipan harta milik anak yatim ditanganku dan tidak ada yang mengurusnya. Aku pikir, sebaiknya kutitipkan saja kepada Anda. Kujadikan engkau sebagai wali atas mereka. Apakah rumahmu cukup aman dan Anda memiliki kesediaan waktu untuk mengurusnya?” Orang itu menjawab, “Saya bersedia wahai hakim.”

     Iyas berkata, “Kalau begitu, datanglah kemari besok lusa dan siapkan tempat untuk menyimpan harta itu. Bawalah orang-orang untuk mrmbantu membawanya.”

     Keesokan harinya, datanglah penuduh itu kembali. Iyas berkata kepadanya, “Sekarang datangilah kawanmu dan mintalah hartamu kembali, jika dia mengingkari katakan kepadanya, “Akan saya adukan kepada hakim.”

     Orang itu pun datang kepada kawannya untuk meminta hartanya tetapi dia tetap mengelak dan tidak mau mengakuinya. Maka berkatalah penuduh itu, “Kalau begitu sekarang akan aku laporkan engkau kepada hakim.”

     Begitu mendengar ancaman itu, orang yang khianat tersebut segera mengembalikan harta yang diamanatkan kepadanya lalu berdalih bahwa dia lupa dan sebagainya.

     Setelah menerima kembali hartanya, penuduh menjumpai Iyas sambil berkata, “Kawanku itu telah mengembalikan hartaku, semoga Allah membalas kebaikan Anda atas jasa dan budi baikmu, wahai hakim. . .”

     Keesokan hari setelahnya, sesuai rencana, datanglah si pengkhianat itu kepada Iyas dengan membawa orang untuk mengangkut harta yang dikatakan Iyas. Iyas menghajarnya dan mengumumkan kecurangannya. Beliau berkata, “Celakalah engkau musuh Allah! Kau jadikan agamamu untuk menipu.”

*****

     Namun, terkadang kecerdasan dan kejeniusan Iyas ada juga yang bisa mengalahkan dengan argumen yang mematahkannya.

      Beliau bercerita tentang dirinya, “Aku belum pernah kalah kecuali dengan satu orang. Ketika itu di sidang pengadilanBashrah seseorang menjadi saksi bahwa kebun anu adalah benar-benar milik si Fulan dan dia menguatkannya kepadaku.”

     Aku bertanya untuk menguji kebenaran pengakuannya , “Berapa jumlah pohon di dalamnya?” orang tersebut menunduk sejenak, lalu balik bertanya, “Berapa lama tuan menjabat menjadi hakim di majelis ini?” aku menjawab, “Sejak beberapa tahun yang lalu.” Lalu dia bertanya, “Berapa jumlah genting di pengadilan ini?” Aku tidak mampu menjawabnya, lalu aku berkata, “Kebenaran ada dipihakmu.” Lalu kuterima kesaksiannya itu.

     Di saat berusia 76 tahun Iyas bin Mu’awiyah bermimpi bertemu bapaknya yang telah wafat. Keduanya berlomba naik kuda, ternyata tidak ada yang menang. Ayah Iyas wafat tatkala berusia 76 tahun.

     Suatu saat Iyas bertanya kepada keluarganya, “Kalian tahu ini malam apa?”
“Tidak.” Jawab mereka. Beliau melanjutkan, “Malam ini adalah malam bertepatan dengan kematian ayahku.”

     Keesokan harinya, didapatkan bahwa Iyas telah wafat. Semoga Allah merahmati Iyas, hakim yang dikenal sangat cerdas dan jenius pada masanya.”

Sumber: Buku Mereka adalah Para Tabi’in, Kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan XVIII, 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: