Empat Masalah yang Wajib Dipelajari Bagi Setiap Muslim (Bagian 1)

Empat Masalah yang Wajib Dipelajari Bagi Setiap Muslim

(Bagian 1)

 

اعْلَمْ رَحِمَكَ اللّهُ أنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلَّمُ أرْبَعِ مَسَائِلَ

 المَسْأَلَةُ الاُوْلَى : العِلْمُ، وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللّهِ وَمَعْرِ فَةُ نَبِيِّهَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمْ, وَمَعْرِفَةُ دِيْنِ الإسْلَامْ بِا لْأَدِلَّةِ

“Ketahuilah, rahimakallahu, sesungguhnyawajib bagi kita memp;elajari empat masalah: pertama ,ilmu; yaitu mengenal Allah.“Kemudian mengenal NabiNya dan mengenal Dien Al-Islam berdasarkan dalil-dalil.”

 

المَسْأَلَةُ الثَانِيَةُ : العَمَلُ بِهِ

المَسْأَلَةُ الثَالِثَةُ : الدَّعْوَةُ إلَيْهِ

“Masalah kedua, yaitu mengamalkannya.  Masalah ketiga, yaitu mendakwahkannya”

 

المَسْأَلَةُ الرَابِعَةُ : الصَبْرُ عَلَى الأذّى فِيهِ

“Masalah keempat, bersabar terhadap gangguan di dalamnya.”

Penjelasan :

1. Berilmu

a. Ilmu Mengenal Allah 

اعْلَمْ(1) رَحِمَكَ اللّهُ(2) أنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلَّمُ أرْبَعِ مَسَائِلَ(3) المَسْأَلَةُ الاُوْلَى : العِلْمُ، وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللّهِ(4

“Ketahuilah(1), rahimakallahu(2) , sesungguhnya wajib bagi kita mempelajari empat masalah(3): pertama, ilmu; yaitu mengenal Allah(4).

 

[1] Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya, dengan seyakin-yakinnya. Sebuah pengetahuan memiliki enam tingkatan, yaitu;

1. Al-Ilmu, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya denganseyakin-yakinnya.

2. Al-Jahlu Al-basith, yaitu ketidaktahuan mengetahui sesuatu apa pun.

3. Al-Jahlu Al-Murakab, adalah mengetahui sesuatu tetapi menyelisihi atas makna sebenarnya.

4. Al-Wahm, adalah mengetahui sesuatu dengan kemungkinan kuat mengenai kebalikannya (artinya pengetahuannya lebih kecil dari ketidaktahuannya terhadap sesuatu yang dimaksud).

5. Asy-Syak, adalah pengetahuan sesuatu dengan keyakinan yang sama mengenai kebalikannya, (artinya antara pengetahuan dan ketidak tahuannya seimbang dan sama).

6. Adz-Dzan, adalah pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan lemah mengenai kebalikannya, (artinya pengetahuannya lebih besar daripada ketidaktahuannya terhadap sesuatu yang dimaksud).

Sementara ilmu itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu ilmu Dharuri  dan ilmu Nadhari. Ilmu dharuri adalah ilmu yang sudah pasti diketahui oleh setiap orang tanpa harus adanya pemikiran dan pembuktian, seperti pengetahuan bahwa api itu panas. Sementara ilmu nadzari  adalah pengetahuan yang membutuhkan adanya pemikiran dan pembuktian, seperti pengetahuan mengenai kewajiban niat dalam wudhu.

[2] Rahimakallah , artinya semoga Allah melimpahkan  rahmat kepadamu, sehingga kamu mendapatkan kebutuhan yang kamu cari dan selamat dari bahaya yang kamu hindari.

Kalimat ini mengandung makna, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, memberikan pertolongan kepadamu dan melindungimu dari dosa-dosa yang mendatang, mendapatkan rahmat dan menunjukkan pada kebaikan serta keselamatan dari dosa-dosa yang akan dating. Doa yang diucapkan oleh penulis rahimahullah ini menunjukkan perhatian dan kasih saying beliau kepada pembaca serta bertujuan baik kepada para pembaca.

[3] Masalah-masalah yang disebutkan oleh penulis rahimahullah disini meliputi seluruh ajaran agama secara menyeluruh yang seharusnya menjadi perhatian karena manfaatnya yang besar.

[4] Ma’rifatullah, mengenal Allah. Maknanya adalah mengenal apa yang di syariatkanNya, tunduk dan patuh kepadaNya, serta berhukum dengan syari’at-syari’atNya yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang hamba yang dapat mengetahui dan mengenal RabbNya yaitu dengan memperhatikan ayat-ayat syar’iyyah yang terdapat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam serta memperhatikan ayat-ayat kauniyah yang terdapat pada makhluk-makhluk Allah.

Semakin seseorang itu memperhatikan ayat-ayat syar’iyah dan kauniyah tersebut, maka ia akan semakin bertambah pengetahuannya tentang penciptanya dan Rabb yang diibadahinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ ،  وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”(QS. Adz-Dzariyat; 20-21).

b. Ilmu Mengetahui Nabi Allah

c. Ilmu Mengetahui Agama Allah Dengan Dalil.

وَمَعْرِ فَةُ نَبِيِّهَ(1) صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمْ, وَمَغْرِفَةُ دِيْنِ الإسْلَامْ(2) بِا لْأَدِلَّةِ(3

“Kemudian mengenal NabiNya(1) dan mengenal Dien Al-Islam(2) berdasarkan dalil-dalil(3)

 [1] Yaitu mengetahui dan mengenal Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan pengetahuan yang mengakibatkan seseorang dapat menerima setiap apa yang dibawa oleh beliau, yaitu berupa petunjuk dan agama yang haq (benar), serta membenarkan segala hal yang dikabarkannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi setiap apa yg dilarangnya, dan menjadikan syari’at sebagai sumber hokum, serta ridha (menerima) terhadap ketentuan  yang ditetapkannya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

 فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. AN –Nisa’: 65)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An- nisa :59).

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Qs. An Nuur; 63)

Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan,” Tahukah kalian apa itu fitnah? Fitnah adalah perbuatan syirik, sekiranya sesorang membantah sebagian firmanNya, dan terdapat sedikita penyimpangan yang terlintas dalam hatinya maka ia akan binasa.”

[2] Adapun pengetahuan mengenai dienulislam ,maka islam secara umum adalah beribadah kepada Allah dengan syari’at yang telah di tetapkanNya, sejak Allah ‘azza wa jalla mengutus para Rasul hingga terjadinya hari kiamat. Seperti halnya yang telah Allah sebutkan dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa seluruh syari’at-syari’at terdahulu merupakan bukti ketundukan kepadaAllah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman mengenai Ibrahim,

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ 

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’ (QS. AL-Baqarah:128)

 Sedangkan islam dalam makna khusus; yaitu setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah khusus pada syari’at yang dibawa oleh Nani shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak di utus melainkan untuk menghapus seluruh syari’at agama-agama terdahulu. Sehingga barangsiapayang mengikutinya maka ia adalah seorang muslim,sedangkan yang menentangnya dia bukanlah seorang muslim. Pra pengikut rasul di zaman mereka disebut muslim. Orang yahudi adalah seorang muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam. Orang –orang Nasrani adalah muslim pada zaman Nabi Isa ‘alaihissalam. Adapun setelah diutusnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka mengkufurinya makamereka bukan muslim.

Dienulislam inilah satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla yang dapat memberikan manfaat bagi penganutnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran:19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”(Qs. Ali Imran :85).

Islam inilah yang disebut oleh Allah ‘azza wa jalla sebgagai karunia Nya kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Allah ‘azza w1a jalla berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia” (Qs. Al fath:29).

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul”.(Qs. Ali Imran:144).

Adapun bedasarkan dalil-dalil ‘aqli adalaah dengan memikirkan dan memperhatikan mukjizat-mukjizat  beliau yang paling agung, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla yang mengandung berita-berita benar dan bermanfaat serta hukum-hukum yang memberikan maslahat dan keadilan. Serta beberapa peristiwa luar biasa yang terjadi pada beliau, dan kabar-kabar yang beliau sampaikan mengenai perkara ghaib yang tidak mungkin bias beliau beritahukan kecuali berdasarkan informasi dari wahyu dan sebagaimana yang telah dibuktikan oleh beberapa peristiwa yang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: