Pembinaan Karyawan Bersama Ustadz Firanda Andirja, Lc.

Rangkuman Materi Pembinaan Karyawan Yayasan Assunnah
Bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, MA -hafidzahullah-
Sabtu, 16 Agustus 2025 | Masjid Assunnah Cirebon
Alhamdulillah, Yayasan Assunnah Cirebon kembali mengadakan kegiatan pembinaan karyawan yang diisi oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, MA -hafidzahullah-. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025, bertempat di Masjid Assunnah Cirebon.
Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan materi penting tentang peran dakwah sebagai amalan terbaik serta adab-adab yang harus dijaga oleh setiap dai maupun insan yang terlibat dalam kegiatan dakwah.
1. Dakwah, Amalan Terbaik
Allah Ta’ala berfirman:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’”
(QS Fussilat: 33)
Melalui dakwah, para nabi dan rasul mengingatkan manusia tentang tujuan hidup, yakni untuk beribadah kepada Allah dan mengingat akhirat. Bahkan Allah memuji para nabi sebagai sosok yang senantiasa mengingatkan umat kepada negeri akhirat (QS Shad: 45–46).
Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang ketika dilihat dapat mengingatkan orang lain kepada Allah (HR. Ibnu Majah).
2. Besarnya Godaan bagi Para Dai
Amalan terbaik tentu memiliki tantangan yang besar. Seorang dai akan menghadapi berbagai ujian, baik dari luar maupun dari dalam dirinya. Hal ini sebagaimana para nabi dan rasul yang juga menghadapi perlawanan keras dari kaumnya.
3. Dai, Pengikut Sejati Para Nabi
Allah berfirman:
“Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas hujjah yang nyata.”
(QS Yusuf: 108)
Dengan ayat ini, Allah menegaskan bahwa seorang dai sejati adalah pengikut para nabi, yakni mereka yang menyeru manusia kepada tauhid dengan hujjah yang jelas.
4. Rambu-Rambu dalam Berdakwah
Dalam berdakwah, seorang dai harus memperhatikan rambu-rambu syar’i. Di antaranya adalah:
a. Ikhlas dan Menjaga Hati
Semua amalan akan sia-sia kecuali dilakukan dengan ikhlas karena Allah (QS Al-Qashash: 88).
b. Menjadi Teladan
Dai harus berusaha mengamalkan apa yang ia sampaikan, dan menjauhi apa yang ia larang (QS Ash-Shaff: 2, QS Al-Baqarah: 44, QS Hud: 88).
c. Saling Bekerja Sama (Ta’awun)
Setiap peran dalam dakwah, sekecil apa pun, memiliki nilai penting. Sebagaimana Nabi ﷺ sangat menghargai seorang wanita tua yang biasa membersihkan masjid.
d. Menjaga Amanah
Dai dan lembaga dakwah harus amanah, termasuk dalam mengelola dana umat. Rasulullah ﷺ mencontohkan dengan segera membagikan harta yang ada agar tidak menghalangi beliau dalam ibadah (HR. Bukhari).
e. Membiasakan Saling Menasihati
Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya (HR. Bukhari). Maka seorang dai harus siap memberi dan menerima nasihat dengan cara yang baik.
f. Waspada Terhadap Fitnah Lawan Jenis
Syaitan menjadikan fitnah lawan jenis sebagai salah satu pintu terbesar untuk menjerumuskan manusia. Karena itu, seorang dai wajib menjaga diri agar tidak membuka celah terhadap fitnah ini.
Penutup
Dari pembinaan ini, dapat kita simpulkan bahwa dakwah adalah amalan terbaik, namun juga penuh ujian. Karena itu, setiap dai maupun insan yang terlibat dalam dakwah hendaknya melandasinya dengan keikhlasan, keteladanan, kerja sama, amanah, sikap saling menasihati, serta kehati-hatian dari fitnah dunia.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam berdakwah, ikhlas karena-Nya, serta dimudahkan menuju kebaikan dunia dan akhirat.




