Atha Bin Abi Rabah _ Tak butuh akan dunia

Tak butuh akan dunia

Atha Bin Abi Rabah (Bagian 4)

Sungguh, gemerlapnya dunia telah merayu Atha’ bin Abi Rabah namun beliau berpaling dan menampiknya dengan serius. Sepanjang hayat beliau hanya mengenakan baju yang harganya tidak lebih dari 5 dirham saja.

Para khalifah telah meminta kesediaan beliau untuk menjadi pendamping mereka, namun beliau tidak mengabulkannya. Karena beliau takut agamanya ternoda oleh dunianya. Namun demikian, terkadang beliau mengunjungi khalifah jika beliau merasa hal itu dapat mendatangkan manfaat bagi kamu muslimin maupun kebaikan bagi islam.

Seperti dalam peristiwa yang dikisahkan oleh Utsman bin Atha’ Al-Khurasini:

“Aku pergi bersama ayah untuk menghadap Hisyam bin Abdul Malik, Tatkala perjalanan kami telah dekat dengan Hamsyik, tiba-tiba kami bertemu dengan orang tua yang menunggangi himar hitam, mengenakan baju lusuh dan jubah yang telah using, penutup kepala yang telah kusut melekat pula di kepalanya. Pelana yang dipakainya terbuat dari kayu murahan, aku tertawa geli karenanya. Lalu aku bertanya kepada ayah, “Siapakah orang ini?” Ayah berkata, “Diam kamu, ia adalah penghulu para ahli fikih di Hijaz Atha’ bin Abi Rabah.” Ketika telah dekat dengan jarak kami dengannya, ayah bergegas turun di bighalnya sedangkan Atha’ turun dari himarnya. Keduanya saling berpelukan dan saling menanyakan kabarnya, kemudian keduanya kembali dan menaiki kendaraannya. Mereka berjalan hingga berhenti di depan pintu istana Hisyam bin Abdul Malik. Keduanya diminta duduk menunggu hingga mendapatkan izin masuk.

Setelah ayah keluar aku berkata padanya, “Ceritakanlah apa yang Anda lakukan berdua di dalam istana?” Beliau berkata, “Tatkala Hisyam mengetahui Atha’ bin Abi Rabah berada di depan pintu, maka beliau bersegera menyambut dan mempersilahkan kami masuk. Demi Allah saya tidak akan bisa masuk melainkan Atha’. Demi melihat Atha’ Hisyam berkata, “Marhaban! Marhaban! Silakan..silakan.. beliau terus menyambut, “Silakan..silakan..!” hingga Hisyam mendudukkan Atha’ di atas kasurnya dan menempelkan lututnya ke lutut Atha’. Ketika itu majelis di hadiri oleh para bangsawan, tadinya mereka bercakap-cakap namun seketika mereka menjadi diam.

Kemudian Hisyam mengahadap Atha’ dan terjadilah dialog antara keduanya:

Hisyam  : “Apa keperluan Anda wahai Abu Muhammad?”

Atha’     : “Wahai amirul mukminin, penduduk Haramain, keluarga Allah dan tetangga Rasulullah,  hendaknya mendapatkan pembagian rezeki dan pemberian.”

Hisyam  : “Baik. . . Wahai penulis, tulis bagi penduduk Makkah dan Madinah untuk  menerima bantuan selama satu tahun.” (Lalu Hisyam bertanya lagi kepada Atha’) “Masih adakah keperluan yang lain wahai Abu Muhammad?”

Atha’    : “Benar, wahai amirul mukminin, penduduk Hijaz dan penduduk Najd, asal mula   Arab dan tempat para pemimpin Islam, janganlah diambil kelebihan sedekah  mereka..”

Hisyam  : “Baik. . . ! wahai penulis, tulis agar kita menolak penyerahan kelebihan sedekah  mereka.” Masih adakah keperluan yang lain wahai Abu Muhammad?”                      

Atha’     : “Benar, wahai amirul mukminin ahluts tsugur (yang ribath fii sabilillah  perbatasan)mereka berdiri menjaga dari musuh, mereka membunuh siapapun yang menimpakan keburukan kepada kamu muslimin, hendaknya dikirim rezeki kepada mereka. Karena jika mereka terbunuh niscaya akan lenyaplah perdamaian.”

Hisyam  : “Baiklah! Wahai penulis, tulislah agar kita mengirim makanan kepada mereka.” Masih adakah keperluan lainnya wahai Abu Muhammad?”

Atha’   : “Benar wahai amirul mukminin, ahli dzimmah, janganlah dibebani dengan apa-apa yang tidak mereka sanggupi, Karena ketundukkan mereka adalah kekuatan bagi kalian untuk mengalahkan musuh kalian.”

Hisyam  : (Berkata kepada penulisnya) “Wahai penulis tulislah bagi ahli dzimmah agar mereka tidak dibebani dengan apa-apa yang tidak mereka sanggupi.” Masih adakah keperluan yang lain wahai Abu Muhammad?”

Atha       : “Benar.. bertakwlaah kepada Allah atas dirimu wahai amirul mukminin. Ketahuilah bahwa engkau diciptakan seorang diri, engkau pun akan mati seorang diri, dikumpulkan di mahsyar seorang diri, dihisab seorang diri, dan demi Allah engaku tidak melihat apapun..!”

Hisyam menundukkan kepalanya sambil menangis, lalu berdirilah Atha’ dan aku pun berdiri bersama beliau. Namun, ketika beliau melewati pintu tiba-tiba ada seseorang membuntuti  beliau sambil membawa bejana yang aku tidak mengetahui apa isinya sambil mengatakan: “Sesungguhnya amirul mukminin menyuruhku untuk menyerahkan ini kepada Anda!” Atha’ Tidak! Lalu beliau membaca ayat:

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ,  إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb Semesta Alam”(QS. Asy-Syu’ara : 109).

Demi Allah, beliau masuk ke Istana khalifah dan keluar dari sisinya sementara beliau sama sekali tidak meminum seteguk air pun.

Pada gilirannya, Atha’ bin Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga mencapai 100 tahun, beliau penuhi umurnya dengan ilmu dan amal. Beliau isi dengan kebaikan dan takwa, menyucikan dirinya dengan zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, dan mengharap apa yang di sisi Allah.

Begitu ajal menjemput, alangkah ringan beban dunia di pundaknya. Karena kebanyakan bekalnya adalah amal untuk akhirat. Ia bawa pahala 70 kali haji dan 70 kali wukuf di Arafah. Beliau memohon kepada Allah Ta’ala keridhaan dan Surga-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari kemurkaan-Nya dan siksa neraka.

 

Sumber: Buku Mereka adalah Para Tabi’in, Kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan XVIII, 2016

Oleh : Ahmad Fauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: