Pasal Keempat Belas : Wasilah

Pasal Keempat Belas :

Wasilah

 

Seorang Muslim beriman bahwasanya Allah Subhanallahu wa ta’ala mencintai amal shalih dan perbuatan yang terbaik, Dia mencintai hamba-hambaNya yang shalih, dan bahwasanya Allah Subhanallahu wa ta’ala mengajak hamba-hambaNya untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya, akrab dan tawassul. Karena itulah seorang Muslim bertaqarrub kepada Allah, bertawassul kepadaNya dengan berbagai amal shalih dan perkataan-perkataan yang baik. Ia memohon kepada Allah dan bertawassul kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya yang sempurna (Asma al-Husna) dan sifat-sifat kesempurnaanNya, juga bertawassul dengan imannya kepada Allah dan kepada RasulNya serta dengan kecintaannya kepada Allah, kecintaannya kepada RasulNya, kecintaannya kepada orang- orang shalih dan segenap kaum Muslimin.

la bertaqarrub kepada Allah dengan melakukan Shalat fardhu, Zakat, Puasa, ibadah Haji dan amalan-amalan sunnah. Ia juga bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan apa-apa yang diharamkan dan menjauhi segala larangan. Ia tidak berdoa kepada Allah dengan kedudukan (jah) siapa pun dari makhluk ini dan tidak pula dengan amal ibadah seorang manusia, sebab kedudukan seseorang yang mempunyai kedudukan itu bukan hasil usaha dirinya, demikian pula amal seseorang itu bukanlah amalnya. Maka dari itu seorang Muslim tidak boleh memohon kepada Allah dengan amal orang lain atau menjadikannya sebagai wasilah (perantara) antara dirinya dengan Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Allah Subhanallahu wa ta’ala tidak mengajarkan kepada manusia untuk bertaqarrub kepadaNya dengan selain amal ibadah mereka sendiri, dan kesucian ruh mereka itu hanya didapat dengan iman dan amal shalih diri sendiri. Iman yang demikian itu didasari oleh dalil-dalil naqli dan ‘aqli berikut ini:

>Dalil-dalil Naqli

  1. Berita dari Allah Subhanallahu wa ta’ala tentang hal tersebut, seperti dalam Firman- Nya,

اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ

‘KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya.”
(Fathir: 10).

Juga FirmanNya,

يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.”
(Al-Mu’minun: 51).

FirmanNya lagi,

وَاَدْخَلْنٰهُ فِيْ رَحْمَتِنَاۗ اِنَّهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang shalih.”
(Al-Anbiya: 75).

FirmanNya lagi,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya.” (Al-Ma’idah: 35).

FirmanNya lagi,

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).”
(Al- Isra: 57).

FirmanNya lagi,

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
(Ali Imran: 31).

FirmanNya lagi,

رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ

“Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur an dan kenabian Muhammad ).”
(Al-Ma idah: 83).

FirmanNya lagi,

رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّا ۖرَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Rabbmu,’ maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang- orang yang berbakti.”
(Ali Imran: 193).

FirmanNya lagi,

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Hanya milik Allah Asma al-Husna, maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Al-A’raf: 180).

FirmanNya lagi,

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb).”
(Al-‘Alaq: 19).

  1. Berita dari Rasulullah tentang wasilah, sebagaimana sabdanya,

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّ طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu adalah Baik (bebas dari kekufuran) dan tidak menerima kecuali yang baik, “

Sabdanya pula,

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِيْ الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِيْ الشِّدَّةِ.

“Kenalkanlah dirimu kepada Allah di waktu lapang, niscaya Dia mengenalimu di waktu sempit (sengsara).”

Sabda beliau juga, sebagaimana beliau riwayatkan dari Allah ,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبُّهُ.

“Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada mendekatkan diri dengan melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya; dan hambaku senantiasa bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. “

Sabda beliau juga, sebagaimana beliau riwayatkan dari Allah ,

وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّيْ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

“Dan sekiranya ia mendekatkan diri kepadaku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepadaku sehasta, niscaya Aku mandekat kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaku dengan berjalan kaki, niscaya Aku datang kepadanya dengan berlari kecil.”

Terdapat pula sabda beliau tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, di mana yang satu bertawassul dengan baktinya kepada kedua orang tuanya, lalu yang satu lagi bertawassul dengan meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala dan yang ketiga bertawassul dengan mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya setelah ia mengembangkannya. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, “Lihatlah kembali amal-amal shalih yang pernah kamu lakukan semata-mata karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah dengan menjadikan amal shalih itu sebagai wasilah, mudah-mudahan Allah memberi jalan keluar (dari gua) ini.” Lalu mereka pun berdoa dan bertawassul dengan amal-amal shalih yang telah mereka lakukan, maka batu besar yang menutup pintu gua pun bergeser dan akhirnya mereka dapat keluar dari gua dengan selamat.

Beliau juga telah bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ.

“Posisi paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud.”

Ucapan beliau ketika berdoa:

أَسْأَلُكَ اللهُمَّ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ في كتابِك، أو علَّمته أحدًا مِن خلقِك، أو استأثرت به في علمِ الغيبِ عندَك، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبِي، ونورَ صدرِي، وجلاءَ حزني، وذَهابَ همِّي وغمِّي

“Aku mohon kepadaMu ya Allah dengan segala nama yang Engkau miliki, yang dengannya Engkau menamakan diriMu, atau Engkau turunkan di dalam Kitab SuciMu, atau Engkau telah ajarkan kepada seseorang antara makhlukMu, atau Engkau masih merahasiakannya di sisiMu di dalam ilmu ghaib; aku memohon agar Engkau menjadikan al-Qur an al-Azhim ini sebagai pelipur hatiku, penerang dadaku, pelita kesedihanku dan penghapus keluh kesahku.”

Sabda beliau juga,

لَقَدْ سَأَلَ هذَا بِاسْمِ اللهِ الْأَعْظَمِ الَّذِيْ مَا سُئِلَ بِهِ إِلَّا أَعْطَى وَمَا دُعِيَ بِهِ إِلَّاأَجَابَ

“Orang ini telah memohon kepada Allah dengan menyebut Nama Allah yang Agung, yang tidaklah Allah dimohon dengannya melainkan pasti Dia memberi dan tidaklah Dia diseru dengannya melainkan pasti Dia mengabulkan. “

  1. Adanya tawassul para nabi yang dicatat di dalam al-Qur’an al-Karim, dan tawassul mereka adalah tawassul dengan nama dan sifat-sifat Allah serta dengan amal shalih, tidak ada yang selain itu. Sebagai contoh, Nabi Yusuf di dalam tawassulnya mengucapkan,

رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

“Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Rabb) Pencipta langit dan bumi. Engkau-lah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih.”
(Yusuf: 101).

Juga Dzun Nun di dalam doanya mengucapkan,

اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.”
(Al-Anbi- ya’: 87).

Nabi Musa pun demikian pula,

رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ

“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.”
(Al-Qashash: 16).

اِنِّيْ عُذْتُ بِرَبِّيْ وَرَبِّكُمْ مِّنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَّا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”
(Ghafir: 27).

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun di dalam doanya mengucapkan,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Al-Baqarah: 127).

Doa Nabi Adam dan Hawa’:

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
(Al-A’raf: 23).

>Dalil-dalil ‘Aqli

  1. Kemahakayaan Allah Subhanallahu wa ta’ala dan kefakiran serta ketergantungan manusia kepadaNya adalah merupakan perkara yang mengharuskan tawassulnya sang hamba yang hina dina lagi fakir kepada Rabb Tuhan Yang Mahakaya, Allah , agar hamba yang lemah lagi hina dina ini selamat dari apa saja yang menakutkannya dan agar meraih apa yang didambakan dan dicita-citakannya.
  2. Kealpaan pengetahuan sang hamba (manusia) akan apa yang dicintai Allah Subhanallahu wa ta’ala dan apa yang tidak dicintaiNya, baik berupa perbuatan ataupun perkataan adalah merupakan perkara yang memastikan bahwa wasilah itu terbatas pada hal-hal yang diajarkan (disyariatkan) oleh Allah dan pada yang dijelaskan oleh RasulNya berupa ucapan-ucapan baik dan amal-amal shalih yang boleh dikerjakan atau ucapan-ucapan buruk dan amal-amal tidak terpuji yang harus dijauhi dan ditinggalkan.
  3. Kedudukan tinggi seseorang (seperti kedudukan seorang nabi, atau ulama, atau wali) bukanlah hasil usaha manusia dan juga bukan hasil perbuatannya (tetapi karunia dari Allah), dan ini mengharuskan hal tersebut tidak boleh digunakan untuk bertawassul kepada Allah, karena kedudukan seseorang -walaupun sangat agung- bukanlah meru- pakan suatu amal kebaikan (ketaatan) bagi orang lain untuk digunakan mendekatkan diri kepadaNya dan bertawassul, kecuali jika ia telah berbuat dengan anggota badannya atau hartanya untuk membentuk kedudukan (kemuliaan) seseorang, maka yang demikian itu boleh ia jadikan tawassul kepada Allah, karena hal seperti itu diperoleh dari hasil usaha dan jerih payahnya yang ia lakukan semata-mata karena Allah dan hanya berharap ridhaNya.

 

 

Disalin ulang dari: Kitab Minhajul Muslim Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jajairi Edisi Indonesia, Cetakan XV Jumadil ula 1437H/2016M, Darul Haq Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: