فقه الأضحية (Fikih Tentang Qurban)

FIKIH TENTANG KURBAN

Penulis: Muadin abu  Ayman

1. Mukaddimah

Setelah melaksanakan shalat ‘iedul adlha biasanya terlihat sebagian kita umat Islam menyembelih binatang ternak, kambing atau sapi. Kita biasanya menjadi penonton, ketika panitia korban di sebuah masjid menyembelih korban. Bahkan kita tidak termasuk orang yang berkurban, dengan berbagai alasan.

Yang paling sering kita dengar alasannya adalah bahwa korban tidak wajib. Sehingga kita melihat saudara kita yang muslim mampu memiliki dua sampai tiga  telepon genggam, bahkan lebih, dari pada berkorban satu hewan ternak. Bahkan ketika dia mendengar bahwa ada produk keluaran baru dari telepon genggam, sebagian kita penasaran ingin memilikinya. Dengan berbagai alasan pula uang diada-adakan untuk mewujudkan keinginan tersebut.  

Bandingkan dengan keadaan apabila kabar tersebut adalah mengatakan bahwa si fulan setiap tahun berkurban, dengan berbagai alasan pula kebanyakan dari kita akan berusaha untuk menghindar dari mengikuti apa yang dilakukan si fulan, dengan alasan yang paling mudah seraya bergumam dalam hati: si fulan kan berduit… , dan segudang alasan lain yang pada hakikatnya alasan tersebut dilandasi oleh rendahnya keinginan kita untuk ibadah yang satu ini, ditambah ketidaktahuan kebanyakan kita tentang fikih dan hukum-hukum yang berkaitan dengan kurban.

Maka dalam kesempatan yang baik ini kami ulas dengan ringkas tentang fikih kurban, yang dalam bahasa arab kurban dikenal denagn udlhiyyah. Kemudian  dalam pembahasan selanjutnya akan digunakan kata udhiyyah dan kurban secara bergantian untuk mengakrabkannya di lidah dan telinga kita. Maka dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala semata saya tulis artikel ini.  

2. Definisi al-Udlhiyyah )  الأضحية )

Udlhiyyah )  أضحية ) disebut juga Idlhiyyah  ( إضحية ) ( dengan kasrah pada hamzah ), jamak dari dua kata ini adalah Adlohi ) أضاحي ). Disebut juga Dlohiyyah )  ضحية ), jamaknya Dlohaya ) ضحايا ). Dan juga disebut Adlhatun )  أضحاة ) yang jamaknya Adlha ( أضحى ), dari sinilah asal kata yaumul Adlha ( يوم الأضحى  ). Dinamakan demikian itu karena dilakukan pada waktu dluha. ( Syarhu shahih Muslim oleh al – imam an-Nawawi, hal: 1245 )

Pengertian Udlhiyyah adalah apa-apa yang disembelih dari binatang ternak ( yang berupa onta, sapi dan kambing ) pada hari raya ‘idul adlha dan tiga hari tasyrik, sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. ( Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, 1/449 ).

3. Dalil disyari’atkannya Udlhiyyah

Udlhiyyah disyari’atkan berdasarkan dalil dari al-Quran, sunnah dan ijma’. Adapun dalil-dalil tersebut adalah:

  • Al-Quran

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

{ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. } ( Q.S. Al-Kautsar: 2 )

Berkata sebagian ahli tafsir: yang dimaksud  ( dengan an-nahru ) adalah alUdlhiyyah yang dilakukan setelah shalat ‘ied ( al-adlha ). ( Adlwa al-Bayan, hal: 1117  ).

Allah Ta’ala mengkhususkan penyebutan dua ibadah ini karena keduanya merupakan diantara ibadah-ibadah yang utama dan upaya  pendekatan diri kepada Allah Ta’ala yang agung. Hal itu karena seseorang ketika berkorban, maka dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan apa-apa yang terbaik yang ia miliki dari hewan kurban dan penginfakkan harta yang ia ia cintai. ( Taisir al-Karimi ar-Rahman: 936, asy-syaikh as-Sa’di, dengan ringkas ).

  • As-sunnah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan, mengamalkan udlhiyyah dan menyetujui ( taqrir ) apa yang dilakukan sahabatnya dari pengamalan udlhiyyah ini, sehingga terkumpul pada ibadah udlhiyyah ini tiga macam sunnah, yaitu sunnah qauliyyah ( ucapan ), fi’liyyah ( perbuatan ) dan taqririyyah ( persetujuan ).

Adapun sunnah qouliyyah dalam masalah ini diantaranya adalah sabda beliau:

(من ضحى قبل الصلاة، فإنما ذبح لنفسه. ومن ذبح بعد الصلاة، فقد تم نسكه وأصاب سنة المسلمين) رواه مسلم: 1961

(Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat ‘iedul adlha, maka sembelihannya itu hanya untuk dirinya. Dan barang siapa yang menyembelih setelah shalat, maka telah sempurnalah kurbannya dan sesuai dengan sunnahnya umat Islam ) H.R. Muslim: “( 1961 ).

                                Sunnah fi’liyyah, diantaranya:

عن أنس رضي الله عنه ، قال: )ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين. ذبحهما بيده وسمى وكبر. ووضع رجله على صفاحهما. ) رواه مسلم: 1966

( Dari Anas radliyallahu ‘anhu beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkurban dengan menyembelih dua ekor kambing kibasy  ( biri-biri besar ), berwarna putih bercampur hitam, dan bertanduk bagus. Beliau sembelih dengan tangannya sendiri  seraya membaca basmalah dan takbir sambil meletakkan kaki beliau pada leher keduanya. ) H.R. Muslim: 1966.

Hadits senada juga diriwayatkan olem al-Imam al-Bukhari ( 5554 ).

                                Sunnah taqririyyah, diantaranya:

عن عقبة بن عامر  رضي الله عنه؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أعطاه غنما يقسمها على أصحابه ضحايا. فبقي عتود. فذكره لرسول الله صلى الله عليه وسلم. فقال: (ضح به أنت). رواه مسلم: 1965

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya seekor kambing, beliau membagi-bagikan kambing kepada para sahabatnya untuk mereka berkorban. Dari kambing-kambing tersebut tersisa anak kambing kacang yang berumur satu tahun yang menjadi bagianku, maka dilaporkanlah kepada beliau, beliaupun bersabda: ( Berkorbanlah kamu dengannya ).) H.R. Muslim: ( 1965 ).                               

  • Al-ijma’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau telah mengamalkan udlhiyyah ini. Beliaupun mengabarkan bahwa udlhiyyah merupakan sunnahnya kaum muslimin. Berdasarkan inilah kaum muslimin telah sepakat atas disyariatkannya udlhiyyah.

4. Hikmah disyariatkannya udlhiyyah

Diantara hikmah yang terkandung dalam syariat udlhiyyah, yang sebagian hikmahnya juga terdapat pada al-hadyu yang disembelih oleh orang yang berhaji baik qarin maupun tamattu’, adalah:

1. Mentauhidkan dan menyebut nama Allah Ta’ala, dimana orang yang berkurban menyebut nama Allah Ta’ala pada saat menyembelih kurbannya dan meniatkan sembelihannya untuk Allah Ta’ala semata . Hal itu sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام

{supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah Ta’ala pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah Ta’ala telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. } Q.S. Al-Hajj : 28.

Juga firman Allah Ta’ala:

 

 قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين.

{Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam.} Q.S. Al-An’am : 162

 

2.Bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala berupa binatang ternak yang telah dihalalkan dan ditundukkan untuk kita.

 كذلك سخرناها لكم لعلكم تشكرون

{ Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.} Q.S. Al-An’am : 162

 

3.Memberikan kesempatan kepada kaum muslimin untuk makan daging, khususnya fakir miskin pada hari-hari yang diberkahi yaitu ‘ied adlha dan hari-hari tasyrik, dimana pada hari-hari tersebut merupakan hari-hari makan,minum dan dzikrullah. Allah Ta’ala berfirman:

فكلوا منها وأطعموا البائس والفقير

{ Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. } Q.S. Al-Hajj : 28

فكلوا منها و أطعموا القانع والمعتر  .

{ Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. } Q.S. Al-Hajj : 36

4.Meneladani kisah ketaatan, pengorbanan dan rasa syukur nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihima assalam .

 

5.Hukum Udlhiyyah

Udlhiyyah wajib hukumnya bagi muslim yang mampu, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

 ( من كان له سعة و لم يضح فلا يقربن مصلانا )

( Barangsiapa yang memiliki keluasan rizki, kemudian tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami ).  H.R. Ibnu Majah: 3123

Berkata asy-syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi:

“Yang nyata bagiku pada perkara yang masih belum jelas padanya kejelasan hukum dari dalil-dalil atas suatu perkara tertentu, bahwasanya ditekankan pada seseorang untuk keluar dari perselisihan yang ada. Sehingga seseorang tidak meninggalkan udlhiyyah padahal dia memiliki kemampuan untuk melaksanakannya; karena  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( Tinggalkanlah apa-apa yang membuatmu ragu pada apa-apa yang tidak meragukanmu ). 

Maka tidak patut bagi orang yang mampu untuk meninggalkannya; karena dengan menunaikan udlhiyyah itulah didapat keyakinan bahwa tanggungan terbebaskan. “ ( Adlwa al-Bayan: 1120 )

Adapun perbedaan pendapat para ulama tentang masalah ini, maka bisa dikompromikan antara dalil-dalil yang ada, bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan udlhiyyah selain untuk diri beliau dan keluarganya, juga diniatkan untuk umatnya yang tidak mampu berkurban. Jadi umatnya yang tidak mampu udlhiyyah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah ber udlhiyyah untuknya.  Sebagaimana hal itu dipahami dari sabda beliau:

بسم اللّه واللّه أكبر، هذا عنِّي وعمَّن لم يضحِّ من أمتي

( Bismillah, Allahu akbar. Ya Allah ini dariku dan dari orang-orang yang tidak mampu berkurban dari umatku ) H.R. Abu Daud ( 2810 )

Berkata Syua’ib al-Arnauth dalam tahqiq dan takhrij Zaad al-Ma’ad ( 3:294 ): haditsnya menguat dan shahih dengan syahid-syahidnya.

Adapun yang  mampu berkurban maka wajib untuk melakukannya dengan dalil:

( يا أيها الناس! على كل أهل بيت، في كل عام، أضحية ) رواه ابن ماجه

( Wahai manusia! Wajib atas setiap rumah, dalam setaip tahun untuk udlhiyyah ) H.R. Ibnu Majah. ( Lihat permasalahan ini dalam “At-Ta’liqat ar-Radliyyah” 3:127)

                      

6.Syarat-syarat ternak yang dijadikan udlhiyyah ( lihat: Kitab al-Fiqhi al- Muyassar : 193 ).

a.Umur :

  • Onta: Telah sempurna berumur 5 tahun.
  • Sapi: Telah sempurna berumur 2 tahun.
  • Kambing kacang/jawa: Telah sempurna berumur 1 tahun.
  • Kambing domba: Telah sempurna berumur 6 bulan.

 

b.Kondisi kesehatan:

Disyaratkan ternak yang akan dijadikan korban di atas terhindar dari cacat yang mengakibatkan berkurangnya daging. Sehingga tidak sah kurban apabila ternaknya kurus sampai tak bersum-sum. Yang jelas-jelas pincang, buta, dan sakit.

(لا يضحى بالعرجاء بينٌ ظلعها ولا بالعوراء بينٌ عورها ولا بالمريضة بينٌ مرضها ولا بالعجفاء التي لا تنقى)

( Tidak boleh berkurban dengan ternak yang nyata-nyata: pincang, buta, sakit dan kurus tak bersum-sum.) H.R. At-Tirmidzi ( 1497 ). Shahih sebagaimana dikatakan Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Zaad ( 3: 294 ).

 

c.Ternak yang diutamakan untuk udlhiyyah ( lihat: Talkhish Kitab Ahkam al- Udlhiyyah wa adz-Dzakah: 17 ):

  • Jenisnya: secara berurut adalah: Onta, kemudian sapi apabila dikurbankan seluruhnya. Setelah itu domba lalu kambing kacang. Kemudian sepertujuh onta lalu sepertujuh sapi.
  • Sifatnya: gemuk, berdaging banyak, sempurna bentuknya dan bagus sebagaimana dalam hadits Anas radliyallahu ‘anhu yang telah lalu. Demikian pula diutamakan yang berbulu hitam di mulut, sekitar kedua mata dan ujung-ujung kakinya. Selain itu juga, diutamakan yang jantan.

 

d.Dimakruhkan ternak yang memiliki sifat berikut ( lihat: Talkhish Kitab Ahkam al- Udlhiyyah wa adz-Dzakah: 19 ):

  • Yang terpotong setengah atau lebih tanduk atau telinganya, demikian pula ekornya dan kemaluannya.
  • Yang terbelah telinganya melebar baik dari depan maupun belakang, atau terbelah memanjang, juga yang berlubang telinganya.
  • Yang kurus tapi tidak sampai menghilangkan sum-sum.
  • Yang tidak bertanduk sama sekali.
  • Yang buta sebelah matanya.
  • Yang lemah, sehingga tidak mampu menyusul teman-temannya.
  • Yang tanggal sebagian giginya.

 

7.Diperbolehkan satu ekor kambing untuk kurban satu orang beserta keluarganya.

)  كان الرجل، في عهد النبي صلى الله عليه وسلم، يضحى بالشاة عنه وعن أهل بيته. فيأكلون ويطعمون)

( Dahulu satu orang, pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  berkurban seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, mereka memakan dari daging tersebut dan memberi orang lain. ) H.R. Ibnu Majah ( 3147 )

. Demikian pula sepertujuh onta atau sapi, hukumnya sama denagn satu ekor kambing.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما: ( نحرنا مع رسول الله عام الحديبية البدنة عن سبعة و البقرة عن سبعة ) مسلم

Dari jabir bin abdillah berkata: ( Dulu kami bersama Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban pada tahun hudaibiyyah  seekor onta untuk 7 orang, dan seekor sapi untuk 7 orang.) H.R. Muslim ( 1355 ).

 

8.Bagi orang yang hendak berkurban, ketika telah memasuki bulan dzulhijjah, diharamkan baginya mengambil sesuatu dari rambut, bulu, kuku maupun kulit sampai dia menyembelih kurbannya. Tidak demikian halnya dengan keluarganya. Apabila dia mengambil sesuatu dari itu dia harus bertaubat kepada Allah Ta’ala dan tidak mengulanginya lagi, tidak ada kaffarah atasnya. Dan tidak mengapa melakukan larangan tersebut untuk sesuatu yang darurat, seperti pengobatan.

 

(إذا دخلت العشر، وأراد أحدكم أن يضحي، فلا يمس من شعره وبشره شيئا). رواه مسلم : 1977

 

( Apabila telah masuk sepuluh hari awal dari bulan dzulhijjah, dan salah seorang diantara kalian hendak berkurban, maka janganlah dia memotong  rambut dan bulu dibadannya sedikitpun. )  H.R. Muslim ( 1977 ).

Dalam  riwayat lain:

( فليمسك عن شعره وأظفاره ).

(  maka janganlah dia memotong  rambut dan kukunya. )  

 

9.Waktu penyembelihan dimulai setelah usai menunaikan shalat ‘ied al-adlha sampai tenggelamnya matahari pada terakhir hari tasyrik. Lebih utama disembelih sendiri setelah menunaikan shalat ‘ied.

 

عن البراء رضي الله عنه قال:سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يخطب فقال: (إن أول ما نبدأ به من يومنا هذا أن نصلي، ثم نرجع فننحر، فمن فعل هذا فقد أصاب سنَّتنا ).  رواه البخاري  مع الفتح ( 5560 )

 

“ Dari al-Barra’ rodliyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah: ( Sesungguhnya yang  pertama kali kita lakukan pada hari ini adalah shalat ( ‘ied ) lalu kita pulang kemudian menyembelih ( kurban ). Barangsiapa melakukan seperti ini, maka sungguh dia telah sesuai dengan sunnah kita. ) H.R. Al-Bukhari  (5560).

Dalam riwayat Imam Ahmad dan ibnu Hibban yang dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Zaad ( 3: 294 ):

 

( كل أيام التشليق ذبح )

 

( Seluruh hari Tasyriq adalah hari-hari untuk berkurban )

 

  • Setelah itu dagingnya sepertiga untuk dimakan sendiri, sepertiga disedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga dihadiahkan. Dagingnya boleh disimpan untuk beberapa hari, kecuali apabila terjadi kelaparan dan paceklik. Allah Ta’ala berfirman:

} فكلوا منها وأطعموا البائس والفقير { الحج:28

{ Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. } Q.S. Al-Hajj : 28

} فكلوا منها أطعموا القانع والمعتر {الحج : 36 .

{ Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. } Q.S. Al-Hajj : 36

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:    ( كلوا و أطعموا و ادخروا ) رواه البخاري

( makanlah dari daging kurban, berilah makan orang-orang dengannya dan simpanlah ) H.R. Al-Bukhari.

Barkata syaikh al-‘Utsaimin: Al-ith’am (memberi makan) meliputi menghadiahkannya  kepada orang  kaya dan menyedekahkannya kepada orang fakir.

  • Apabila disembelih oleh tukang jagal, maka ongkos sembelih dan menguliti tidak boleh diambil dari kulit atau daging kurban.

 

10.Hal-hal yang disunnahkan ketika menyembelih:

a.Menghadapkan sembelihannya ke arah kiblat.

b.Mengucapkan bismillah dan takbir sebelum menyembelih ( بسم الله و الله أكبر اللهم تقبل مني ).

c.Meletakkan kaki diatas leher kurban.

 

Demikian و الله تعالى أعلى و أعلم

 

Sumber rujukan:

  1. Adlwa al-Bayan fi idlohi al-quran bi al-quran, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi ( 1393 H ), tashih dan takhrij: Muhammad abdul Aziz al-Khalidi, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1424 H-2003 M, Beirut-Libanon.
  2. Taisir al-Karimi ar-Rahman fi tafsiri kalami al-Mannan , Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, tahqiq: Abdurrahman bin Ma’alla al-Luwaihiq. Muassassah ar-Risalah,1423 H- 2002 M, Beirut-Libanon.
  3. Fathul bari syarhu shahih al-Bukhari ( al-juzu al-‘asyiru ), al-Imam Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani ( 773 H-852 H ), ta’liq: Al-‘allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Maktabah ash-Shafa, 1424 H-2002 M, Kairo-Mesir.
  4. Al-Minhaj fi Syarhi shahihi Muslim bin al-Hajjaj, Muhyi ad-din abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri an-Nawawi ( 631- 676 ), Baitul Afkar ad-Dauliyyah, 1421 H-2000 M, Riyad- KSA, Amman-Yordania.
  5. Mausu’ah al-Hadits an-Nabawi asy-Syarif, al-Ishdar ats-Tsani, Barnamij Majjani, Intaj Mauqi’ ruh al-Islam.
  6. Zaad al-Ma’ad fi Hadyi Khairi al-‘Ibad, Syamsu ad-Din abi Abdillah Muhammad bin abi Bakr az-Zar’i ad-Dimasyqi ( 691-751 H ), tahqiq ta’liq dan takhrij: Syu’aib al-Arnauth dan Abdul qadir al-Arnauth, Muassasah ar-Risalah, 1421 H-2000 M, Beirut-Libanon.
  7. At-Ta’liqat ar-Radliyyah ‘ala ar-Raudlatu an-Nadiyyah lil ‘allamah Shiddiq Hasan Khan, al-‘Allamah al-Muhaddits asy-syaikh Muhammad Nashir ad-Din al-Albani, tahqiq: Ali bin Hasan binAli bin Abdul Hamid al-Halabi al-Atsari, Dar ibni ‘Affan, al-mujallad ats-tsalits.
  8. Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Dar al-‘Ashimah, 1421 H-2001 M, Riyad- KSA.
  9. Shahih Fiqhi as-Sunnah wa adillatuhu wa taudlihu madzahibi al-Aimmah, abu Malik Kamal bin as-Sayyid salim, Daru at-Taufiqiyyah li at-Turats, 2010 M, Kairo – Mesir.
  10. Talkhish Kitab Ahkam al- Udlhiyyah wa adz-Dzakah, Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Dar al-Minhaj, 1424 H-2003 M, ‘Unaizah-KSA.
  11. Kitab al-Fiqh al-Muyassar fi dloui al-Kitab wa as-Sunnah, ditulis oleh beberapa ulama, diterbitkan oleh Majma’ Malik Fahd untuk percetakan mushaf syarif, 1424 H, al-Madinah al-Munawwarah, KSA. 
  12. http://library.thinkquest.org/C0125920/hajj/adha.htm

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: