Ustadz Maududi Abdullah Ingatkan Pentingnya Mencintai Akhirat

CIREBON – Masjid Jami’ Assunnah Cirebon kembali menjadi tempat berkumpulnya kaum muslimin dalam kegiatan Tabligh Akbar yang digelar pada Ahad, 6 September 2026. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Maududi Abdullah, Lc. menyampaikan kajian bertema tentang hakikat kehidupan dunia serta pentingnya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama seorang muslim.
Dalam kajiannya, Ustadz Maududi Abdullah, Lc. mengawali pembahasan dengan menjelaskan bahwa agama Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Seluruh ibadah dan syariat yang Allah Ta’ala tetapkan memiliki hikmah dan kesesuaian dengan kebutuhan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Dunia Hanyalah Tempat Persinggahan
Dalam kesempatan tersebut, jamaah juga diingatkan tentang hakikat perjalanan hidup manusia. Setiap pergantian hari pada hakikatnya berarti berkurangnya usia dan semakin dekatnya manusia kepada kematian.
Setelah kehidupan dunia berakhir, manusia akan memasuki alam Barzakh sebagai pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Karena itu, seorang muslim hendaknya memahami bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir dari perjalanan.
Ustadz Maududi Abdullah, Lc. menjelaskan bahwa manusia memang hidup dan beraktivitas di dunia, namun bukan untuk menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ
“Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
(QS. Al-Baqarah: 36)
Dunia merupakan tempat persinggahan yang memiliki batas waktu. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjadikan akhirat sebagai tujuan dan menjadikan kehidupan dunia sebagai sarana untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
“Dunia telah pergi menjauh, dan akhirat telah datang mendekat. Masing-masing dari keduanya memiliki anak atau pengikut. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah waktu untuk beramal tanpa hisab, sedangkan besok adalah waktu untuk hisab tanpa amal.”
Cinta Dunia dan Kecintaan kepada Akhirat
Cinta terhadap dunia dan berbagai kenikmatannya merupakan sesuatu yang dekat dengan hati manusia. Harta, keluarga, kedudukan, dan berbagai bentuk kesenangan duniawi memiliki daya tarik yang besar.
Namun, Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan seluruh kenikmatan dunia. Harta dan berbagai nikmat yang Allah berikan dapat menjadi sarana menuju kebaikan apabila diperoleh dan digunakan dengan cara yang benar.
Terdapat dua pertanyaan penting yang harus dipertanggungjawabkan manusia berkaitan dengan harta yang dimilikinya:
- Dari mana harta tersebut diperoleh?
- Untuk apa harta tersebut dibelanjakan?
Seorang muslim diperintahkan untuk mencari kebahagiaan akhirat melalui nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, tanpa melupakan bagian yang halal dari kehidupan dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْأخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi.”
(QS. Al-Qasas: 77)
Allah juga menegaskan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal dibandingkan kehidupan dunia.
Keutamaan Mereka yang Mengutamakan Akhirat
Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang menjadikan akhirat sebagai tujuan. Kecintaan kepada akhirat akan mendorong seseorang untuk beramal dengan ikhlas serta mengharapkan balasan dari Allah semata.
Hal tersebut sebagaimana tergambar dalam firman Allah Ta’ala pada Surah Al-Insan ayat 9 hingga 11, tentang orang-orang yang memberikan makanan kepada orang lain semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah dan tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terima kasih.
Allah Ta’ala kemudian menjanjikan perlindungan dari kesulitan pada hari akhirat serta memberikan kejernihan wajah dan kegembiraan kepada mereka.
Salah satu contoh kecintaan kepada akhirat juga terlihat dalam kisah sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika sedang sakit dan memiliki keinginan untuk memakan anggur, beliau justru memilih memberikan anggur yang dibelinya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Peristiwa tersebut terulang hingga beberapa kali, menunjukkan betapa besar keinginan beliau untuk mendahulukan kepentingan orang lain dan mengharapkan balasan dari Allah Ta’ala.
Jangan Tertipu dengan Kenikmatan Dunia
Ustadz Maududi Abdullah, Lc. juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada dunia dan kecintaan kepada akhirat tidak dapat memiliki kedudukan yang sama dalam hati. Salah satunya akan lebih dominan.
Banyak manusia lebih memilih dunia karena kenikmatannya dapat dilihat dan dirasakan secara langsung. Namun, Allah Ta’ala mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.”
(QS. Ali Imran: 185)
Karena itu, seorang muslim perlu terus mendidik hati agar tidak menjadikan dunia sebagai sesuatu yang terlalu besar.
Belajar Memandang Dunia sebagai Sesuatu yang Kecil
Salah satu cara untuk menumbuhkan kecintaan kepada akhirat adalah dengan melatih diri untuk memandang kenikmatan dunia sebagai sesuatu yang sementara dan kecil dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ مَتَٰعُ ٱلدُّنْيَا قَلِيلٌ وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ
“Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. An-Nisa: 77)
Jamaah juga diajak untuk mengambil pelajaran dari kisah Qarun. Ketika Qarun keluar dengan kemegahan dan kekayaannya, sebagian manusia yang menginginkan kehidupan dunia merasa kagum dan berharap memiliki kekayaan seperti dirinya.
Namun, Allah Ta’ala justru memuji orang-orang yang memiliki ilmu dan memahami bahwa pahala Allah jauh lebih baik daripada seluruh kemegahan dunia.
Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak terus-menerus melihat kepada kenikmatan dunia yang dimiliki oleh orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar dalam urusan dunia, seseorang melihat kepada mereka yang berada di bawahnya agar tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan.
Menjadi Anak-Anak Akhirat
Melalui Tabligh Akbar ini, jamaah diingatkan kembali bahwa kehidupan dunia merupakan perjalanan yang sangat singkat, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat kembali yang kekal.
Harta, kedudukan, keluarga, dan berbagai kenikmatan dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan. Namun, semuanya harus ditempatkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan mempersiapkan bekal menuju negeri akhirat.
Semoga nasihat yang disampaikan dalam Tabligh Akbar bersama Ustadz Maududi Abdullah, Lc. menjadi pengingat bagi seluruh jamaah untuk senantiasa memperbaiki niat, memperbanyak amal saleh, serta menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dalam menjalani kehidupan.
Jadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tujuan. Karena hari ini adalah kesempatan untuk beramal, sedangkan esok adalah waktu untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal.





