ARTIKELTafsir Al-Qur'an

Tafsir Surat Al-A’laa

Tafsir Surat Al-A’laa

( Yang Paling Tinggi )

Surat Makkiyyah

Surat Ke-87 : 19 Ayat

 

Keutamaan Surat Al-A’laa

Surat ini diturunkan di Makkah sebelum hijrah. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, “Sahabat yang pertama kali datang kepada kami (di Madinah) adalah Mush’ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, mereka mengajarkan al-Quran kepada kami. Kemudian datang ‘Ammar, Bilal, dan Sa’d. Kemudian datang ‘Umar bin al-Khaththab membawa dua puluh orang. Kemudian datang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Aku tidak melihat penduduk Madinah bergembira karena sesuatu, seperti kegembiraan mereka dengan kedatangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, hingga aku menyaksikan anak-anak kecil berkata, ‘Lihatlah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah tiba.’ Beliau tidak datang (ke Madinah) sampai kau membaca (hafal) surat, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَى “Sucikanlah Nama Rabb-mu Yang Mahatinggi.” Di (antara) surat-surat lain yang semisal dengannya.

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz:

هَلَّا صَلَيْتَ بِــ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَى, وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَا , وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰى؟

“Alangkah baiknya jika engkau shalat dengan membaca surat al-A’laa, surat asy-Syams, dan surat al-Lail?

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca surat al-A’laa dan surat al-Ghaasyiyah dalam salat Idul Fitri dan salat Idul Adha. Dan jika bertepatan dengan salat Jumat, maka beliau membaca kedua surat tersebut seluruhnya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh muslim dalam kitab shahihnya, serta Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Adapun redaksi muslim dan para penyusun kitab kitab Sunan adalah: “Beliau membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiyah dalam salat Idul Fitri dan salat Idul Adha, serta dalam salat Jumat. “Dan terkadang salat Ied dan salat Jumat berkumpul dalam satu hari, hingga beliau membaca kedua surat tersebut pada salat keduanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad nya dari hadits Ubay bin ka’ab, Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma, Abdurrahman Bin Abza dan ‘Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca surat al-A’laa dan surat Al-Kafirun serta surat Al-Ikhlas dalam salat witir. Riwayat dari Aisyah menambahkannya dengan surat al-Falaq dan surat an-Naas.

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

AL-A’LAA, AYAT 1-13

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَى، الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰى، وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰى، فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰى، سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓ، اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰى، وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰى، فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰى، سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰى، وَيَتَجَنَّبُهَا الْاَشْقَى، الَّذِيْ يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرٰى، ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰى

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi (1) Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya) (2) Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (3) dan Yang menumbuhkan rerumputan (4) lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering kehitam-hitaman (5) Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa (6) kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi (7) Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan (mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat) (8) oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat (9) orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran (10) dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (11) (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka) (12) selanjutnya dia di sana tidak mati dan tidak (pula) hidup.” (13)

 

Perintah Bertasbih Dan Bagaimana Lafazh Tasbih Tersebut

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, bahwa apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca ayat, “Sucikanlah nama Rabb-mu yang Mahatinggi.” Beliau mengucapkan:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىٰ

“Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi.”

Ibnu jarir meriwayatkan dari Abu Ishaq Al Hamdani, bahwa apabila Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma membaca ayat, “Sucikanlah nama Rabb-mu yang Maha Tinggi, ia mengucapkan, سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىٰ (Mahasuci Rabb ku Yang Mahatinggi). Dan apabila ia membacakan ayat, {لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ} “Aku bersumpah dengan hari Kiamat.” (QS. Al-Qiyaamah: 1) Hingga ia membaca ayat terakhir surat Al-Qiyaamah, { اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى} “Bukankah Allah yang berbuat demikian berkuasa pula menghidupkan orang mati?” (QS. Al-Qiyaamah: 40) Ia berkata, ” سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىٰ (Mahasuci Engkau dan Engkau benar-benar berkuasa).”

 Tentang ayat, “Mahasuci Rabb-mu yang Maha Tinggi.” Qotadah berkata “Telah diriwayatkan kepada kami bahwa apabila Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membacanya, lalu Beliau mengucapkan:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىٰ

“Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi.”

Penciptaan, Takdir Dan Penumbuhan Tumbuh-Tumbuhan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman {الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰى} “Yang menciptakan, dan menyempurnakan semua makhluk dengan sebaik-baiknya ciptaan.

Selanjutnya, mengenai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala { وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰى} “Dan yang menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk,” Mujahid berkata, “yakni, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan manusia ke Jalan kebahagiaan dan kesengsaraan, serta menunjukkan hewan ke tempat pengembalaan yang subur.”

Ayat ini seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengenai ucapan Nabi Musa kepada Firaun { رَبُّنَا الَّذِيْٓ اَعْطٰى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى} “Rabb kami ialah (Allah) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50) Yakni, menentukan takdirnya dan memberi petunjuk kepada makhluk menuju takdir tersebut.

Ini sebagaimana hadis yang disebutkan dalam kitab Shahiih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قدَّرَ مَقَادِيرَ الخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Sesungguhnya Allah telah menentukan takdir seluruh makhluk sebelum dia menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun, Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.”

Selanjutnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala {وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰى} “Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan.” Yakni, dari semua tanaman dan tumbuh-tumbuhan. “Lalu dijadikannya rumput- rumput itu kering kehitam-hitaman. “Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata,” tanaman itu mengering dan berbuah. “Mujahid, Qatadah dan Ibnu Zaid juga menafsirkannya demikian.

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Tidak Melupakan Wahyu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman {سَنُقْرِئُكَ} “Kami akan membacakan Alquran kepadamu” Yakni wahai Muhammad. {فَلَا تَنْسٰىٓ} “Maka kamu tidak akan lupa.” Dan inilah pemberitahuan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan janji darinya untuk beliau bahwa Allah akan membacakan kepadanya dengan bacaan yang tidak akan membuat beliau lupa. {اِلَّامَاشَاۤءَاللّٰهُ} “Kecuali kalau Allah menghendaki. “Qotadah menafsirkannya, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak akan melupakan sesuatu kecuali jika Allah menghendakinya.”

Ada pendapat yang mengatakan, “Maksud dari firman Allah, ‘Maka kamu tidak akan lupa,’ adalah tuntutan agar beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tidak melupakannya. Sedangkan makna pengecualian atas hal itu ialah berkaitan dengan ayat yang dinasakh dihapus oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yakni, engkau jangan melupakan apa yang kami bacakan kepadamu, kecuali jika Allah menghendaki mengangkatnya maka tidak mengapa engkau membiarkannya.”

Selanjutnya, firman Allah subhanahu wata’ala { اِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ} “Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. “Yakni, Allah mengetahui ucapan dan perbuatan yang dinampakkan oleh para hamba-nya, dan yang disembunyikan oleh mereka, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi darinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, { وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰى} “Dan kami akan memberi kamu Taufik kepada jalan yang mudah.” Yakni, kami akan memudahkan kamu berbuat baik dan berbicara dengan kata-kata yang baik, dan kami akan mengajarkan kepadamu syariat yang mudah, toleran, lurus, adil, tidak bengkok, tidak memberatkan dan tidak menyulitkan.

Pemerintah Memberikan Peringatan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman { فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰى} “Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” Yakni, berikanlah peringatan sekiranya peringatan itu bermanfaat titik dari sinilah ada dalam menyebarkan ilmu diambil, hingga seseorang tidak akan mengajarkan ilmunya kepada orang yang tidak tepat.

Ini sebagaimana ucapan Amirul Mukminin Ali radhiyallahu Anhu, “Engkau tidak sepantasnya mengajarkan sesuatu kepada suatu kaum diluar kemampuan akal mereka. Jika hal itu engkau lakukan maka akan menjadi fitnah bagi sebagian di antara mereka. “Dan Ali pun berkata, “Ajarkanlah (ilmu) kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka. Apakah kalian ingin Allah dan rasulnya didustakan?” [Maksudnya, jika manusia itu diajari sesuatu yang tidak dapat mereka fahami dengan akalnya, maka mereka akan salah faham, hingga bukan mustahil mereka malah mendustakan Allah Subhanallahu wa ta’ala dan Rasul-Nya]

 Selanjutnya, firman Allah subhanahuwata’ala { سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰى} “orang yang takut kepada Allah akan mendapatkan pelajaran. ” Orang yang hatinya takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ia meyakini bahwa ia akan bertemu dengannya, akan dapat mengambil pelajaran dari apa yang kamu sampaikan, wahai Muhammad.

Sebaliknya, “Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. Yaitu orang yang akan memasuki api besar (Neraka). kemudian dia tidak mati didalamnya dan tidak pula hidup. “Di neraka ia tidak mati, sehingga ia tidak bisa beristirahat dengan tenang. Ia pun tidak hidup dengan hidup yang bermanfaat baginya. Sebaliknya, ia hidup sengsara, merasakan adzab yang sangat pedih dengan berbagai macam siksaan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الذِينَ هُمْ أَهْلُهَا لَا يَمُوتُونَ، وَلَا يَحْيَوْنَ، وَأمَّا أُناسٌ يُريدُ اللهُ بهمُ الرَّحمةَ، فيُميتُهم في النَّارِ، فيدخُلُ عليهمُ الشُّفَعاءُ، فيأخُذُ الرجُلُ الضِّبارةَ فيَبُثُّهم، “أو قال: “فيُبَثُّونَ على نَهرِ الحَيَا”، أو قال: “الحَيَوانِ”، أو قال: “الحَياةِ”، أو قال: “نَهرِ الجَنَّةِ، فيَنبُتونَ نباتَ الحَبَّةِ في حَميلِ السَّيْلِ

“Adapun penghuni neraka Di mana mereka adalah penghuninya sejati maka mereka tidak pernah mati dan tidak pula hidup. Adapun orang-orang yang hendak diberi Rahmat oleh Allah maka Allah mematikan mereka di neraka [Setelah disiksa selama yang dikehendaki Allah Subhanallahu wa ta’ala], lalu para pemberi syafaat mulai memberi syafaat, hingga seseorang dari pemberi syafa’at itu mengentaskan beberapa orang dari neraka. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menumbuhkan mereka atau nabi bersabda: lalu mereka tumbuh di sungai alhaya, atau beliau bersabda: alhayah, atau beliau bersabda: Al hayawan semuanya berarti sama yakni kehidupan atau beliau bersabda, di sungai surga maka mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji di dalam arus sungai yang mengalir.”

Abu Sa’id mengatakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَمَا تَرَوْنَ الشَّجَرَةَ تَكُوْنُ خَضْرَاءَ، ثُمَّ تَكُوْنُ صَفْرَاءَ ثُمَّ تَكُوْنُ خَضْرَاءَ

“Pernahkah kalian melihat pohon menjadi hijau warna daunnya, kemudian berwarna kuning, kemudian berubah kembali menjadi hijau?”

 

Abu Said berkata, “Sebagian Sahabat berkata, seakan-akan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berada di pedalaman.”

Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Sa’id al-khudri, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الذِينَ هُمْ أَهْلُهَا لَا يَمُوتُونَ، وَلَا يَحْيَوْنَ، وَأمَّا أُناسٌ يُريدُ اللهُ بهمُ الرَّحمةَ، فيُميتُهم في النَّارِ، فيدخُلُ عليهمُ الشُّفَعاءُ، فيأخُذُ الرجُلُ الضِّبارةَ فيَبُثُّهم، “أو قال: “فيُبَثُّونَ على نَهرِ الحَيَا”، أو قال: “الحَيَوانِ”، أو قال: “الحَياةِ”، أو قال: “نَهرِ الجَنَّةِ، فيَنبُتونَ نباتَ الحَبَّةِ في حَميلِ السَّيْلِ

“Adapun penghuni neraka Di mana mereka adalah penghuni sejatinya maka mereka tidak pernah mati didalamnya dan tidak pula hidup titik akan tetapi ada suatu golongan manusia atau sebagaimana sabda beliau yang dijilat oleh api neraka karena dosa-dosa mereka atau karena kesalahan mereka Maka Allah mematikan mereka beberapa waktu. Sampai ketika mereka menjadi arang, pintu syafa’at dibuka, lalu mereka dikeluarkan dari neraka kelompok demi kelompok. Lalu mereka disebar sungai-sungai surga. Lalu Dikatakan, Hai penghuni surga, Tuangkan air kehidupan kepada mereka! “Maka mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji yang berada di dalam arus sungai yang mengalir.”

Abu Sa’id berkata ” Lalu ada seseorang berkata ketika itu, seakan-akan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berada di pedalaman. “Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim.

AL-A’LAA, AYAT 14-19

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى، بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا، وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى، اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰى، صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) (14) dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat (15) Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia (16) padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal (17) Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu (18) (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (19)

Penjelasan Tentang Orang Yang Beruntung

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman { قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى} “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman.” Yakni, membersihkan dirinya dari akhlak yang tercela dan mengamalkan ajaran yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. { وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى} “Dan dia ingat nama Rabb-nya, lalu dia shalat. ” yakni, mendirikan shalat tepat pada waktunya, untuk mencari keridhaan Allah semata dan sebagai ketaatan atas perintah Allah serta melaksanakan syariat Allah.

Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bahwa ia pernah memerintahkan kaum muslimin agar mengeluarkan zakat fitrah dan dia membaca ayat { قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى} “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. Dan dia ingat nama Rabb-nya, lalu dia salat.” Abul Ahwash berkata, “Apabila ada seorang peminta-minta datang kepada kalian, sedangkan kalian hendak melaksanakan shalat maka tunaikanlah zakat terlebih dahulu sebelum kalian melaksanakan shalat karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,”Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. Dan dia ingat nama Rabb-nya lalu dia shalat. “

Qotadah menafsirkan ayat, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. Dan dia ingat Nama Rabb-nya, lalu dia shalat.” Yakni pema membersihkan hartanya dan membuat penciptanya Ridho kepadanya.

Dunia Tidak Ada Nilainya Dibanding Dengan Akhirat

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, { بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا} “Sedangkan kamu orang-orang kafir memilih kehidupan dunia.”Yakni, kalian lebih mendahulukan dunia daripada urusan akhirat dan kalian lebih menonjolkan dunia daripada manfaat dan kebaikan kalian untuk kehidupan kalian di dunia dan bekal kalian di akhirat. { وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى} “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. “Yakni ganjaran Allah di alam akhirat lebih baik daripada dunia dan lebih kekal karena dunia hanyalah alam yang hina dan pasti musnah, sedangkan akhirat itu alam yang mulia dan jelas kekal. Lantas Bagaimana mungkin orang yang berakal lebih memilih alam yang pasti musnah daripada alam yang kekal? Orang yang berakal Tidak sepantasnya lebih memperhatikan sesuatu yang pasti lenyap dalam waktu dekat sementara ia tidak menaruh perhatian terhadap alam akhirat yang kekal.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari, bahwa Rasul Allah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ ، وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ ، فَأثِرُوْا مَا يَبْقَىٰ عَلَىٰ مَا يَفْنَىٰ

“Barang siapa mencintai dunianya, maka yang merugikan akhiratnya. Dan barangsiapa yang mencintai akhiratnya, maka ia merugikan dunianya. Maka dahulukan lah alam yang kekal daripada alam yang pasti musnah.”
Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

Lembaran-Lembaran Nabi Ibrahim Dan Nabi Musa

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰى صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى} “Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” Ayat-ayat di akhir surat Al A’la tersebut seperti firman Allah subhanahu wa taala dalam surat An Najm

اَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِيْ صُحُفِ مُوْسٰى وَاِبْرٰهِيْمَ الَّذِيْ وَفّٰىٓ اَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰى وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰى ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰى وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰى

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran kitab suci yang diturunkan kepada Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? Yaitu bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya titik kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan sesungguhnya kepada Romula kesudahannya segala sesuatu.” (QS. An-Najm: 36-42) Dan seterusnya sampai akhir Surat An Najm.

Abul ‘Aliyah berkata, “(Yakni) kisah tersebut terdapat dalam lembaran-lembaran suci yang dahulu.” Ibnu jarir memilih Pendapat yang menyatakan bahwa maksud dari         {إِنَّ هَـٰذَا}”sesungguhnya ini.” Adalah isyarat kepada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, { قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى}”Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dengan beriman. Dan mengingat nama robotnya, lalu dia salat titik sedangkan kamu orang-orang kafir memilih kehidupan dunia titik Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {إِنَّ هَـٰذَا } “Sesungguhnya ini.” Yakni, kandungan pernyataan dalam ayat-ayat sebelumnya. { لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰى صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى } “Terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, yaitu kitab kitab Ibrahim dan Musa. “

Pendapat yang dipilih oleh Ibnu jarir tersebut merupakan pendapat yang kuat dan bagus. Pendapat Senada diriwayatkan dari kota ada dan Ibnu Zaid. Wallahu a’lam.

Demikianlah akhir tafsir surat al-A’laa. Hanya milik Allah Subhanallahu wa ta’ala lah segala puji dan anugerah.

 

 

\

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini:

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker