Urwah Bin Zubair _ Wasiat Beliau Kepada Putra-Putrinya Dan Seluruh Kaum Muslimin

Wasiat Beliau Kepada Putra-Putrinya Dan Seluruh Kaum Muslimin

Urwah Bin Zubair (Bagian 4)

Urwah bin Zubair menjadi menara hidayah bagi kaum muslimin. Menjadi petunjuk jalan kemenangan dan menjadi da’I selama hidupnya. Perhatian beliau yang paling besar adalah mendidik anak-anaknya secara khusus dan generasi Islam secara umum. Beliau tidak suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memberikan petunjuk dan selalu mencurahkan nasihat demi kebaikan mereka.

Tak bosan-bosannya beliau memberika motivasi kepada para putranya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku tuntutlah ilmu dan curahkan tenagamu untuknya. Karena, kalaupun hali ini kalian menjadi kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu tersebut Allah akan menjadikan kalian pembesar kaum.” Lalu beliau melanjutkan, “Sungguh menyedihkan, adakah dunia ini yang lebih buruk dari orang tua yang bodoh?”

*****

Beliau menganjurkan pula kepada mereka untuk memperbanyak sedekah, sedangkan sedekah adalah hadiah yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan apa yang kalian merasa malu menghadiahkannya kepada para pemimpin kalian, sebab Allah Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan.”

Beliau senantiasa mengajak orang-orang untuk memandang sesuatu masalah dari sisi hakikatnya. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun pada pandangan banyak orang dia adalah orang jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada sesorang perbuatan jahat, maka hati-hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah orang yang baik. Sebab setiap perbuatan ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menyebabkan timbulnya kejahatan berikutnya.”

*****

Beliau juga mewasiatkan agar berlemah lembut, bertutur kata baik dan berwajah ramah. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, tertulis di dalam hikmah. “Jadikanlah tutur katamu indah dan wajahmu penuh senyum, sebab hal itu lebih disukai daripada suatu pemberian.”

Jika beliau melihat seorang condong kepada kemewahan dan mengutamakan kenikmatan, diingatkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasalam selalu membiasakan diri untuk hidup sederhana.

Sebagai contoh adalah kisah yang di ceritakan oleh Muhammad bin al-Munkadir, ”Aku bertemu dengan Urwah bin Zubair. Dia menggandeng tanganku sambil berkata, “Wahai Abu Abdillah.” Aku menjawab, “Labbaik.”

Urwah berkata, “Aku pernah menjumpai ibuku Aisyah Radhyiallahu ‘anha , lalu beliau berkata, “Wahai anakku, Demi Allah, ada kalanya selama 40 hari tidak ada api menyala di rumah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam untuk lampu ataupun memasak.” Maka aku bertanya, “Bagaimana Anda berdua hidup pada saat itu?” Beliau menjawab, “Dengan korma dan air.”

Urwah hidup hingga usia 71 tahun. Hidupnya penuh dengan kebajikan, kebaktian dan diliputi ketakwaan. Ketika dirasa ajalnya sudah dekat dan dia dalam keadaan shaum, keluarganya mendesak agar beliau mau makan, tapi beliau menolak keras karena ingin berbuka disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau ingin berbuka dengan minuman dari telaga al-Kautsar yang dituangkan dalam gelas-gelas perak oleh para bidadari cantik di surga.

 

Sumber: Buku Mereka adalah Para Tabi’in, Kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan XVIII, 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: