ARTIKELTafsir Al-Qur'an

Tafsir Surat Nuh {Bagian 1}

Tafsir Surat Nuh

( Nabi Nuh )

Surat Makkiyyah

Surat Ke-71 : 28 Ayat

 

 

بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Nuh, Ayat 1-4

اِنَّآ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖٓ اَنْ اَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ، قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ، اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاتَّقُوْهُ وَاَطِيْعُوْنِ، يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ اِذَا جَاۤءَ لَا يُؤَخَّرُۘ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” (1) Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu (2) (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku (3) niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada batas waktu yang ditentukan. Sungguh, ketetapan Allah itu apabila telah datang tidak dapat ditunda, seandainya kamu mengetahui.” (4)

Dakwah Nuh Kepada Kaumnya

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman mengabarkan tentang Nuh ‘Alaihi Sallam. Dia mengutusnya seraya memerintahkannya untuk mengingatkan kaumnya dari hukuman Allah sebelum siksa itu menimpa mereka. Akan tetapi apabila mereka bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala, maka Allah Subhanallahu wa ta’ala akan meniadakan hukuman itu.

Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {اَنْ اَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ} “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya adzab yang pedih. Nuh berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,”yakni peringatan yang sangat jelas, perintah yang sangat nyata dan gamblang. {اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاتَّقُوْهُ} “(Yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya,” yakni tinggalkanlah larangan-larangan-Nya dan jauhilah maksiat kepada- Nya. {وَاَطِيْعُوْنِ}”Dan taatlah kepadaku,” yakni dalam perkara yang aku perintahkan dan urusan yang aku larang.

Jika kalian melakukan itu semua, {يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ} “Niscaya Allah akan kalian melaksanakan perintahku dan memercayai risalah bawa, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian.

Mengenai huruf  مِّنْ pada ayat ini, ada yang mengatakan bahwa ia adalah tambahan (zaa-idah). Akan tetapi pendapat yang menyatakan bahwa مِّنْ adalah zaa-idah dalam kalimat positif adalah jarang.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { وَيُؤَخِّرْكُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى} “Dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan,” yakni menambahkan umur kalian dan menahan siksaan dari kalian. Namun jika kalian tidak menjauhi apa yang Dia larang, niscaya Dia akan menurunkan siksa itu kepada kalian. Ayat ini merupakan dalil bagi orang yang berpendapat bahwa ketaatan, perbuatan yang baik dan silaturahim dapat memperpanjang umur yang sebenarnya, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits:

صِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ فِي الْعُمْرِ

“Silaturahim itu menambah umur.”

Firman-Nya, { اِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ اِذَا جَاۤءَ لَا يُؤَخَّرُۘ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ} “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalan kamu mengetahui,” yakni segeralah untuk melakukan ketaatan sebelum hukuman itu datang, karena jika Allah telah memerintahkan untuk menurunkan siksa, tidak ada yang dapat menahan atau menolaknya. Karena Dia-lah Yang Mahaagung, Yang mengalahkan segala sesuatu, Yang Maha Mahaperkasa, di mana semua makhluk tunduk kepada keperkasaan-Nya.

Nuh, Ayat 5-20

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًا، فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْٓ اِلَّا فِرَارًا، وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا، ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا، ثُمَّ اِنِّيْٓ اَعْلَنْتُ لَهُمْ وَاَسْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَارًا، فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا، يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا، وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًا، مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًا، وَقَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا، اَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللّٰهُ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا، وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا، وَاللّٰهُ اَنْۢبَتَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ نَبَاتًا، ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَيُخْرِجُكُمْ اِخْرَاجًا، وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ بِسَاطًا، لِّتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا

“Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam (5) tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran) (6) Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri (7) Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan (8) Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam (9) maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun (10) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu (11) dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (12) Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? (13) Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian) (14) Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? (15) Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? (16) Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur) (17) kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti (18) Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (19) agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas.” (20)

Pengaduan Nuh Kepada Allah Tentang Tanggapan Kaumnya

Allah Subhanallahu wa ta’ala mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, Nuh ‘Alaihi Sallam bahwa dia mengadukan sikap kaumnya kepada Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla. Allah pun menerangkan kesabarannya dalam menghadapi mereka dalam rentang waktu yang panjang, yaitu selama 950 tahun.Nuh ‘Alaihi Sallam telah menjelaskan dan menerangkan risalah-Nya kepada mereka serta mengajak mereka agar kembali ke jalan yang lurus.

Nuh berkata, { رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًا } “Ya Rabb-ku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,” yakni, saya senantiasa berdakwah kepada mereka siang dan malam demi menjalankan dan menaati perintah-Mu. { فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْٓ اِلَّا فِرَارًا} “Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” Setiap kali saya mengajak mereka untuk mendekati kebenaran, mereka justru berlari dan menjauh darinya.

Nuh berkata, { وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ} setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya),” yakni mereka menutup telinga mereka tidak mendengarkan ajakanku kepada mereka.

Ayat di atas sebagaimana yang Allah jelaskan tentang sifat-sifat orang-orang kafir Quraisy dalam firman-Nya, { وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ} “Dan orang-orang yang kafir berkata: Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur-an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS. Fushshilat: 26)

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ} “Dan menutupkan bajunya (ke mukanya). “Ibnu Jarir berkata dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, “(Yakni) mereka mengubah penampilan mereka agar Nuh tidak mengenalinya.” Sa’id bin Jubair dan as-Suddi berkata, “(Yakni) mereka menutup kepala mereka agar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Nuh kepada mereka.”

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, { وَاَصَرُّوْا} “Dan mereka tetap (mengingkari),” yakni mereka tetap memegang apa yang nya, yaitu kesyirikan dan kekufuran. { وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا } “Dan menyombongkan diri dengan sangat,”yakni enggan mengikuti kebenaran dan tunduk kepadanya.

Nuh berkata, { ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا} “Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, yakni di hadapan orang banyak. { ثُمَّ اِنِّيْٓ اَعْلَنْتُ لَهُمْ } “Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan,” yaknı berbicara dengan nada yang tinggi. { وَاَسْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَارًاۙ} “Dan dengan diam-diam,”yakni khusus di antara diriku dengan mereka. Nuh pun menggunakan berbagai macam cara dakwah agar lebih berkesan di hati mereka.

Seruan Nuh Kepada Kaumnya Pada Saat Dia Mengajak Mereka Kepada Allah

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, { فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا} “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,”yakni kembalilah kepada-Nya dan akuilah kesalahan kalian dengan segera bertaubat kepada-Nya. Barangsiapa bertaubat kepada-Nya maka Dia akan menerimanya, sebesar apa pun dosa-dosanya, dan walaupun dosa itu adalah keku- furan dan kesyirikan.

Oleh karena itu Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, kepada mereka: Mohonlah ampunlah kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,” yakni hujan terus-menerus.

Oleh karena itu dianjurkan membaca surat ini dalam shalat Istisqaa’, sebagaimana yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin “Umar bin al-Khaththab ketika dia naik mimbar untuk meminta hujan. Ketika itu ‘Umar hanya beristighfar dan membaca al-Qur-an tentang istighfar, di antaranya adalah kedua ayat ini. Setelah itu dia berkata, “Saya telah meminta hujan dengan majaadiihus samaa [Majadih adalah jamak dari majdah, salah satu jenis bintang yang menurut bangsa Arab merupakan bintang yang jika muncul pertanda hujan akan turun. Maksud ‘Umar -wallaahu a’lam- jika kalian beranggapan bahwa munculnya bintang ini sebagai pertanda dekatnya hujan, maka (berbeda dengan kalian), aku meyakini bahwa istighfarlah yang merupakan kunci pembuka hujan. Adanya istighfar menunjukkan dekatnya hujan. (Tafsir al-Khaazin, VII/154) Adapun as-samaa’ adalah langit. Jadi yang ia maksudkan dengan majaadiihus samaa’ adalah istighfar. ‘Umar tidak memohon hujan secara langsung, akan tetapi ia hanya beristighfar. Ia beralasan karena berdasarkan ayat ini, jika manusia beristighfar, niscaya Allah akan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan] yang dengannya diharapkan hujan bakal turun.”

Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya mengatakan bahwa maksud dari {مِّدْرَارًا} “Yang lebat” adalah hujan yang sebagian darinya mengikuti sebagian yang lain (susul menyusul).” membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai,” yakni jika kalian bertaubat kepada-Nya, beristighfar dan menaati-Nya niscaya Dia akan melimpahkan rizki, mengucurkan barakah langit kepada kalian, menumbuhkan barakah bumi untuk kalian, menumbuhkan tanaman-tanaman, menjadikan air susu mengalir deras bagi kalian, memberi kalian harta benda dan keturunan, menumbuhkan kebun-kebun berbagai macam buah-buahan, dan menjadikan sungai-sungai yang mengalir di antara kebun-kebun itu. Ini adalah dakwah dengan metode anjuran.

Kemudian Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam berdakwah kepada mereka dengan metode ancaman seraya berkata, {مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًا} “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” yakni keagungan-Nya, demikianlah pendapat Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Mujahid dan adh-Dhahhak.

Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma berkata, “Maksudnya, mengapa kalian tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang nya?” Yakni, mengapa kalian tidak takut kepada adzab dan balasan-Nya?.”

Firman-Nya, {وَقَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا} “Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian,” yakni dari air mani, kemudian segumpal darah, dan kemudian segumpal daging. Demikianlah pendapat Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, Ikrimah, Qatadah, Yahya bin Rafi’, as-Suddi dan Ibnu Zaid.

Firman-Nya, {اَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللّٰهُ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا} “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” Yakni bertumpuk-tumpuk, yang satu di atas yang lainnya.

[Para ulama berbeda pendapat], apakah perkara ini (bertingkat- tingkatnya langit) hanya diambil dari sisi dalil sam’i saja (diketahui dari dalil diketahui pula dengan indera, seperti proses perjalanan benda-benda langit dan gerhana? [Maksudnya fenomena dari benda-benda langit ini menurut sebagian ulama menunjukkan bahwa langit itu bertingkat-tingkat].

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang jelas Allah yang kita dengar), ataukah termasuk perkara yang dapat “Allah telah menciptakan tujub langit bertingkat-tingkat. Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”

Dari ayat di atas diketahui bahwa Allah Subhanallahu wa ta’ala membedakan sifat cahaya bulan dengan cahaya matahari. [Matahari diibaratkan Allah seperti pelita, yakni memiliki sumber cahaya berupa nyala api. Sedangkan bulan hanya Allah sifati dengan bercahaya saja. Ini menunjukkan bahwa cahaya bulan hanyalah pantulan dari cahaya matahari]. Allah Subhanallahu wa ta’ala menjadikan masing-masing memiliki tanda tersendiri, agar siang dan malam diketahui dengan terbit dan terbenamnya matahari.

Allah Subhanallahu wa ta’ala menetapkan posisi edar Bulan dan membedakan pencahayaannya. Terkadang cahayanya bertambah hingga sempurna (purnama), dan terkadang habis hingga tertutup untuk menandakan berlalunya bulan. Setelah 12 bulan, maka diketahui bahwa satu tahun telah berlalu. Ayat ini sebagaimana firman-Nya,

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. “
(QS. Yunus: 5)

Firman-Nya, {وَاللّٰهُ اَنْۢبَتَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ نَبَاتًا} “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya.”Lafazh نَبَاتًا adalah isim mashdar dan penggunaannya di sini adalah lebih baik. {ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا} “Ke mudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah,”yakni jika kalian mati. {وَيُخْرِجُكُمْ اِخْرَاجًا} “Dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari Kiamat) dengan sebenar-benarnya. “Yakni, pada hari Kiamat Dia akan mengembalikan kalian sebagaimana Dia menciptakan kalian pertama kali.

Firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, {وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ بِسَاطًا} “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,” yakni Dia menghamparkan, meratakan dan menguatkannya dengan gunung-gunung menjulang yang kuat lagi kokoh. {لِّتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا} “Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.” Yakni, Allah Subhanallahu wa ta’ala menciptakannya untuk kalian agar kalian tinggal dan berjalanm di atasnya ke manapun yang kalian inginkan.

Semua ini adalah peringatan yang disampaikan oleh Nuh ‘Alaihi Sallam kepada kaumnya. la memperingatkan kaumnya atas kekuasaan Allah dan keagungan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi. Ia pun menyebutkan nikmat-nikmat-Nya atas mereka dalam bentuk manfaat-manfaat dan Pemberi rizki yang telah menjadikan langit sebagai bangunan (yang kokoh), serta menjadikan bumi sebagai hamparan, dan Dia- lah yang. ada di langit dan di bumi, Dia-lah Sang pencipta yang melapangkan rizki bagi para makhluk-Nya. Maka Dia-lah Yang berhak diibadahi dan diesakan, tidak disekutukan dengan sesuatu apapun, karena Dia Subhanallahu wa ta’ala tidak memiliki tandingan, padanan, saingan, sekutu, pasangan, keturunan, pembantu atau penasehat. Akan tetapi, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.

 

 

 

 

Disalin ulang dari:  Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini:

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker