Atha Bin Abi Rabah _ Takan ada yang terlewatkan

Takan ada yang terlewatkan

Atha Bin Abi Rabah (Bagian 2)

Muhammad bin Suuqah menceritakan kepada jama’ah yang mengunjungi beliau, “Maukah aku ceritakan pada kalian sesuatu yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kalian sebagaiman kami telah mendapat manfaat karenanya?”  Mereka berkata, “Mau.” Beliau berkata, “Suatu hari ‘Atha bin Abi Rabah menasihatiku, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita (yakni para sahabat-sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam) tidak menyukai banyak bicara.“ Lalu aku katakan, “Apa yang dianggap banyak bicara menurut mereka?” beliau menjawab, “Mereka menganggap bahwa setiap ucapan termasuk berlebih-lebihan melainkan dalam rangka membaca Al-Kitab dan memahaminya, atau membaca hadits Rasulullah Sholallahu ‘Alahi wasallam yang diriwayatkan dan harus diketahui, atau memerintahkan yang Ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau berbicara tentang ilmu yang dengannya menjadi sarana taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau engkau membicarakan tentang kebutuhan dan pekerjaan yang memang harus dibicarakan.” Lalu beliau memperhatikan raut wajahku seraya berkata, “Apakah kalian mengingkari firman Allah Ta’ala:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ 

“Padahal sesungguhnya kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (disisi Allah) dan yang  mencatat pekerjaan-pekerjaanmu itu).“ (QS. Al-Infithar: 10-11).

Dan bahwa masing-masing dari kalian disertai oleh dua malaikat:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ  مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ 

(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 17-18).

            Kemudian beliau berkata, “Tidaklah salah seorang di antara kita merasa malu manakal dibukakan lembaran catatan amalan yang dikerjakan sepanjang siang, lalu dia mendapatkan yang didalamnya sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan urusan agama maupun kepentingan dunianya?”

 

Sumber: Buku Mereka adalah Para Tabi’in, Kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan XVIII, 2016

Oleh : Ahmad Fauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: