Sujud Syahwi

Sujud Syahwi

Bagi seseorang yang lupa dalam shalatnya, sehingga ia menambah jumlah rakaatnya, atau sujudnya, atau yang lainya, maka ia wajib melakukan sujud (sahwi) sebagai penambal kekurangan dalam shalatnya, yang dia lakukan sebanyak dua kali setelah shalatnya sempurna,kemudian setelah itu ia salam. Begitu juga bagi seseorang yang meninggalkan suatu sunnah mu’akkadah dalam shalatnya, maka ia wajib melaksanakan sujud sebelum salam, juga bagi seseorang yang meninggalkan tasyahhud pada pertengahan shalat (tasyahhud awal), dan ia tidak ingat sama sekali, atau ingatnya setelah ia berdiri, maka ia tidak perlu melakukan tasyahhud tetapi sebagai gantinya ia wajib melakukan sujud sebelum mengucapkan salam. Juga bagi seseorang yang mengucapkan salam padahal shalatnya belum selesai, maka ia wajib melanjutkan dan menyempurnakan shalatnya, dan setelah itu ia melakukan sujud setelah salam

Dasar hukum tentang sujud sahwi adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam serta perbuatannya, dimana beliau pernah melakukan salam padahal shalat baru dua rakaat,kemudian beliau diberi tahu tentang hal tersebut, maka beliau pun segera melanjutkan dan meyempurnakan shalatnya, lalu beliau melakukan sujud setelah salam. (Diriwayatkan at-Tirmidzi)

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pernah berdiri pada rakaat kedua tanpa tasyahhud  lebih dahulu, lalu beliau melakukan sujud sebelum salam, seraya sabda,

Jika salah seorang diantara kamu ragu dalam shalatnya dan ia tidak mengetahui apakah shalatnya itu baru tiga rakaat atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keragu-raguanya dan berpegang pada jumlah rakaay yang diyakininya, kemudian ia melakukan sujud dua kali sebelum salam. Jika ia telah melakukan rakaat shalat sebanyak lima rakaat, sujud tersebut menggenapkan rakaat shalatnya, dan jika ia telah melakukan (rakaat) shalat untuk menyempurnakan rakaat keempat sebanya empat rakaat, maka kedua sujud tersebut untuk membuat marah setan.” (Muttafaq ‘alaih; Muslim,no. 571)

Adapun bagi seorang makmum yang lupa di belakang imam maka ia tidak wajib melakukan sujud sahwi menurut mayoritas ulama, kecuali imamnya yang lupa, maka ia wajib melakukan sujud bersamanya, karena ia wajib mengikuti imam, dank arena adanya hubungan diantara shalatnya dengan shalat imamnya. Para sahabat juaga pernah melakukan sujud sahwi bersama Nabi shalallahu alaihi wa salam dimana saat beliau lupa maka beliau akan melakukan sujud. (Hadist ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi,no.365 berkenaan dnegan shalat Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dimana pada rakaat kedua beliau langsung berdiri, tanpa duduk terlebih dahulu (untuk tasyahhud ), seraya berkata, “Setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menyelesaikan shalatnya maka beliau melakukan sujud dua kali kemudian beliau salam dan para sahabat pun melaksanakan sujud bersama beliau , karena beliau lupa melakukan duduk.” Meskipun riwayat ini memiliki cacat, akan tetapi mayoritas ulama mengamalkanya. Kemudian berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dalam sebuah hadits shahih (al-Bukhari,no.722)

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

Janganlah kamu melakukan tindakan yang bertentangan dengan perbuatan imammu”
(Diriwayatkan oleh Muslim, no.570.)

 

 

Disalin Ulang dari ; Kitab Minhajul Muslim Syaikh Abu Bakar Jabir Al jajairi Edisi Indonesia, Cetakan XXIII, J. Ula 1440 H/2019 M, Darul Haq, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: