Tafsir Surat Al-Hasyr {Bagian 3}

Al-Hasyr, Ayat 21-24

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ، هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ، هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ، هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir (21) Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (22) Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan (23) Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (24)

Penjelasan Tentang Keagungan Al-Quran

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman menjelaskan keagungan al-Qur-an serta me- nerangkan tentang ketinggiannya. Hendaknya hati khusyu’ serta mengamati dengan seksama tatkala mendengarkannya, karena al-Qur-an itu mengandung janji dan ancaman yang pasti. {لَوْ أَنزلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ} “Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur-an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” Yakni, apabila gunung yang keras itu mampu memahami kandungan al-Qur-an, niscaya ia akan takut kepada Allah . Maka bagaimana mungkin hati kalian (wahai manusia) tidak takut kepada Allah , sedangkan kalian mampu memahami perintah-Nya dan kalian telah merenungkan kitab suci-Nya. Oleh karena itu Allah berfirman, {وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ}”Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.”

Dalam hadits mutawatir disebutkan bahwa Rasulullah dibuatkan mimbar. Sebelumnya beliau biasa berpidato di samping salah satu batang pohon kurma yang ada di dalam masjid. Mimbar yang baru itu pun diletakkan. Tatkala beliau melewati batang pohon kurma tersebut menuju mimbar untuk berkhutbah, maka batang pohon kurma itu merintih laksana rintihan seorang bayi yang sedang dibujuk untuk diam. Itu karena sebelumnya ia senantiasa mendengarkan al-Qur-an dan wahyu di sisinya.

Dalam beberapa riwayat hadits ini, Imam al-Hasan al-Bashri berkata mengomentari hadits ini, “Kalian lebih berhak rindu kepada Rasulullah daripada batang kurma itu.” Demikian juga yang disebutkan dalarn ayat ini. Jika sebuah gunung yang tuli dapat men- dengar serta memahami firman Allah, maka niscaya ia akan takut kepada-Nya. Lalu bagaimana dengan kalian yang mampu mendengar atau memahami?

Selain itu Allah Subhanallahu wa ta’ala juga telah berfirman, {وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الأرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى} “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab śuci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu al-Qur an itulah dia).” (QS. Ar- Ra’d: 31) Makna ayat ini telah disebutkan sebelumnya yang artinya bahwa bacaan itu adalah al-Qur-an.

Allah juga telah berfirman,

{وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ}

“Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai- sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 74)

Pengagungan Allah Dengan Nama Dan Sifat-Nya

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ}”Dia lah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Dia dan tidak ada Rabb kecuali Dia saja. Dan tidak ada ilah (sesembahan yang haq) bagi alam semesta kecuali Allah . Semua sembahan selain-Nya adalah bathil. Dia-lah Yang mengetahui alam ghaib dan nyata, yakni mengetahui semua makhluk di alam nyata atau alam ghaib, sehingga tidak ada sesuatu pun di langit dan bumi yang luput dari ilmu dan pengawasan-Nya, baik kecil maupun besar bahkan atom yang berada di kegelapan sekalipun (sangat jelas keadaannya di sisi Allah ).

Mengenai Firman-Nya, {هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ}”Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,” telah dijelaskan pada permulaan kitab tafsir ini, sehingga tidak perlu diulangi. Maksudnya Dia-lah Pemilik rahmat yang luas bagi seluruh makhluk. Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang di dunia dan akhirat. Allah telah berfirman, {وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. AI-A’raaf: 156) Dan firman-Nya, 4 {كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ} “Rabb-mu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.” (QS. Al-An’aam: 54) Juga firman-Nya, {قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ} “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendáklah dengan itu mereka bergem- bira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ} “Dia- lah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Raja,”yakni Raja segala sesuatu, Yang mengaturnya tanpa halangan dan rintangan apa pun.

Firman-Nya, {الْقُدُّوسُ} “Yang Mahasuci,” menurut Wahb bin Munabbih berarti ath-Thaahir (Yang Mahabersih). Menurut Mujahid dan Qatadah berarti al-Mubaarak (Mahasuci). ” Ibnu Juraij berkata, “Disucikan oleh para Malaikat.” {السَّلامُ} “Yang Mahasejahtera,” yakni selamat dari segala aib dan kekurangan karena kesempurnaan dzat-Nya, sifat-Nya, serta perbuatan-Nya.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {الْمُؤْمِنُ} “Yang Mengaruniakan keamanan.” Dari Ibnu ‘Abbas , ad-Dhahhak berkata, “Maksudnya Allah memberikan rasa aman kepada makhluk-Nya bahwa Dia tidak akan pernah menzhalimi mereka, (Allah akan berbuat adil kepada mereka). “

Qatadah berkata, “Dia melalui firman-Nya memberikan rasa aman bahwa Dia adalah Haqq (ilah yang sebenarnya).” Ibnu Zaid berkata, “Artinya Dia memercayai keimanan orang-orang mukmin kepada-Nya.”

Firman-Nya, {الْمُهَيْمِنُ} “Yang Maha Memelihara,” Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma dan yang lainnya berkata, “Artinya adalah Yang Maha menyaksikan amalan-amalan para makhluk-Nya.” Artinya, Dia-lah Pengawas makhluk-Nya, seperti firman-Nya,  “Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu,” (QS. Al-Mujaadilah: 6) dan firman-Nya, ثُمَّ اللّٰهُ شَهِيْدٌ عَلٰى مَا يَفْعَلُوْنَ “Dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan,” (QS. Yunus: 46) dan firman-Nya, {أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ} “Maka apakah Rabbyang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?” (QS. Ar-Ra’d: 33)

Firman-Nya, {الْعَزِيزُ} “Yang Mahaperkasa,” yakni Yang telah menguasai segala sesuatu dan menundukannya sehingga Dia takkan terkalahkan karena keperkasaan, keagungan dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ} “Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan, “yakni tidak ada yang pantas menyandang keagungan itu melainkan hanya milik-Nya, sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits shahih:

العَظَمة إِزَارِي، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا عَذَّبته

“Keagungan adalah sarung kebesaran-Ku dan keangkuhan adalah selendang-Ku. Barangsiapa berani menanggalkan salah satunya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya.”

Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ} “Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Dan setelah itu Dia berfirman, {هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ} “Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa. “Lafazh al-Khalqu di sini artinya merancang. Al-Baari artinya mewujudkan apa yang telah dirancang dan ditetapkan ke dalam bentuk wujud. Tidak ada yang mampu merancang sesuatu, menyu- sunnya dan mewujudkannya kepada bentuk (yang paling sempurna, tidak kesalahan padanya) kecuali Allah .

Firman-Nya, {الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ} “Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa,” yakni Yang apabila menghendaki sesuatu, Dia akan berfirman “Jadilah,” maka sesuatu itu akan ada, sesuai dengan sifat serta bentuk yang diinginkan, sebagaimana firman-Nya, {فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ} “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu.” (QS. Al-Infithaar: 8) Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {الْمُصَوِّرُ} “Yang Membentuk Rupa,” yakni Yang mewujudkan segala sesuatu sesuai dengan sifat yang dikehendaki-Nya.

Asmaa-Ul Husnaa

Firman-Nya: {لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى} “Yang Mempunyai Asmaa-ul Husna (Nama-Nama yang paling indah),” hal ini telah dijelaskan pada penafsiran ayat yang ada pada surat al-A’raaf (yakni ayat 180). Berikut ini kami sebutkan sebuah hadits yang tercantum dalam ash-Shahiihain dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دخل الجنة، وهو وتر يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menguasainya (yakni memahami, menghafal dan mengamalkannya) maka dia masuk Surga. Dan Dia itu Witr (ganjil/Esa) serta.”

 

Segala Sesuatu Bertasbih Kepada Allah

Firman-Nya, {يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ} “Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi,” ini sebagaimana firman-Nya, {تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا} “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Israa’: 44)

Firman Allah Ta’ala berikutnya, {وَهُوَ الْعَزِيزُ} “Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa,” yakni tidak ada yang menghalangi dan mengalahkan-Nya. {الحَكِيمُ} “Lagi Mahabijaksana,” yakni pada ketetapan-Nya baik bersifat syar’i maupun qadari.

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: