Urwah Bin Zubair _ Kisah Empat Pemuda dan Cita-cita

Kisah Empat Pemuda dan Cita-cita

Urwah Bin Zubair (Bagian 1)

    Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelataran yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa shahabat Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengahrumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudut dengan do’a-do’a yang shahih.

    Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Ka’bah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengundang dosa.

   Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya.

   Keempat remaja itu adalah Urwah bin Zubair dan saudara-saudaranya yang bernama Mus’ab dan Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi bernama Abdul Malik bin Marwan.

*****

   Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Maka khayalan mereka melambung tinggi ke alam luas dan cita-cita mereka berputar mengitari taman hasrat mereka yang subur.

   Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara, “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.”

   Saudaranya Mus’ab menyusulnya, “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tidak ada yang merongrong kekuasaanku.”

   Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”

   Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, tidak berkata sepatah katapun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi semua cita-cita dan urusan dunia kalian, aku ingin menjadi ‘alim (orang yang berilmu dan beramal), sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-Nya, sunnah Nabi-Nya dan hokum-hukum agama-Nya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan mendapatkan Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

   Hari-hari berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka’bah, tidak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-citanya dahulu.

   Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah menguasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya.

    Adapun Abdul Malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah ayahnya wafat dan bersatulah suara kaum muslimin pasca terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ah, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya.

   Bagaimana halnya dengan Urwah bin Zubair? Mari kita ikuti kisahnya di tema berikutnya…

 

Sumber: Buku Mereka adalah Para Tabi’in, Kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan XVIII, 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: